didalam dunia FOrex atau Foreign Exchange ada beberapa istilah yang membingungkan, karena akhir akhir ini, saya sedang sangat tertarik banget untuk belajar forex, maka jadilah saya googling sana sini untuk memahaminya, sebagai pembelajaran saya menggunakan virtual akun marketiva, mungkin kalau dah profesional akan coba pakai fxpro or something... dilansir dari http://www.tradingcurrencyonline.com/mechanics_of_forex.html dalam dunia forex, sebelum kamu memasuki pasar, kamu harus bisa menentukan apakah ingin menjadi Bull atau Bear? bingung dengan istilah tersebut? disitus tersebut dijelaskan: BULL : kamu berpandangan bahwa harga akan NAIK BEAR: kamu berpandangan bahwa harga akan TURUN Oke sebagai contoh, kita akan memasuki pasar dengan berpandangan BULL. Karena kita berpandangan BULL , pada kasus ini EUR/USD, kita berharap harganya akan menjulang tinggi sehingga target kita adalah membeli pada saat harga rendah dan menunggu sampai harganya naik mencapai titik tertentu sehingga kita bisa menjualnya untuk mendapatkan untung. Harapannya demikian. Ketika kita melakukan posisi BULL, bisa juga dikatakan melakukan posisi LONG pada mata uang EUR/USD. Kita akan membeli EURO dan menjual US Dolor, ketika kamu membeli suatu mata uang maka pada waktu bersamaan kamu juga menjual mata uang yang sebaliknya. Dan vise versa. Ingat ketika EURO menguat, maka Dolor akan melemah, sehingga apabila kita ingin berlibur ke eropa harganya tambah mahal. So anyway we have decided to become a Bull and take a "long" position in this EUR/USD trade, let's check it out... # 1 – Price has broken through the down trend line so we decide that there is a high probability that the price is going to continue up. More on trend lines in later articles. #2 – We place a buy order with our broker which is automatically executed through our trade station. We enter the market at $1.1950 Because we are buying the EUR/USD pair, we are actually buying Euros and selling dollars because we believe the Euro is going to appreciate in relation to the dollar. #3 – The Stop-Loss A stop loss is a buy or sell order set at a predetermined location that acts as a safety net limiting your risk in case the price does not go the way you expect it to. There are many different methods for determining how and where to place the stop loss, but if there was ever one rule you should live by when trading, it would be… NEVER EVER trade without a stop loss order in place. One method for determining the location of a stop loss when buying is to place it under the last low which is the method used in this example. So we enter the market at 1.1950 and place a stop loss order at 1.1700. This means we have determined that 250 pips ( 1950 minus 1700 ) is an acceptable risk on this trade. If you are trading a FOREX mini account 250 pips (Price Interest Points) would be $250.00. If the price does not go up, but instead goes down, when it hits your stop loss order it is automatically executed and you are taken out of the market at your predetermined loss. Of course you could lessen your risk and place your stop loss only 50 pips or even 30 pips or less below your entry price. But as we will see in later articles, price usually does not go straight up or down but instead it waves up and down so if you place your stop to close to your entry point and the price waves back down a little before continuing up, it could hit your stop loss if it is set to close and take you out of the market at a loss just before price continues in your anticipated direction. # 4 - It is often said that exiting the trade is harder than entering. Think about it, you are in a profitable trade and the question now is where do you get out? What if price turns around and starts to go against you? How much of your profits are you willing to give up before you exit? What if you panic too soon and exit just as the price turns your way again and climbs 80 more pips? There are many methods to determine when you should exit, in our simple example we will connect the price lows with a line creating a up trend line. Once price starts to trend, which will be discussed in later articles, it usually continues in that direction for some time. When the price completely breaks through a trend line, the chance of a reversal is high so that is usually considered a good time to get out of the market. The trend is no longer our friend but has come to an end so it's time to bail out. In this case we exited at 1.2650 #5 – We can see from the TIME scale at the bottom of the chart that this trade lasted 30 trading days. A trade that lasts this long is called a POSITION trade. While we are on the subject, the different popular types of trades are: Which type of trader you are will depend on your personality, style, objectives, etc. So let's look at our trade... Entered the market at 1.1950 on a trend line break – we bought Euros Exited the market at 1.2650 on a trend line break – we sold the Euros which increased in value 7 cents Total pips = 700 On a mini account that would be a profit of $700.00 On a full size account that would be a profit of $7000.00 That is a simple example of how you make money going "long" or by being a "bull." The next page will give an example of a "bear" trade or going "short."
Mekanisme Forex
My future agenda
Halo halo, sudah sekian lama tidak menulis blog, terakhir memposting sebuah kompilasi cerita dari kgforum yang panjangnya hampir melebihi panjang koteka kebanyakan orang irian *ha? Oke back to topic. Jadi ceritanya aku udah bisa dikatakan kerja, tapi perasaannya tidak seperti kerja, ah entah seperti apa,.....tidak nyambung. Oke setiap manusia *kebanyakan* yang sukses selalu mempunyai agenda yang jelas dalam hidupnya, selalu mempertimbangkan sesuatu matang matang, bersiap membuat berbagai macam rencana beserta cara penanggulangannya apabila rencana tersebut gagal. Nah kemudian diriku ini tersadarkan oleh sebuah pembicaraan berikut ini: Cah ganteng *gue* : wah sekarang jalan depan rumah sudah dicor cah? Seorang manusia : iya, emang sudah gue agendakan sejak dulu, gue udah punya rencana jalan harus diutamakan terlebih dahulu. Cah ganteng : iya, bener tu, tapi gimana kabar pak menteri, sama pak bupati jepara tercinta ya? Jalan di cepogo kok sangat tidak layak untuk dilewati manusia, aduh jalan untuk sapi ini mah, tapi gapapa jalan depan rumahmu sudah dikau cor jadi tiap kali mau belok gak harus njagan lagi.... hihii Seorang manusia : gue paling suka saat nuruninnya, serasa linyir banget, ya gue harap dengan jalan yang linyir jadi linyir juga rejeki gue... Cah ganteng : amin, katanya elo tadi punya agenda? Yang pertama kan ngecor jalan depan rumah? Terus selanjutnya? Seorang manusia : setelah itu buat banner untuk konter, trus bikin rental komputer dan semoga lancar, terus elo, apa rencana kedepan elo? Cah ganteng : gue? Apa ya? Mau kuliah, selain jaraknya terlalu jauh juga duid dah habis duluan, sumber penghasilan tambahan juga dah mampet karena ga ada waktu buat mancing, aduh setresss.... ....... Setresssss (season2) ....... Setressssss (season rambutan) ........ Etc. Oke dari pembicaraan tadi diketahui bahwa, ada seseorang manusia yang mempunyai tampang rupawan yang ternyata sedang galau karena tidak mempunyai rencana bagus kedepan. So... what should I do next? Setelah bertapa selama beberapa ratus atau bahkan ribu.....milidetik, akhirnya gue dapet ilham. Inilah ilham yang gue dapet. Agenda gue adalah: *digampar*..... Oke serius ini adalah beberapa rencana kedepan gue: Dan tamatlah postingan ini.
Kisah Perguruan KG Forex World
Yang pertama bernama Siska, nama panjangnya Siskamling. Dia adalah gadis yang pintar, tapi karena masalah biaya akhirnya dia hanya bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran kecil (warung lotek), dengan gaji yang sangat kecil.
Kemudian ada dua orang bersaudara dari keturunan tiong hoa. Yang pertama bernama Gas, nama panjangnya Gas Pol Kan. Dia sangat permberani, sombong, dan tidak mudah percaya. Awalnya dia bekerja sebagai racer, atau pembalap. Namun naas, karena saking beraninya dia justru dikeluarkan dari tim balapnya. Sponsor yang membiayainya pun enggan menyeponsorinya lagi. Kenapa bisa begitu? karena saking beraninya dia, sampe-sampe ditikungan pun dia tidak pernah mengurangi kecepatan. Dan sudah bisa ditebak bagaimana hasil dari setiap race yang dia ikuti.
Tapi setelah dipecat dari racer team, dia tidak menyerah. Hobbynya terhadap kendaraan, terutama motor, membuat dia menemukan satu pekerjaan baru. Ya...tukang parkir...
Lalu adiknya bernama Tum, nama panjangnya Tum Pah Kan. Dia terpaut dua tahun lebih muda dari kakaknya, tapi sifatnya jauh berbeda. Adiknya ini cenderung penakut dan ragu, polos dan mudah percaya.
Yang keempat ada seorang pemuda yang dari dulu hidup sebagai orang kurang mampu. Panggilannya Ian, nama lengkapnya Kasian. Secara pendidikan formal dia berpendidikan rendah, SD saja tidak lulus. Tapi dia senang mengamati dan merenung, bukan mengamati tentang kehidupan atau merenung tentang kebesaran Tuhan. Tapi mengamati orang yang lalu lalang di hadapannya dan merenung kenapa tidak seorang pun memberinya recehan. Ya...dia bekerja sebagai pengemis...
Dan yang terakhir adalah gadis yang berasal dari keluarga kaya. Namanya Dian, nama lengkapnya Diantemi. Tapi akhirnya perusahaan ayahnya bangkrut, dan Ibunya pergi meninggalkannya. Dia yang awalnya glamour dan suka berfoya-foya.
Kini menjadi orang yang selalu menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain...
Mereka terus berusaha meraih mimpi untuk bisa mendapatkan kehidupan yang layak, yang paling tidak cukup untuk makan sehari-hari.
Mereka berkelana, menelusuri lorong-lorong yang kelam, menapaki jalan yang penuh kerikil ujian...mereka tidak putus asa...
Sampai-sampai mereka tertidur di pinggir jalan
. Basah kuyup karena hujan dan badai
. Dan tersungkur di sudut-sudut kota
.
Dalam masa-masa yang sulit tersebut, mereka terus berusaha menaruh harapan besar akan masa depan. Mereka terus melangkah, sampai akhirnya takdir menemukan mereka semua pada sebuah bisnis yang saat itu dikenal dengan sebutan Forex Trading.
Mereka sangat bersemangat untuk mencari info mengenai bisnis tersebut. Mulai dari bertanya pada orang lewat, sampai-sampai mereka menyisihkan uang hasil mengemis ataupun hasil parkir untuk sekedar mencari info mengenai forex trading di warnet.
Mereka mendapatkan banyak info mengenai apa yang mereka cari. Namun, hati mereka menjadi kecil karena dari info yang mereka dapatkan, mereka paling tidak harus punya seperangkat komputer dan sambungan internet untuk dapat berbisnis di forex.
Tapi mereka tidak kenal kata menyerah, mereka terus mencari cara bagaimana agar bisa memperbaiki kehidupan. Akhirnya mereka menemukan iklan-iklan seputar forex trading. Dari iklan tersebut, satu persatu dari mereka bertemu dengan orang-orang yang mengatakan sanggup melipat gandakan uang dalam waktu sekejap melalui forex trading.
Siskamling bertemu dengan Bos penjual Trading Sistem yang katanya mampu menghasilkan %1000 persen dalam sehari.
Sayang, dia tidak punya banyak uang untuk membeli trading sistem tersebut. Tapi penjual itu memberikan keringanan. Siskamling boleh berinvestasi padanya dan mendapatkan bagian dari hasil trading orang itu dengan satu sarat. Saratnya, Siskamling harus terus mengumpulkan uang bagaimanapun caranya dan mencari orang-orang yang mau membeli sistem tradingnya. Walau berat, dia mau melakukannya...
Gas Pol Kan dan Tum Pah Kan bertemu dengan penjual indikator yang katanya dengan indikator itu pasti profit. Wah, sapa yang ga mau??? Gas Pol Kan, tidak percaya begitu saja. Namun, atas bujukan adiknya, Tum Pah Kan, dia mau berusaha mengumpulkan uang dan memperluas area parkirnya untuk membeli indikator tersebut. Dia tidak hanya beroprasi di toko tempat dia parkir. Setelah toko tempat dia biasa parkir menjadi sepi, dia lalu berjalan mencari peluang parkiran. Ketika ada mobil yang berhenti, dimanapun itu, dia akan menunggu pemiliknya kembali ke mobilnya hingga mobilnya pergi dari tempat semula lalu kemudian dia meminta bayaran (inilah caranya memperluas area parkir). Saking semangatnya, dia terus mencari hingga sore menjelang. Dia kemudian menemukan mobil yang cukup bagus yang berada di pinggir jalan. Dia pikir mobil itu pasti milik orang kaya. Dia memutuskan untuk menunggu mobil itu dengan harapan upah parkirnya akan besar. Dia menunggu mulai dari sore hari...malam hari...hingga esok harinya. Namun, pemilik belum juga datang. Dia memutuskan untuk menunggu sebentar lagi. Tapi sayang, ternyata lima menit kemudian...mobil itu di derek oleh jasa yang bertugas dalam hal derek menderek. Gas Pol Kan menghampiri orang yang hendak menderek mobil itu dan bertanya,
Gas Pol Kan : "Maaf, ini pemilik mobilnya dimana ya?"
Petugas : "Oh...mana saya tahu Mas, saya cuma disuruh atasan saya mengambil mobil ini karena sejak kemaren siang mogok di sini. Pemilik itu sendiri yang menelpon perusahaan kami, tapi saya tidak tahu dia ada dimana sekarang. "
Gas Pol Kan : "Oh...
"
Dia kembali kerumahnya.
Setelah beberapa lama mengumpulkan uang, akhirnya terbeli juga indikator itu. Satu Flashdisk berisi indikator sudah berada di tangan mereka. Mereka senang bukan main...
Tapi mereka tidak sadar, mau dipake dimana indikator itu kalo komputer aja ga punya.
Setelah mereka sadar, mereka mencoba mengembalikan indikator tersebut kepada pemiliknya dengan harapan pemiliknya mau menerimanya kembali dan uang mereka akan dikembalikan. Mana ada yang mau barang yang sudah dibeli dikembalikan lagi?? Mereka justru dimarahi habis-habisan oleh pemilik indikator.
Gas Pol Kan dan Tum Pah Kan : "... ...
"
Pemilik : "Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan !!!
"
Gas Pol Kan dan Tum Pah Kan : "


Nasib yang sama juga dialami Kasian dan Diantemi. Mereka secara tidak sengaja bertemu dengan orang pintar yang menjanjikan bisa mengetahui secara pasti kemana harga akan bergerak dan sampai dimana batasnya.
Orang itu menjanjikan akan membantu mereka dengan gratis. Syaratnya, mereka harus mengumpulkan orang yang akan bertrading di bawah referralnya di sebuah broker sebanyak mungkin. Lalu para trader referral itu akan diberi instruksi untuk buy atau sell oleh Kasian dan Diantemi. Mereka berdua menjadi pengirim sinyal. Jika orang pintar itu bilang sell...maka mereka akan menginstruksikan sell, begitu juga sebaliknya.
Hasilnya...semua account dari para trader itu terkena Margin Call dalam waktu yang sangat singkat.
dan sudah bisa ditebak bagaimana nasib mereka berdua. Mereka dipukuli habis-habisan olah para trader yang merasa tertipu tadi...
Traders : "Hiyaaadezig...
buk buk, dezzig, gubrak...
"
Kasian dan Diantemi : "
"
Orang pintar itu pergi dengan membawa hasil dari referralnya yang dia tipu...

Mereka semua mengalami depressi yang begitu luar biasanya...
Siskamling : "...
"
Gas Pol Kan : "...
"
Tum Pah Kan : "...
"
Kasian : "...
"
Diantemi : "...
"
... ... ...
Sementara itu, di sebuah pegunungan kecil di arah barat. Hidup Seorang Pertapa Forex yang legendaris, dan istrinya. Karena keahliannya dalam mengikuti gelombang harga yang terjadi dalam forex trading, maka dia mendapat sebutan Waver
dan istrinya bernama Cici, nama panjangnya Pecicilan (Keturunan Jawa)
.
Rumah Waver :
Di pegunungan ini, Waver tetap bisa menjalankan aktifitas tradingnya karena dia telah mampu membuat Internet Service Provider sendiri. Sehingga meskipun berada di pegunungan, Waver tetap bisa memantau perkembangan yang ada di luar.
Ruang kerja Waver :
Melihat apa yang terjadi belakangan ini, Waver menjadi resah. Begitu banyaknya orang-orang yang memanfaatkan momen krisis global untuk menipu dan mengambil manfaat dari kelemahan orang lain. Terutama dari trading forex. Cici, istrinya, tahu bahwa suaminya sedang tidak enak pikiran. Lalu dia bertanya pada suaminya.
Cici : “Suamiku, aku lihat akhir-akhir ini Kau terlihat murung dan kurang bersemangat. Apa yang membuatmu begitu?”
Waver : “Huff…
istriku, sebenarnya aku sedih dan resah melihat apa yang terjadi akhir-akhir ini. Begitu banyaknya orang yang memanfaatkan ketidak berdayaan dan ketidak tahuan orang lain untuk kepentingan mereka sendiri. Terutama mereka yang menggembor-gemborkan trading system, indicator, atau apapun tentang forex trading. Akhirnya begitu banyaknya orang yang terjebak psikologisnya sehingga semakin terpuruk keadaannya…”
Cici : “Hm…iya memang. Kasihan mereka yang sudah tergiur dengan tawaran-tawaran manis bahwa forex trading itu bisa menghasilkan uang berkali-kali lipat dari modal dalam waktu sekejap. Lalu, apa yang kira-kira hendak Engkau lakukan suamiku?”
Waver : “Saya sendiri masih bingung…itu yang membuat saya sedikit murung akhir-akhir ini.”
Cici : “Sayang…tenangkanlah hatimu, tanyakan pada hatimu, apa yang sebenarnya ingin Engkau lakukan. Aku tahu Engkau pasti bisa memecahkan masalah ini…”
Waver : “Terimakasih istriku…aku tahu, aku tidak salah memilih wanita yang lembut hatinya seperti dirimu. Yang tahu bagaimana harus berdiri disampingku dalam keadaan apapun…”
Waver dan Cici : [Berpelukan]
Akhirnya Waver memutuskan untuk menenangkan diri. Dan mencari solusi terbaik dari keresahan hatinya.
Dalam alam bawah sadarnya, dia menemukan jawaban. Bahwa dia harus membantu orang-orang yang memang ingin menjalani trading forex, dengan segenap ilmu yang dia peroleh dari Zat Yang Maha Memiliki Ilmu. Keesokan harinya, Waver kembali bercerita kepada Cici, tentang keputusan yang akan dia ambil. Karena merasa sebagai kepala rumah tangga, sebagai imam bagi keluarganya, maka Waver harus bermusyawarah tentang apapun tindakan yang akan dia ambil kepada istrinya terlebih dahulu.
Waver : “Istriku, semalam ketika aku kembali merenung. Aku memutuskan untuk berbagi ilmu trading forex yang aku dapat ini, kepada mereka yang memang ingin menjalankan bisnis ini. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini?”
Cici : “Suamiku, jika itu yang engkau dapatkan dari ketenangan hatimu, maka jalankanlah tanpa keraguan. Aku, istrimu, akan selalu setia mendampingimu dalam suka maupun duka. Bantulah mereka yang membutuhkan agar mereka tidak tersesat di belantara forex trading ini. Aku yakin, ini yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk saat ini. Paling tidak sedikit membantu kehidupan yang semakin kacau.”
Waver : “Alhamdulillah…engkau memang benar-benar wanita impianku…”
Waver dan Cici : [Mendekat…
] censored ******* Khusus untuk yang sudah memiliki suami dan istri.
(Badan Sensor Cerita Indonesia mengatakan, “Harap perhatikan putra putri Anda
“ )
. Nama perguruan forexnya adalah KG Forex World. KG sendiri adalah singkatan dari KG = Kawula Gusti. Waver memberi nama demikian karena dia merasa banyak orang yang salah dalam menjalankan aktivitas tradingnya. Trading yang seharusnya menjadi sarana untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, malah dialihkan menjadi tujuan. Sehingga banyak yang lupa waktu, lupa keluarga, dll. Dengan diberi nama KG Forex World, Waver berharap murid-muridnya nanti akan sadar sepenuhnya bahwa forex trading ini hanya salah satu jalan untuk mencari rezeki di dunia (world). Dan para muridnya tidak salah dalam menanggapi forex trading ini.
Maraknya penipuan atas nama forex trading yang muncul akhir-akhir ini membuat niat baik Waver tidak terlalu mendapat respon yang baik oleh penduduk kota. Tapi berbeda dengan mereka berlima. Mendengar berita itu, entah mengapa hati mereka tergerak untuk mendatangi perguruan itu. Mereka merasa mendapat harapan baru dari niat tulus Waver untuk mengajarkan ilmunya.
Demi mencapai cita-cita, mereka semua bergegas menempuh perjalanan dari kota menuju pegunungan tempat Waver berada. Mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, tapi semangat mereka tetap membara.
Siskamling : “
… … “
Gas Pol Kan dan Tum Pah Kan : “
… … “
Kasian : “
… “
Diantemi : “
… “
Sementara itu, Waver telah siap di pegunungan menanti kedatangan orang-orang yang akan menempa ilmu forex trading bersamanya
Waver menunggu pagi hari…siang hari…sore hari…malam hari…hingga keesokan harinya, tapi karena jarak yang jauh dari kota ke pegunungan, calon muridnya belum sampai juga…
Waver : “
kayaknya ga ada yang tertarik untuk belajar forex trading bersamaku…”
Ditengah perjalanan…
Karena lelah, maka mereka berlima memutuskan untuk beristirahat di sebuah kedai minuman di tengah rute dari kota menuju pegunungan
Di kedai itulah mereka berlima bertemu secara tidak sengaja
, dan memutuskan untuk bersama-sama melanjutkan perjalanan.
. Setibanya di sana mereka disambut pintu gerbang besar yang berada di depan perguruan KG Forex World. Dibalik pintu besar itu terdapat tanah lapang yang cukup luas yang ditumbuhi rerumputan hijau. Diseberangnya terdapat rumah yang tidak terlalu besar, tapi tidak juga dikatakan kecil. Mereka masuk dan menuju rumah itu dengan hati berdebar-debar.
Sesampainya di depan pintu rumah itu, Gas Pol Kan memanggil salam kepada penghuni rumah.
Gas Pol Kan : “Kulonuwun…!!! Kulonuwun…!!! “
Kreeeek...pintu rumah itu terbuka, dan terlihat keluar seseorang yang tidak terlalu tua tapi tidak juga muda.
Gas Pol Kan : “Maaf, benarkah ini rumah pertapa forex yang bernama Waver Sang Pertapa Forex yang legendaris itu ?”
Waver : “Ya…benar…”
Kasian : “Kami berlima bermaksud menimba ilmu forex trading dari orang yang bernama Waver itu, bisakah kami bertemu dengannya…?”
Waver : “Bisa, saat ini kalian sedang berhadapan langsung dengan orang yang kalian cari…”
Calon Murid : “Maksudnya???”
Waver : “Orang yang kalian cari adalah saya sendiri, ya…saya adalah pertapa forex, Waver…
“
Kasian : “
akhirnya aku bertemu juga dengan Waver yang legendaris itu…”
Diantemi : “
, sebentar lagi aku akan kaya dan hidup bermewah-mewahan lagi !!!”
Siskamling : “
benarkah ini Waver Sang Pertapa Forex ???”
Tum Pah Kan : “
hah, Waver ?!”
Gas Pol Kan : [berbicara pada adiknya dan Kasian] “
hey, saya tidak yakin orang ini adalah pertapa forex yang legendaris itu…bisa saja dia itu pembantunya yang berpura-pura menjadi Waver, lalu memanfaatkan situasi ini untuk memperoleh keuntungan.”
Tum Pah Kan dan Kasian : “
???!!!”
KG : “… …
, apa yang kalian bicarakan???”
Siuuuuuuuuut dezzzigg…!#@*
Gas Pol Kan, Tum Pah Kan, Kasian : “
ampuuuuuuun Guru…!!!”
Diantemi : “
Guru, terimalah kami menjadi muridmu…”
Siskamling : “
iya Guru, kami mohon…kami benar-benar ingin mempelajari ilmu forex trading dari seorang pertapa forex yang legendaris.”
Kasian, Tum Pah Kan, dan Gas Pol Kan : [memohon sambil menahan sakit] “
ii…iya gu..gu..guru…terimalah kami, kami ingin merubah nasib kami…”
Waver : “
huff…kalian semua pasti berpikir forex trading ini adalah jalan cepat untuk menjadi kaya, iya kan?”
Calon Murid : [menjawab dengan nada takut dan serempak] “
i..iya Guru…aaa..apa kami salah?”
Waver :”Pergilah…aku bukan guru kalian, kalian tidak akan berhasil menjalankan forex trading ini jika itu yang ada di pikiran kalian semua…”
Setelah berkata dengan sedikit kesal, Waver lalu melangkah kembali ke dalam rumahnya. Namun, baru beberapa langkah, Kasian memanggilnya.
Kasian : “Tapi Guru…kami semua telah berusaha dengan susah payah untuk bisa sampai di perguruan ini. Apa Guru tidak kasihan pada kami yang telah jauh-jauh datang dari kota kesini?”
Siskamling : “Iya Guru, tolong jangan usir kami…”
Diantemi : “Apa Kau tidak kasihan pada kami, kami berlima adalah orang-orang yang terlantar yang tidak tahu bagaimana lagi harus menjalani hidup ini. Selama ini kami hidup dari belas kasihan orang lain…”
Waver : “Stop…jangan panggil aku Guru, aku bukan guru kalian…”
Gas Pol Kan : “Hey, kalau memang ada yang salah dalam tujuan kami menjalankan forex trading, beritahukan pada kami, jangan hanya pergi begitu saja..!!!”
Tum Pah Kan : “Kak…jangan begitu, nanti Guru jadi semakin marah…”
Waver menghentikan langkahnya dan berbalik.
Waver : “Baiklah, kalian ingin tahu apa yang membuat kalian tidak bisa aku terima menjadi murid ?”
Gas Pol Kan : “Iya…”
Waver : “Kalian tidak aku terima menjadi murid, karena kalian salah dalam memandang forex trading. Forex trading bukanlah jalan cepat untuk menjadi kaya seperti yang digembor-gemborkan di luar sana. Selama kalian beripikiran instan seperti itu, kalian tidak akan pernah mencapai kesuksesan dalam forex trading ini, dan akan percuma meskipun aku mengajari kalian beribu-ribu tahun lamanya. Sekarang pergilah, aku tidak bisa menerima kalian menjadi muridku…”
Kasian : “Tapi Gu…”
Gas Pol Kan : [memegang pundak Kasian] “Sudahlah…kita pergi saja…”
Tum Pah Kan : “Tapi Kak…”
Gas Pol Kan lalu melangkah menjauhi rumah pertapa forex. Tidak lama kemudian Adik dan keempat orang temannya mengikutinya dengan perasaan yang sangat kecewa. Dengan langkah yang berat mereka beranjak menjauhi rumah Waver. [musik sedih]
Waver masuk ke dalam rumahnya, dan di dalam rumahnya Pecicilan, Istrinya, telah berada di balik pintu lalu menghampirinya.
Cici : "Suamiku...apa itu tidak terlalu berlebihan...mereka semua telah datang..."
Belum selesai Pecicilan berbicara, Waver menghantikannya.
Waver : [mendekat lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir Cici] "Istriku, aku tahu apa yang akan Kau bicarakan...tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku hanya ingin merubah cara pandang mereka terlebih dahulu, dan melihat sejauh mana kemauan mereka."
Waver lalu berjalan mendekati jendela, dan diikuti Pecicilan di belakangnya.
Diantemi : “
hikz…sekarang apa yang harus kita lakukan…”
Kasian : “
Gas, apa kamu punya ide yang lebih baik daripada belajar forex di sini? “
Tum Pah Kan : “Iya Kak…kenapa tadi Kakak pergi ? kalau tadi kita terus membujuk pertapa forex itu mungkin dia mau menerima kita…”
Gas Pol Kan : “Sudahlah, Dia tidak akan menerima kita…kalian tahu kan apa yang dia bicarakan tadi ? kita tidak punya harapan…”
Siskamling : “
hikz…hikz…”
Karena tidak tahu harus kemana, akhirnya mereka berlima duduk di depan gerbang sambil terus berpikir apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Dalam benak mereka masing-masing, mereka membayangkan kalau-kalau mereka harus kembali ke kehidupan mereka yang dulu. Kehidupan yang untuk mencari sesuap nasi saja begitu susahnya. Ketika khayalan mereka semakin melambung mengenai hal-hal yang buruk, tiba-tiba Siskamling berteriak.
Siskamling : “Aha…aku punya ide…!!!
”
Sementara itu di dalam rumah pertapa forex. Waver mondar-mandir dari ruang keluarga, ke dapur. Dari dapur lalu ke kamar, dari kamar kembali lagi ke ruang keluarga. Begitu seterusnya. Istrinya yang sedang memasak di dapur menjadi heran, tapi tidak berani bertanya karena dia tahu suaminya sedang memikirkan sesuatu.
Terjadilah percakapan antara hati dan pikiran Waver.
Pikiran : “Nah lho…makanya, jangan kasar-kasar jadi orang. Sekarang menyesal kan?”
Hati : “Yah, itu kan demi kebaikan mereka juga…”
Pikiran : “Kebaikan apanya? Kalo mereka kembali terlantar gimana?”
Hati : “Itu berarti mereka tidak siap untuk menjadi orang besar. Untuk menjadi orang besar mereka harus bisa bangkit dari situasi ini, tidak lagi mengasihani diri sendiri terus menerus, tidak berfikir instan, dan sanggup melihat masa depan dengan penuh harapan.”
Di tengah pertempuran hati dan pikiran itu, Waver berteriak.
Waver : “Tidaaaaak…
”
Waver : “Apa yang dilakukan mereka berlima? Kenapa mereka lama sekali untuk menyadari maksudku? Kenapa mereka tidak merubah pola berpikir mereka dan kembali ke sini?”
Waver : “
atau jangan-jangan mereka benar-benar tidak tahu maksud dari perkataanku tadi, jangan-jangan mereka benar-benar pergi dan tidak mau lagi belajar di perguruan ini…
”
Di depan pintu gerbang…
Gas Pol Kan : “Hey, ada apa teriak-teriak?"
Siskamling : “Aku punya ide yang sangat bagus…”
Kasian : “Ide apa? Cepat katakan…”
Siskamling : “Ide yang akan membuat pertapa forex itu menerima kita semua menjadi muridnya…”
Diantemi, Tum Pah Kan, Gas Pol Kan, dan Kasian : [berteriak serempak] “
cepat katakan apa idenya?”
Siskamling : “Ehm…jadi begini…
”
Diantemi, Kasian, Gas Pol Kan, dan Tum Pah Kan : “
… … !!!”
Siskamling : “
hehehe…iya dech aku kasih tahu apa idenya…jadi gini, pertapa forex itu kan bilang kita tidak akan diterima sebagai muridnya selama kita menganggap forex trading itu jalan pintas untuk menjadi kaya, ya kan?”
Diantemi, Kasian, Gas Pol Kan, dan Tum Pah Kan : “Iya, lalu…???
”
Siskamling : “Lalu…kita pura-pura saja tidak menganggap forex itu sebagai jalan pintas, nanti kita pasti diterima sebagai muridnya…
”
Diantemi, Kasian, Gas Pol Kan, dan Tum Pah Kan : “
… … “
Siskamling : “
sepertinya kalian tidak senang dengan ideku…???”
Diantemi, Kasian, Gas Pol Kan, dan Tum Pah Kan : “Bodoooh !!!”
Gas Pol Kan : “Mana mungkin dia akan percaya begitu saja !!??”
Kasian : “Huff…ternyata hanya seperti ini idenya…”
Tum Pah Kan : “Tapi…bagaimana kalau kita tanya saja pada pertapa forex itu, apa syaratnya agar kita bisa diterima ?
”
Diantemi : "Sepertinya itu ide yang bagus..."
Ketika muncul ide yang cukup aneh dari Tum Pah Kan yang memang terlihat bodoh, teman-teman yang lain justru berpikir bahwa itu adalah ide yang cukup baik. Mereka berpikir pertapa forex itu paling tidak akan memberitahukan syaratnya agar mereka semua bisa diterima. Kemudian mereka akan berjanji mematuhi apapun syarat yang harus mereka kerjakan. Akhirnya mereka memutuskan masuk kembali dan menuju rumah pertapa forex.
Sementara itu di dalam rumah, Waver masih saja mondar-mandir. Pikirannya semakin tidak karuan antara rasa bersalah dan niatnya untuk memberi pelajaran kepada calon muridnya. Ketika dia tengah berjalan dari kamar menuju ruang keluarga, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari arah pintu depan. Suara itu terdengar tidak asing ditelinganya.
Gas Pol Kan : “Kulonuwun…!!! Kulowuwun…!!!”
Waver : “
... ...
hehehehe…seperti analisaku, semua rencanaku berjalan seeempurna. Mereka pasti kembali dan menyadari bahwa mereka membutuhkan aku untuk menjadi guru mereka…heuheuheu…tapi, aku harus tetap terlihat cool dan pura-pura tidak tahu apa-apa…
”
Kemudian Waver melangkah keluar dengan penuh percaya diri. Membuka pintu dengan perlahan, dan menemui calon muridnya yang telah menunggu di luar.
Kasian : “Maaf kami…ehm…kami…
”
Waver : “Sudahlah…aku tahu maksud kalian.
Kalian pasti kembali kesini karena telah mengerti maksud dari perkataanku sebelumnya, dan kalian telah sadar bahwa kalian sangat membutuhkanku untuk mengajarkan ilmu forex trading.
”
Diantemi : “… ehm… bukan…
”
Siskamling : “Justru kami karena kami tidak tahu, makanya kami datang kembali bermaksud menanyakan bagaimana syaratnya agar kami bisa diterima…”
Waver : [berbalik dan mendekati pintu rumahnya] “Jadi kalian belum mengerti…hikz…
”
Calon Murid : “[berbicara dalam hati masing-masing]
“Pertapa bodoh…”
Gas Pol Kan : [berbisik pada teman-temannya] “
Sudah ku bilang dari awal kan, dia itu sangat meragukan untuk menjadi pertapa forex yang legendaris itu…kita salah orang.”
Waver : “ehm...
”
Gas Pol Kan : “
”
Waver : “Baiklah…sepertinya kalian memang belum siap untuk menemukan jawabannya sendiri. Aku akan beritahukan syaratnya pada kalian, dengarkan baik-baik !!!”
Calon Murid : “
”
Waver : “Untuk menjadi muridku, pertama kalian harus memperbaiki niat dan tujuan kalian. Tujuan kalian di sini adalah untuk belajar ilmu forex trading, dan kalian harus benar-benar menanamkan niat yang kuat di dalam hati untuk bisa tahu ilmu dari forex trading. Lupakan mengenai uang dan perasaan-perasaan ingin cepat kayak arena itu semua akan mengacaukan proses belajar kalian semua. Itu saja syaratnya, apa kalian sanggup?”
Calon Murid : [saling memandang] “… … …”
Waver : “???”
Calon Murid : [menjawab dengan penuh ketegasan] “Baik Guru, kami sanggup !!! kami akan luruskan niat dan tujuan kami untuk belajar, dan kami akan melupakan sejenak mengenai uang. Tapi tidak untuk melupakan selamanya…!!!”
Waver : [gubrak] “Haduh…ya sudahlah, kalian saya terima menjadi murid saya. Mulai hari ini, kalian harus siap untuk ditempa di perguruan KG Forex World ini.”
Murid : “Siaaap Guru !!! terimakasih Guru...”
Akhirnya syarat untuk menjadi murid dari Waver Sang Pertapa Forex terungkap. Mereka berlima bersedia mematuhi syarat itu, dan mereka telah diterima menjadi murid dari Waver Sang Pertapa Forex.
Waver : “Ehm, kata orang, tak kenal maka tak sayang. Sebelum kita berinteraksi lebih jauh, aku ingin kalian memperkenalkan diri dulu. Dimulai dari kamu yang sepertinya paling berani, lalu berurutan ke kanan.” [menunjuk Gas Pol Kan]
Gas Pol Kan : “Gas Pol Kan, panggilan Gas !!!”
Waver : “Hm…”
Kasian : “Kasian…panggilan Ian.”
Tum Pah Kan : “Tu…tu..Tum Pah Kan…panggil apa aja bo..boleh…”
Siskamling : “Siskamling, panggilan Siska…”
Diantemi : “Panggilan Dian, nama lengkap… … … Diantemi…”
Waver : “Hm…sepertinya nama kalian semua cukup unik. Tidak apa-apa, itu pemberian orang tua dan kalian harus bangga dengan nama itu.”
Waver : [berbalik membelakangi muridnya lalu berkata dalam hati] : “
huwahahahahaha…nama yang aneh…huwahahahaha…”
Murid : “
”
Waver : [berbalik lagi kembali menghadap muridnya] “Baiklah, kalian pasti sudah tahu namaku. Dalam mengajar mungkin sesekali aku akan dibantu Istriku, dia bernama Cici, nama lengkapnya Pecicilan.”
Murid : [saling memandang dan berbicara dalam hati] "Nama yang aneh...xixixixi...
”
Waver : “
Ehm…sebagai muridku,
kalian akan mendapatkan fasilitas yang cukup untuk kalian hidup di sini, dan mempelajari forex trading. Kalian akan mendapatkan kamar, satu perangkat komputer untuk masing-masing orang, serta makan gratis, heuheuheu…”
Murid : “ Wah, benarkah Guru? Terimakasih banyak…
”
Waver : “Sebagai gantinya, kalian harus membantuku dan istriku menyiapkan keperluan sehari-hari. Gas Pol Kan, sepertinya kamu memiliki emosi yang mudah meluap-luap, aku tugaskan kau untuk mencari ikan di danau dengan memancing. Itu untuk melatih kesabaran dan pengendalian emosimu.”
Gas Pol Kan : “Yah, ujung-ujungnya gini…
”
Waver : “Tum Pah Kan, sepertinya kamu cenderung penakut, kamu aku tugaskan untuk pergi berburu di hutan agar lebih berani.”
Tum Pah Kan : “Ba..baik Guru…
”
Waver: “Kasian, Kau aku tugaskan mengambil kayu di hutan dan memotongnya agar badanmu lebih kuat karena kau terlihat sangat lemah. Selanjutnya Siskamling dan Diantemi akan bergantian membantu istriku memasak dan membersihkan rumah.”
Siskamling dan Diantemi : “Siap Guru…”
Waver : "Kalian pasti lelah, sekarang istirahatlah dulu sambil melihat-lihat lingkungan di pegunungan ini. Besok kalian akan mulai pelajarannya lalu setelah itu akan bertugas sesuai pembagian tugas masing-masing. Buat diri kalian senyaman mungkin di sini..."
Waver lalu masuk ke dalam rumahnya dan diikuti murid-muridnya. Setelah ditunjukkan kamar mereka masing-masing, mereka beristirahat.
Sekembalinya dirumah, Gas Pol Kan, Tum Pah Kan, dan Kasian berbincang-bincang santai dengan Waver di ruang keluarga, sementara Siskamling dan Diantemi membantu Cici menyiapkan makan malam. Tidak lama kemudian Cici datang membawa makan malam bersama kedua murid perempuannya.
Cici : “Makan malam siap…”
Waver : “Wah…sedapnya…dari aromanya saja sudah menggiurkan, Kau memang hebat istriku…”
Cici : “
ah…sudahlah…ayo segera dimakan mumpung masih hangat…”
Dalam kehangatan kasih sayang, mereka berlima makan bersama layaknya sebuah keluarga. Mereka tersenyum, dan menikmati santap malam mereka dengan penuh kebahagiaan.
Selesai makan, murid Waver kembali ke kamar masing-masing karena nampaknya mereka masih lelah akibat perjalanan jauh dari kota ke pegunungan. Lain halnya dengan Waver. Ketika malam semakin larut, dia justru pergi ke jembatan di dekat danau. Seperti biasanya, ketika dia merasakan perasaan yang meluap-luap dari dalam hatinya, entah itu sedih ataupun senang, maka dia akan pergi ke danau ditemani istrinya. Tapi kali ini dia pergi sendirian
Danau di malam itu terlihat begitu indah. Permukaannya memantulkan cahaya rembulan yang hampir sempurna, yang berkelap-kelip bagaikan lentera. Desir angin menembus ranting, menyapa dedaunan yang menyahut dengan lembut. Waver Sang Pertapa, larut dalam syair kebahagiaan…
Waver : [memandang ke atas, menengadahkan tangannya]
“Duhai Engkau Yang Maha Memberi…hari ini telah Kau karuniakan tanggung jawab, melalui kelima hamba-Mu yang kau kirim padaku,
Dan di sini hatiku tersungkur, antara sedih dan bahagia
Aku bahagia, karena niat tulusku untuk menyampaikan Ilmu yang telah Kau karuniakan, Engkau sambut dengan hidupnya harapan di hati mereka berlima,
Tapi tak bisa pula ku sembunyikan kesedihan, karena sebenarnya aku tak pernah mampu berbuat apa-apa, tak pernah sanggup menjadi sesuatu, dan aku tak akan pernah bisa mendidik mereka semua,
Jika bukan karena kasih sayang-Mu pada mereka, jika bukan karena keluasan Ilmu-Mu yang Engkau perkenankan untuk mengalir dalam jiwaku
Aku hanyalah perantara, aku hanya jalan bagi-Mu untuk menunjukkan betapa luar biasanya kasih sayang-Mu pada mereka
Maka jangan biarkan hati ini meninggi walau hanya sejenak, rendahkanlah hati ini dalam kesadaran akan kebesaran-Mu
Dan rendahkan pula hati mereka, ketika Engaku telah perkenankan mereka untuk mengerti sedikit dari ilmu-Mu
Mudahkanlah jalan mereka dalam mengabdi pada-Mu, sadarkanlah mereka dalam kemanusiaan, dalam fitrah mereka sebagaimana tujuan-Mu menciptakan mereka semua.”
Tanpa disadari, Istri Waver, Cici, telah berada di belakangnya, lalu memeluknya dari belakang dengan penuh kasih sayang. Waver sedikit terkejut, tapi dia langsung mengerti bahwa istrinya telah datang.
Waver : “Duhai Engkau Penguasa Hati, segala puji bagi-Mu yang telah mengalirkan cinta ke dalam bilik hati istriku
Yang mengalir membuka ruang-ruang dihati ini, yang dengannya Kau berikan aku ketenangan, Kau ijinkan aku menerima kasih sayang dari hamba-Mu yang Kau takdirkan untuk menjadi pendamping hidupku
Dan Engkau pulalah yang membalas cinta itu, dari hati ini, kepadanya…sehingga menyatu hati kami berdua
Hidupkanlah kami selalu dalam kasih sayang, dalam kemesraan, dalam cinta yang penuh kesadaran akan pengabdian kami kepada-Mu…”
Malam yang semakin larut, semakit melarutkan rasa di dalam hati mereka berdua. Rasa akan kebesaran-Nya, kasih sayang-Nya, yang tak kan pernah bisa mereka lukiskan melalui kata-kata…
Lain halnya dengan apa yang terjadi di kamar murid laki-laki. Gas Pol Kan yang selama ini terlihat pemberani, ternyata menunjukkan rasa takutnya setelah dia melihat UFO (Unidentified Flying Object) yang berjalan di depan pintu kamar.
UFO : [berjalan di depan kamar] 
Gas Pol Kan : “
… …
… … huwaaaaaaaaaaaa
“
Tum Pah Kan : “Ada apa Kak ?”
Gas Pol Kan : “Ddd…di..diiluaar ada hantu…!!!”
Kasian : “Hantu apaan?”
Gas Pol Kan : “Hhhh..hantu bego…hantu yang terbang…barusan aku liyat sendiri, hantunya lewat di depan kamar kita…”
Tum Pah Kan : “Mana ada yang namanya hantu Kak, mana aku lihat ???”
Ternyata Tum Pah Kan sama sekali tidak takut dengan yang namanya hantu, dia pergi keluar kamar lalu melihat-lihat keadaan sekitar. Gas Pol Kan yang takut setengah mati, bersembunyi di balik selimut. Sedangkan Kasian yang penasaran, pergi menemui Tum Pah Kan.
Kasian : “Mana hantunya? Udah ketemu?”
Tum Pah Kan : “Iya neeh, dasar mahluk kurang ajar, ganggu orang mau tidur aja…
” [sedang mengeksekusi hantu]
UFO : “
hikz…ampun…saya cuma numpang lewat, hikz…”
Kasian : “Huwaaa…hantu beneran…
” [lari kembali ke kamarnya]
Setelah sarapan pagi, mereka berlima bergegas masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi tempat bagi Waver mengajarkan ilmunya. Di ruangan itu terpadat AC, enam perangkat komputer. Satu di meja depan untuk Waver mengajar, dan lima sisanya berada di belakangnya dengan arah berhadapan dengan komputer yang digunakan Waver. Selain itu, ada juga sebuah proyektor untuk menampilkan gambar dalam resolusi yang lebih besar sehingga memperjelas apa yang akan disampaikan Waver.
Setelah semua murid masuk ke dalam ruangan itu (kelas), Waver menyusul dengan langkah yang santai dan penuh percaya diri. Setelah melalui pintu masuk, dia melangkah menuju meja tempat dia akan mengajar. Waver menyalakan komputer, lalu memulai pelajaran pertama bersama muridnya.
Waver : “
ehm…baiklah, ini adalah hari pertama kalian belajar ilmu forex trading di perguruan KG Forex World ini. Sebelumnya, ada yang ingin aku tanyakan. Kalian telah mengenal forex trading, berarti kalian sudah tahu dasar-dasar dari forex trading itu sendiri kan?”
Siskamling : “Kami hanya mengetahui sedikit informasi mengenai forex trading itu Guru. Jadi belum terlalu paham…”
Waver : “Hm…baiklah, ini aku berikan kalian buku panduan dasar forex trading. Tentang apa dan bagaimana forex trading itu, serta bagaimana menggunakan platform trading yang nantinya akan familiar dengan aktifitas trading kalian semua.”
Murid : “Terimakasih Guru…”
Waver berjalan mengitari murid-muridnya sambil membagikan buku yang telah dia siapkan sebelumnya.
Waver : “Dalam buku itu sudah tertulis dasar-dasar dari forex trading ini, itu sudah cukup bagi kalian untuk memahami dasarnya. Tapi aku tidak akan membahas dasar-dasar dari forex trading itu dalam pelajaran kita, kalian baca sendiri di waktu senggang.”
Gas Pol Kan : “Yah, kenapa tidak dijelaskan saja Guru?”
Kasian : “Iya Guru, atau mungkin ini pelajaran dasar jadi tidak terlalu penting ya Guru?”
Waver : “Ckckckck…kalian lihat ruangan yang sedang kalian gunakan ini, apakah mungkin kalian membuat ruangan ini berdiri jika tidak ada pondasinya?”
Tum Pah Kan : “
tii..tidak tahu Guru, soalnya belum pernah membangun rumah…”
Gas Pol Kan : “Iya Guru… Kau Benar Dik, kita memang belum pernah membangun rumah…”
Waver : “
huff… baiklah, maksudnya seperti ini, ruangan ini, rumah ini, tidak akan mampu berdiri dengan kokoh jika tidak memiliki pondasi yang kuat. Di dalam forex trading, pengetahuan dasar itulah yang menjadi pondasinya. Bagaimana mungkin kalian akan membangun dinding analisa ber cat indikator yang nantinya akan menyangga atap profit yang akan menaungi kalian semua jika tempat untuk dinding itu berdiri saja tidak ada???”
Diantemi : “Iya Guru, saya mengerti…”
SIskamling : “Saya mengerti Guru…”
Waver : “Ian, Gas, dan Tum, bagaimana? Apa kalian sudah paham?”
Kasian, Gas Pol Kan, Tum Pah Kan : “Paham…”
Waver : “Bagus…lalu kenapa aku tidak membahasnya dalam pelajaran yang akan kalian terima? Karena aku sudah merangkum pelajaran mengenai dasar-dasar forex trading itu dalam sebuah buku yang saat ini kalian pegang. Saya sudah menuliskan secara lengkap apa dan bagaimana forex trading itu, kalian baca sendiri, jika ada yang ingin kalian tanyakan silakan tanyakan padaku. Kalian aku suruh membaca sendiri dasar dari forex trading itu untuk lebih menghemat waktu. Nantinya kalian akan belajar satu per satu indicator yang biasa saya gunakan untuk menganalisa pergerakan harga. Satu indicator saja akan membutuhkan waktu dalam memahaminya, jadi dengan kalian membaca sendiri dasar-dasarnya, maka kalian bisa lebih menghemat waktu.”
Diantemi : “Betul Guru…biar lebih cepat…”
Waver : “Hm, tapi jangan berharap kalian akan mendapatkan sinyal-sinyal sederhana melalui crossing-crosingan atau panah-panahan yang jika begini buy, jika begitu sell seperti diluaran sana. Apa yang akan kalian pelajari dalam analisa kita nantinya akan membutuhkan pengolahan informasi di dalam otak kalian sehingga menghasilkan keputusan apa yang harus kalian ambil. Baiklah, sekarang kita lanjutkan ke dalam analisa.”
Murid : “Baik Guru…”
Waver : “Banyak cara yang dilakukan para trader untuk menganalisa chart baik secara fundamental maupun teknikal, di mana hasil analisa inilah nanti yang digunakannya untuk melakukan transaksi dengan membuka posisi Buy atau Sell atau mungkin menahan diri untuk tidak melakukan transaksi terlebih dahulu. Atau menunggu moment lah istilah temen-temen biasanya. Cara mana atau teknik analisis mana yang terbaik? Bagiku semua teknik atau cara apa pun dalam menganalisa chart yang digunakan setiap trader dan mampu membuatnya menghasilkan sebuah keputusan yang tepat adalah cara yang terbaik. Jadi jika ada yang menganalisa berdasarkan hidungnya gatal atau tidak gatal
untuk membuat keputusan Buy ata Sell dan ternyata dalam prakteknya keputusan tersebut selalu tepat, Aku pikir ini juga valid heuheuheu... intinya semua cara atau teknik menganalisa itu baik, tidak ada yang buruk. Lalu analisa mana yang aku gunakan? aku lebih senang menggunakan analisa teknikal dengan menggunakan analisa matematis dan statistik untuk menganalisa pergerakan harga. Sedangkan untuk analisa fundamental hanya aku jadikan sebagai trigger agar target profit cepat tercapai, heuheuheu…”
Siskamling : “Lalu, dari analisa itu, apa yang kita perolah Guru?”
Waver : “Pertanyaan yang bagus…
. Nah.. untuk menganalisa sehingga hasil analisa ini nanti dapat kita gunakan untuk membuat keputusan dalam transaksi yang kita lakukan, apa saja yang perlu kita hasilkan dari analisa kita? Simple saja sebetulnya, hanya ada dua data yang perlu kita peroleh dari analisa yang kita lakukan. Apa saja? Pertama, kita memiliki prediksi kemana harga akan bergerak (keatas atau kebawah, naik atau turun, up or down) dan Kedua, kita memiliki prediksi sampai dimana harga ini akan bergerak.
Diantemi : “Prediksi ?”
Waver : “Yup... semua hasilnya hanya prediksi karena bagaimanapun juga perlu kita sadari bahwa tidak ada yang tahu kemana harga akan bergerak dan sampai dimana harga itu akan bergerak. Tetapi hasil analisa kita yang berupa prediksi ini tidak dihasilkan secara sembarangan.. ada dasarnya. Apa dasarnya? yah perhitungan matetamatis dan statistik atau berdasarkan analisa fundamental bagi yang menggunakan teknik ini. Jadi ringkasnya prediksi yang akan kita lakukan sama halnya seperti para ahli di Badan Meterologi memperkirakan kapan musim hujan atau musim panas tiba dengan menggunakan data-data suhu, tekanan atmosfir, arah angin dsb. Hanya dalam forex karena kita akan menggunakan teknikal analisis, kita akan menggunakan data harga yang sudah terbentuk untuk menganalisa dan memprediksi pergerakan harga selanjutnya.”
Kasian : “Tapi…memang apa hubungannya masa lalu dengan masa depan Guru?”
Waver : “Hm…itu pertanyaan yang sering muncul diluaran sana, banyak yang beranggapan masa lalu tidak berhubungan dengan masa depan. Aku tidak sependapat, karena aku percaya, masa lalu, saat ini, dan masa yang akan datang saling berhubungan. Contohnya, bagaimana kita hari ini adalah hasil masa lalu. Bagaimana cara kita berjalan, bagaimana cara kita berkata-kata, bersikap bahkan ahlak kita adalah hasil masa lalu kita. Jadi jika kita ingin mengetahui bagaimana kita hari ini dan kemana kita nanti…surga atau neraka ? kita bisa menganalisanya dengan melihat masa lalu dan kondisi saat ini, gitu kira-kira analoginya.
”
Diantemi : “Wah…benar Guru…aku jadi seperti sekarang ini karena kesalahan Ayah waktu mengelola perusahaannya, jadinya bangkrut dech…”
Waver : “Dian, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Memang benar apa yang terjadi padamu saat ini adalah hasil dari masa lalu, tapi sangat tidak bijaksana jika kamu menyalahkan Ayahmu karena nasibmu saat ini. Jangan hanya melihat orang tuamu dari egomu saja sehingga kamu melupakan jasa-jasa mereka yang telah membesarkan kalian dengan kasih sayang. Aku yakin ayahmu pasti telah berusaha sekuat tenaga untuk membangun perusahaan lalu mengembangkannya. Namun, jika pada akhirnya perusahaan itu menjadi bangkrut, maka itu bukan semata-mata kesalahan yang ayahmu lakukan. Tapi memang seperti itulah, kita hanya diberi ruang untuk berusaha sebatas kemampuan kita dan di jalan-jalan yang baik, hasil dari usaha itu sepenuhnya berada di tangan Zat Yang Maha Menguasai. Sama halnya dengan forex trading ini, kita hanya bisa menganalisa kemana kemungkinan terbesar kecenderungan arah pergerakan harga, dan sampai dimana kira-kira batasnya. Setelah kita menganalisa, maka kita memperoleh keputusan untuk menunggu, atau membuka posisi. Jika posisi telah kita buka, maka tinggal kita serahkan hasilnya kepada Zat Yang Maha Menguasai Urusan. Kita tidak perlu berpura-pura menjadi Tuhan dengan mengetahui kepastian kemana harga bergerak atau memaksakan harga harus bergerak sesuai dengan prediksi kita. Jika kita bertingkah sombong seperti itu, maka kita akan jatuh sendiri karena kesombongan itu.”
Gas Pol Kan : “Berarti, percuma donk kita pusing-pusing menganalisa jika pada akhirnya kita tidak tahu kemana harga bergerak? Kenapa harus melakukan hal yang sia-sia seperti itu Guru?”
Waver : “Pertanyaan yang bagus…jadi begini, jika kita tidak menganalisa terlebih dahulu, maka akan sama saja dengan kita bermain judi. Memang, pada akhirnya nanti, setiap analisa selalu menghasilkan kemungkinan yang sama seperti orang yang melempar coin, yaitu 50 : 50. Tapi dalam analisa ada hal penting yang membedakannya, yaitu tingkat keyakinannya. Contohnya begini deh, misalkan kita mencoba menebak besok jam 15:00 pm hujan atau tidak ? tanpa menganalisa atau dengan melempar coin kita bisa menebaknya dengan tingkat probability 50%, tetapi kita tidak punya keyakinan yang tinggi dengan hasilnya. Lalu kita coba menganalisanya dengan menggunakan teknik yg digunakan Badan Meterelogi, data temperatur, kecepatan angin, kelembaban etc di kumpulkan dan dianalisa lalu dapatlah kesimpulan besok jam 15:00 probabilitynya tidak hujan dengan tingkat keyakinan 80%. Nah disini bedanya di tingkat keyakinan itu. Secara teknis iya emang bener probability nya sama yaitu 50% tetapi tingkat keyakinannya berbeda. Dan hal ini umum dilakukan di bisnis apapun, contoh lagi biar jelas deh. ketika kita membuat sebuah usaha lah.. probability kita untuk untung sukses (untung) dan bangkrut (rugi) sama besarnya yaitu 50%, nah kenapa yang mendirikan usaha itu atau membuat perusahaan lah melakukan analisa terlebih dahulu? ngapain susah-susah survey itu ini.. dan biayanya juga gede toh hasil probability usaha itu sukses atau bangkrut tetap 50% ? kenapa ?
Murid : “Kenapa Guru?”
Waver : “Agar mereka semakin yakin untuk mendirikan usaha. Disinilah perbedaan antara orang bodoh dan orang cerdas dalam menjalankan usahanya. Keyakinan itu sendiri adalah dasar dari setiap agama di muka bumi ini. Kalian yakin dengan agama yang kalian anut karena kalian telah menganalisa terlebih dahulu, mengapa kalian mengikuti agama yang kalian anut saat ini. Karena agama yang kalian anut mengandung nilai-nilai kebaikan maka kalian yakin untuk menjalankannya. Tapi jika kalian hanya ikut-kutan dalam beragama tanpa mengetahui alasannya, bukankah itu sama saja dengan melempar coin tadi? hehehe... Kembali ke forex trading. Pada awalnya kalian akan sangat mungkin menemui keraguan akan hasil analisa kalian sendiri apakah saat ini tepat untuk membuka atau menutup posisi. Tingkat keyakinan ini yang nantinya akan semakin meningkat seiring dengan tingginya jam terbang kalian dalam forex trading ini. Tapi hati-hati, jangan sampai kalian over percaya diri sehingga menganggap analisa kalian pasti benar dan harga pasti bergerak searah dengan posisi yang kalian buka. Tidak perlu susah-susah jadi Tuhan begitu lah, kita jalankan saja apa yang mampu dan boleh kita jalankan, dan serahkan hasilnya kepada Zat Yang Maha Menguasai Urusan.”
Kasian : “Mengerti Guru…”
Siskamling dan Diantemi : “Mengerti Guru…”
Tampaknya jawaban tersebut belum bisa dicerna dengan baik oleh Gas Pol Kan. Melihat hal itu, Tum Pah Kan betanya kepada kakaknya.
Tum Pah Kan : “Kak, apa Kau sudah mengerti ?”
Gas Pol Kan : [berpura-pura mengerti] “Tentu sajalah, hehehe…
”
Waver menyadari bahwa salah satu muridnya, Gas Pol Kan, belum begitu memahami apa yang baru saja dia sampaikan. Tapi dia tidak menyakan hal itu lebih lanjut pada Gas Pol Kan. Dia beranggapan bahwa suatu saat nanti perlahan-lahan muridnya pasti mengerti maksud dari perkataanyya.
Waver : “Baiklah, sekarang kita masuk ke pola pergerakan harga.”
Murid : “
”
Waver : “Silakan kalian nyalakan komputer kalian masing-masing, lalu setelah itu buka Meta Trader yang telah terinstal di dalamnya.”
Diantemi : “Hm…sudah Guru…”
Gas Pol Kan : “Yupz…”
Tum Pah Kan : “Sudah…”
Waver : “Baiklah sekarang perhatikan layar proyektor di depan kalian ini.”
Waver lalu memunculkan gambar memalui komputernya di proyektor. Tapi ada hal yang tidak dia sadari.
Siskamling dan Kasian : “
”
Waver : “Ian, Siska, kenapa kalian?”
Siskamling : “Hm…
aku tidak bisa menyalakan komputer Guru…”
Kasian : “Sama, aku juga tidak tahu Guru…”
Waver : “
hah? Huff… baiklah, Dian, Gas, Tum, ajari mereka cara menggunakan komputer terlebih dulu. Saya akan keluar sebentar.”
Waver keluar meninggalkan mereka di dalam kelas. Diantemi, Gas Pol Kan, dan Tum Pah Kan memang lebih familiar dengan komputer jika dibandingkan dengan Kasian dan Siskamling. Atas perintah gurunya, mereka bertiga mengajari Siskamling dan Kasian cara cepat menggunakan komputer. Sekitar setengah jam kemudian, Waver masuk lagi ke dalam kelas.
Waver : “Ehm…bagaimana, sudah siap semua kan?”
Murid : “Siap Guru, kami sudah siap…”
Waver : “Bagus, sekarang perhatikan layar di depan. Kita akan membahas tentang pola pergerakan harga.”
Pola Pergerakan Harga :![]()
This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 790x482. 
Waver : “Memahami pergerakan yang terjadi pada harga adalah sebuah keharusan bagi kita yang bergelut dalam Forex Trading. Kenapa? karena dengan memahami pergerakan apa yang sedang terjadi pada harga saat ini dan pergerakan apa yang terjadi sebelumnya artinya kita sudah memiliki salah satu informasi penting yang sangat dibutuhkan dalam analisa pergerakan harga. Pemahaman ini sangat basic dan hukumnya bisa saya katakan wajib lah bagi kita untuk mengenalinya, tetapi sayangnya saking basicnya, bahkan saking sederhananya banyak sekali trader mengabaikan informasi ini. Ada tiga kondisi yang harus kita pahami. Trending UP, Trending Down, dan Sideways atau kondisi ranging. Kemudian dari ketiga kondisi ini, secara umum akan terbentuk 4 kombinasi pola pergerakan harga seperti pada gambar di depan kalian. Keempat pola pergerakan itu adalah, Trending Up-Ranging, Trending Down Ranging, Trending Up-Trending Down-Ranging, Trending Down-Trending Up- Ranging. Sekarang kalian buka Meta Tradernya.”
Murid : “Sudah Guru…”
Waver : “Perhatikan ke depan, berikut ini cara untuk membuka chart atau grafik suatu pair dengan Time Frame tertentu pada Meta Trader. Pada buku panduan dasar yang aku bagikan tadi sudah ada pembahasan lengkap mengenai penggunaan software meta trader ini, silakan kalian pelajari dan praktekkan sendiri nanti.”
Waver mendemonstrasikan cara membuka pair dengan membuka salah satu pair.
Waver : “Sekarang coba kalian lakukan seperti yang aku lakukan barusan…”
Murid : “Sudah Guru…”
Waver : “Perhatikan pada grafik yang baru saja kalian buka, lihatlah bagaimana keempat pola pergerakan harga itu terjadi berulang-ulang. Seperti pola Trending Up - Ranging lah, kalian pasti bisa melihat ada suatu momen dimana harga bergerak naik dengan sangat kuat nya lalu tiba-tiba melemah dan bergerak mendatar dalam range pergerakan yang sempit.”
Murid : “Iya Guru…”
Waver : “Kalau kalian perhatikan lagi, kalian akan menukan juga pola Trending Up-Trending Down-Ranging. Dimana harga bergerak naik dengan sangat kuatnya lalu hanya dalam tempo waktu yang singkat juga bergerak turun dengan kuatnya dan akhirnya bergerak ranging dalam range yang sempit. Perhatikan juga dengan kedua pola pergerakan harga yang lainnya. Sekarang kalian diskusikan tentang pola ini, kalian temukan dan pahami bagaimana pola-pola ini terjadi, 30 menit dari sekarang. Saya akan keluar dulu sebentar…”
Murid : [berdiskusi]
30 menit kemudian Waver kembali memasuki kelas.
Murid : “
”
Waver : [berteriak di depan kelas] “Siapa yang menyuruh kalian tidur ??!!
“
Murid : “
ada Guru !!!” [pura-pura berdiskusi] 
Waver : “
sudah cukup, sekarang bagaimana hasil diskusinya??!!”
Siskamling : “Begini Guru, dari hasil diskusi kami tadi…kami memang melihat pola pergerakan seperti yang ada pada gambar memang terlihat jelas.”
Kasian: “Benar, dan ternyata pola-pola itu selalu muncul secara bergantian.”
Diantemi : “Kami tidak sengaja menggeser gambar grafik yang ada di komputer kami, dan ternyata semakin kemi menggeser kebelakang, kami semakin banyak menemukan keempat pola itu guru.”
Siskamling : “Iya Guru…setelah kondisi ranging harga kembali membuat kondisi lainnya, bisa naik atau turun.”
Waver : “
kalian…benar-benar membuatku terharu, kalian benar-benar hebat…”
Tum Pah Kan : “Iya, kok bisa seperti itu ya? Jangan-jangan grafik ini memang Guru yang membuatnya?
”
Gas Pol Kan : “Hm…bisa juga, sepertinya ini memang rekayasa Guru agar kita mempercayainya…
”
Waver : “hm…Huwahahahahaha…mana bisa aku merekayasa pergerakan harga? Memangnya aku Tuhan? Huwahahahahaha…
Pergerakan yang terjadi pada harga adalah akibat adanya transaksi-transaksi yang terjadi di pasar mata uang. Ada empat jenis transaksi yang ada pada transaksi mata uang yaitu Open Position Sell, Open Position buy, Close Position Sell dan Close Position Buy. Dari empat jenis ini untuk memudahkan transaksi-transaksi ini dikelompokkan hanya menjadi dua jenis transaksi berdasarkan pengaruhnya terhadap pergerakan harga yaitu transaksi Buy dan transaksi Sell. Transaksi Buy adalah transaksi-transaksi yg menyebabkan harga bergerak naik (Open Position Buy dan Close Position Sell) dan transaksi Sell adalah transaksi-transaksi yang menyebabkan harga bergerak turun (Open Position Sell dan Close Position Buy). Itulah yang menyebabkan harga bergerak dan membuat pola-pola seperti keempat pola tadi. Ini bukan rekayasa yang aku buat agar kalian percaya.”
Tum Pah Kan : “Maafkan saya Guru…”
Waver : “Tidak apa-apa…wajar memang jika muncul pertanyaan seperti itu dari kalian, tapi ini memang kenyataan yang ada di forex trading.”
Gas Pol Kan : “Iya Guru, maaf…”
Siskamling : “Lalu Guru, bagaimana kita memperkirakan kapan pola-pola tersebut akan keluar?”
Waver : “Pertanyaan bagus, kalian perhatikan, setiap pola pergerakan harga itu berakhir dengan kondisi ranging kan?”
Murid : “Iya Guru…”
Waver : “Kondisi ranging itulah yang akan kita manfaatkan nantinya, nanti akan saya jelaskan lebih lanjut. Untuk kali ini, cukup kalian pahami saja bahwa keempat pola ini akan kalian jumpai pada grafik pergerakan harga. Sekarang kalian istirahatlah dulu, Istriku telah menyiapkan makan siang, setelah itu kalian bisa melakukan tugas-tugas yang sudah kalian dapatkan kemarin.”
Kasian : “Baik Guru…”
Gas Pol Kan : “Asiik…makan…makan…”
Waver : “Oya, jangan lupa nanti malam kalian baca-baca panduan dasar yang sudah aku berikan, pelajari dan pahami.”
Murid : “Baik Guru…”
Waver beranjak keluar kelas dan diikuti murid-muridnya. Setelah makan siang, mereka berlima bergegas menjalankan tugas yang telah diberikan pada mereka masing-masing.
Kasian : [mencari dan memotong kayu]“
”
Siskamling dan Diantemi : [membersihkan rumah] “
”
Gas Pol Kan : [memancing di danau] “
”
Tum Pah Kan : [berburu di hutan] “
hah…apa itu? Kelinci kah?
tak kan kubiarkan kau lari…!!!
”
Waver : “Baiklah, hari ini kita akan kembali belajar.
”
Murid : “
”
Waver : “Sampai dimana kemarin?”
Siskamling : “Pola pergerakan harga Guru…”
Waver : [menyalakan komputer] “Hm…baik. Seperti kalian perhatikan pada keempat pola pergerakan kemarin. Kenapa pada pola itu berakhir dengan kondisi ranging?”
Murid : “
”
Waver : “Huff...tidak ada yang tahu? OK, sebenarnya pergerakan harga itu tidak pernah berhenti kecuali hari sabtu dan minggu karena market libur. Lalu kenapa pada pola itu seakan berhenti pada kondisi ranging? Jawabannya, karena kondisi ranging itu adalah kondisi peralihan untuk pergerakan selanjutnya. Harga yang sebelumnya bergerak dalam keadaan ubnormal atau trending kemudian mencari keseimbangannya kembali. Kondisi harga mencari keseimbangannya ini bukan berarti harga berhenti bergerak pada level atau garis tertentu, tapi terjadi kekuatan yang mendekati seimbang antara transaksi yang terjadi di pasar. Sehingga harga bergerak dalam range yang sempit. Sedangkan pada kondisi trending harga bergerak ubnormal yang artinya terjadi ketidak seimbangan pada transaksi di pasar yang menyebabkan harga naik atau turun. Nah, kondisi ranging ini yang nantinya akan kita manfaatkan, kenapa? Karena pada kondisi inilah dimulainya sebuah gerakan selanjutnya. Entah itu turun atau naik.”
Siskamling : “Oh…terus setelah ranging itu mau kemana Guru? Naik atau turun?”
Waver : “Tidak ada yang tahu, seperti yang pernah saya jelaskan pada pelajaran pertama kemarin. Kita tidak pernah tahu kemana harga bergerak dan sampai dimana. Yang bisa kita lakukan adalah melihat kecenderungannya.”
Kasian : “Lalu, untuk melihat kecenderungannya?”
Waver : “Pertanyaan yang bagus. Hari ini kita akan belajar salah satu indicator yang akan kita gunakan untuk melihat kecenderungan arah pergerakan harga. Tapi sebelumnya kita akan membahas masalah kondisi ranging dan trending terlebih dulu. Silakan nyalakan komputer kalian…”
Murid : “Sudah Guru…”
Waver : “Sekarang kalian buka chart untuk pair GBP USD rubah menjadi candlestick, lalu perhatikan…setelah mengamati chart, apa yang kalian dapatkan?”
Siskamling : “Pola pergerakan harga seperti yang kemarin Guru…”
Waver : “Bagus...Dian, Gas, dan Tum…apa yang kalian dapatkan? Sepertinya kalian hanya diam saja daritadi?”
Diantemi : “Sama Guru…pola pergerakan harga seperti kemarin…”
Gas Pol Kan : “
hm, iya sama Guru…”
Tum Pah Kan : “Hm…sekarang kira-kira lagi pola yang mana Guru? Atau kondisi yang mana?”
Waver : “Wah, pertanyaan yang bagus Tum. Sekarang siapa yang bisa menjawab pertanyaan Tum barusan?”
Murid : “
”
Waver : “Baiklah, perhatikan chart kalian semua. Perhatikan bahwa kondisi trending dan ranging sebenarnya terjadi berulang-ulang pada chart kan? Sekarang masalahnya kondisi saat ini sedang trending atau ranging? Sebenarnya jawabannya bisa sangat relative. Karena kita melihat suatu kondisi dikatakan ranging atau flat setelah kita membandingkannya dengan suatu titik acuan tertentu. Sekarang coba perhatikan ke depan. Di depan ini adalah gambar yang sama dengan yang ada pada chart di komputer kalian semua.”
Grafik GBP USD
Waver : “Bedanya, pada gambar tersebut aku tambahkan titik A, B, C. Bagaimana kita mengetahui trend saat ini di titik C ? Jika kita mengamati titik C ini dari titik B maka kita akan menyebutnya trend ini sedang turun, tetapi jika kita mengamatinya dari titik A maka kita menyebutnya trend masih naik. Jadi kita bisa lihat bahwa titik acuan yang kita gunakan bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda, hal inilah yang menyebabkan perbedaan persepsi tentang trend. Ada yang bilang naik, ada yang bilang turun pada saat yang bersamaan. Tidak ada yang salah dari hal itu, karena timbulnya perbedaan itu karena titik acuan yang menjadi pengamatan berbeda.”
Siskamling : “Berarti titik acuan itu sangat penting Guru ?”
Waver : “Yupz…benar, Titik acuan ini sangat penting. Gambaran di depan tadi secara sederhana menggambarkan perbedaan informasi yang kita peroleh hanya dengan melihat sebuah titik dari tempat pengamatan yang berbeda. Titiknya sama tapi tempat pengamatannya berbeda maka hasilnya pun berbeda. Nah, kembali ke chart tadi, titik A dan B adalah tempat pengamatan yang kita lakukan yang dibedakan atas waktu. Jadi, ketika kita mengamati titik C dari titik B, sebetulnya kita mengamati harga di titik C dan membandingkannya dengan harga di saat B terbentuk. Karena di chart kita hanya ada dua parameter yaitu Price dan Waktu maka kita sebenarnya mengamati perubahan harga berdasarkan perubahan waktu. Titik acuan yang akan kita gunakan selanjutnya dalam analisa ini adalah Waktu...demi waktu …
”
Gas Pol Kan : “Yah…pake acara nyanyi lagi…
”
Waver : “Ehm…
lanjut, dan ini berarti bahwa kita harus menstandardkannya…yah jelas dong, yang namanya titik acuan harus standard dan tidak berubah. Kalo enggak, hasil pengamatannya juga berbeda dong... hehehehehehe dan Standard berarti harus bisa diterima secara umum dan memiliki alasan yang logis... gak sembarangan... matematis banget...yah?heuheuheu... Singkatnya kita akan membagi waktu acuan ini secara umum dari tahunan, bulanan, mingguan, harian dan 8 jam. Penentuan waktu acuan ini nanti akan kita gunakan dalam penggunaan indicator-indicator yang kita gunakan dalam menganalisa.“
Waver : “Kita lanjut ya…sekarang kembali ke chart. Sekarang kita akan manfaatkan indicator Simple Moving Average atau SMA untuk melihat nilai rata-rata pergerakan harga GBP/USD selama 1 hari ke belakang. Kalian pasti sudah membaca buku panduan dasar yang saya berikan kemarin kan? “
Murid : “Sudah Guru…”
Waver : “Kalo sudah, pasti kalian sudah tahu apa itu SMA?”
Murid : “Iya Guru…”
Waver : “OK, lanjut…1 hari, berarti kita menggunakan titik acuan satu hari untuk mengamati perubahan harga. Nah karena Time Frame chart kita adalah H1 maka untuk melihat nilai SMA 1 hari maka kita akan menghitung rata-rata dari 24 candle di TF H1. Sekarang kalian buka indicator Moving Average dan set period 24, MA Methode Simple dan Apply Price Weighted Closed (HLCC/4)... maka chart GBP/USD akan terlihat seperti gambar di depan ini…”
Siskamling : “Guru, kenapa kok pake acuan-acuan satu hari, satu minggu, atau satu bulanan?”
Waver : “Jadi begini… Seperti telah aku sampaikan sebelumnya waktu acuan yang akan kita gunakan adalah tahunan, bulanan, mingguan, harian dan 8 jam-an. Mengapa kita menggunakan waktu-waktu ini sebagai acuan ? sebetulnya logis saja alasannya...begini, Forex adalah dunia perdagangan yang digerakkan oleh manusia sebagai pelaku utamanya. Dan sebagaimana kita ketahui dunia bisnis atau perdagangan bekerja dengan batasan waktu sebagai acuan. Makanya kita sering dengar ada laporan tahunan, bulanan, mingguan dan harian. Artinya waktu acuan yang akan kita gunakan kita sesuaikan dengan waktu acuan dunia bisnis, biar sejalan, itu alasannya deh .. biar gamblang hehehehehe...
”
Siskamling : “Oh…jadi gitu, silakan dilanjut Guru…”
Waver : “Ada yang mau ditanyakan lagi?”
Murid : “Belum Guru…”
Waver : “OK, Kembali ke chart GBP/USD yang sudah kita tambahkan SMA periode 24 untuk melihat pergerakan harga selama 24 jam terakhir (1 hari terakhir per jam nya). Pada gambar di depan aku tambahkan titik tertentu, yaitu 1, 2 sampai dengan 6. Apa yang bisa kita lihat di sini? Coba perhatikan bentuk pergerakan SMA dari point 1 ke 2, terlihat di sini SMA 24 naik secara tajam. Jadi kita bisa bilang bahwa trend harian pada point 1 sampai point 2 adalah Up trend. Dan dari point 2 ke 3 terlihat bahwa SMA 24 yang terbentuk cenderung datar, jadi di point ini kita bisa bilang bahwa trend dari point 2 ke 3 adalah Flat. Kemudian dari point 3 ke point 4 SMA 24 trend nya kembali UP. Dari point 4 ke point 5 SMA 24 trend nya turun. Dari point 5 ke point 6 SMA 24 trend nya naik kembali, lalu dari point 6 sampai penutupan juma't kemaren SMA 24 trend nya turun. Sekarang coba kalian...”
... ... ...
Waver melanjutkan pelajarannya hingga siang hari saat waktu makan siang tiba. Sebelum pelajaran berakhir Waver member PR yang harus mereka berlima kerjakan.
Waver : “Baiklah, cukup untuk hari ini. Sebelum berakhir, aku ingin kalian melakukan backtest atas dua indicator yang sudah kita pelajari tadi, MA dan BB.”
Tum Pah Kan : “Anu…Guru..backtest itu seperti apa ya?”
Waver : “Backtest itu seperti yang tidak sengaja kalian lakukan kemarin ketika menggeser chart ke arah kanan. Semakin chart kalian geser ke arah kanan, maka data sebelumnya akan keluar semakin banyak. Geser terus ke arah kanan sampai kurang lebih 10 tahun kebelakang. Perhatikan bagaimana reaksi harga yang terjadi terhadap dua indicator yang baru saja kita pelajari. Reaksi harga ketika melewati level-level dari BB, bagaimana ketika MA naik tapi harga bergerak turun, dan lain-lain. Cari pertanyaan sebanyak mungkin tentang MA dan BB ini, dan temukan jawabannya melalui backtest tersebut agar kalian memahami karakteristik dari BB dan MA.
”
Murid : “Siap Guru…
”
Pelajaran berakhir, dan mereka berlima makan siang bersama Waver dan Istrinya. Setelah makan siang, mereka kembali menjalankan tugas masing-masing. Malam harinya, mereka semua kembali bertatap muka dalam obrolan hangat penuh dengan kasih sayang.
Waver : “
ehm, karena besok hari sabtu, berarti market libur. Dan karena aku baik hati, maka aku akan ajak kalian semua ke kota untuk jalan-jalan, bagaimana?
”
Tum Pah Kan : “
hore…mau, mau…”
Kasian : “Wah? Beneran neeh Guru?”
Waver : “Iya donk…”
Diantemi : “Guru Cici juga ikut kan?”
Cici : “Tentu…
”
Siskamling : “Wah, asik neeh jalan-jalan. Ga terasa sudah hari sabtu ya…”
Diantemi : “Asik bisa shoping sama Guru Cici…”
Gas Pol Kan : [berbicara pada adiknya] “Dik, paling-paling kita disuruh angkat barang-barang belanjaannya karena kalo cuma Guru dan Istrinya kan repot bawanya…
”
Tum Pah Kan : “Hus…jangan gitu Kak…”
Waver : “Hahahaha…benar apa yang Gas katakana. Kalian murid laki-laki akan membawa barang-barang belanjaan yang berat-berat, dan yang perempuan bawa yang ringan…hahaahaha…”
Murid : “
”
Setelah berakhirnya obrolan hangat mereka berlima bersama Waver dan Istrinya, mereka kembali ke kamar masing-masing. Sebelum tidur, mereka berkhayal tentang apa yang akan mereka lakukan saat jalan-jalan nanti. Mereka berlima tertidur dalam mimpi indah. Tanpa terasa hari sudah pagi, dan saat jalan-jalan tiba.
Produk tidak termasuk batere...!!! (kok jadi kayak jualan mainan ???
)
Hehehe...piss ah, becanda doank...sengaja materi dari KG hanya saya sertakan sedikit di sini sekedar untuk nostalgia doank, dan juga biar temen-temen yang mau baca langsung aja ke thread aslinya. Pasti lebih mantep baca langsung dech, dan tulisan KG yang luar biasa itu bisa langsung meresap ke dalam hati...
Buat yang mau baca-baca silakan klik link di atas.
Dapatkan segera !!! Produk terbatas hanya bagi yang berniat lurus untuk belajar, untuk yang cari jalan pintas biar cepet kaya ??!! hiyaaaaaaaat dezzzig

modiaarr...!!!
Acara jalan-jalan ini bukan sekedar refreshing biasa bagi Waver. Setiap akhir pekan, dia bersama istrinya memang selalu menyempatkan diri pergi ke kota. Tujuan utamanya adalah untuk menyumbangkan sebagian dari hasil tradingnya kepada mereka yang membutuhkan. Waver tidak pernah memberikannya secara langsung kepada orang-orang yang membutuhkan. Dia selalu bersembunyi di balik layar dan meminta salah seorang temannya yang dia percayai di kota untuk menyalurkan hak mereka yang membutuhkan. Tapi kali ini sedikit berbeda. Dia bermaksud untuk menyuruh murid-muridnya melakukan hal itu.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka tiba di kota. Setibanya di kota, Waver langsung memberitahukan tujuan utamanya datang ke kota.
Waver : “Ehm, sebenarnya aku mengajak kalian kesini bukan sekedar untuk jalan-jalan atau refreshing. Tapi ada hal yang jauh lebih penting dari itu…”
Kasian : “Apa itu Guru?”
Waver : “Setiap akhir pekan, aku dan istriku selalu menyempatkan waktu untuk datang kesini. Bukan sekedar refreshing atau belanja kebutuhan sehari-hari. Tapi aku datang kesini untuk memberikan sebagian dari hasil tradingku kepada mereka yang berhak menerimanya…”
Diantemi : “Maksudnya kepada fakir miskin Guru?”
Waver : “Benar, dan aku sengaja mengajak kalian agar kalian yang memberikannya kepada mereka. Baiklah, sekarang akan aku tunjukkan pada kalian dimana tempatnya. Tapi sebelumnya, kita akan membeli sesuatu…”
Mereka kemudian berjalan dengan Waver dan Cici sebagai pemandu jalannya. Di depan toserba, mereka berhenti lalu masuk. Uang hasil trading dari Waver tidak semuanya diberikan begitu saja. Sebagian dibelikan kebutuhan sehari-hari agar mereka yang menerimanya nanti tidak terlalu repot harus membeli sendiri. Dan sebagiannya lagi masih berupa uang. Mereka membeli kebutuhan sehari-hari yang akan mereka gunakan selama satu minggu ke depan sembari berbelanja kebutuhan pokok yang akan mereka sumbangkan. Setelah semua kebutuhan terbeli, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Setibanya ditempat tujuan, mereka berlima terharu dengan keadaan dimana para fakir miskin itu tinggal. Berada di balik keramaian kota, tak tersentuh oleh teknologi. Bukan karena keterlambatan masuknya teknologi, tapi karena kurangnya dana untuk bisa mengaksesnya. Ada seorang anak yang menyusu kepada ibunya yang sangat kurus kering. Seakan-akan sudah tidak ada lagi ASI yang tersisa untuk anaknya yang juga kurus kekurangan gizi itu. Semua yang ada ditempat itu bukan mereka yang sebenarnya mampu, tapi malas untuk berusaha. Namun, mereka yang ada di sana adalah mereka yang telah berusaha dengan segenap kemampuan yang mereka miliki, tapi hasilnya tetap sama karena yang mereka alami bukan kemiskinan, tapi pemiskinan. Mereka berlima yang ditugaskan untuk memberikan sumbangan itu merasa sangat terharu. Dalam hati mereka, mereka juga bersyukur karena hidup mereka masih jauh lebih baik dari mereka. Tanpa mereka sadari, mereka meneteskan air mata.
Tugas utama telah selesai, mereka kembali menemui Waver dan Istrinya yang memutuskan menunggu beberapa blok dari tempat para fakir miskin korban pemiskinan itu tinggal.
Siskamling : “Guru…kami sangat terharu melihat keadaan mereka semua…
”
Diantemi : “Benar Guru…mereka benar-benar…hikz…hikz…
”
Waver : “Aku tahu apa yang kalian rasakan, akupun merasakan hal yang sama walaupun aku tidak melihatnya…”
Kasian : “Benar-benar kondisi yang mengharukan Guru…”
Waver : “Selama kalian bergelut di forex trading, kalian cenderung melihat orang-orang yang sukses di forex trading. Melihat mereka yang begitu mudahnya memperoleh uang. Tanpa kalian sadari, psikologis kalian terkena imbasnya. Kalian menjadi cenderung hanya melihat keatas, tanpa sadar untuk melihat kebawah. Dengan kalian melihat ke bawah, itu akan menyeimbangkan kembali kondisi psikologis kalian dan kalian menjadi lebih mensyukuri keadaan kalian, benar kan?”
Kasian : “Iya Guru, benar …”
Gas Pol Kan : “Guru, ada yang ingin aku tanyakan…”
Waver : “Hm…iya…”
Gas Pol Kan : “Kenapa tidak Guru saja yang memberikannya kepada mereka? Kalo Guru yang memberikannya langsung kan mereka jadi tahu kalo itu semua dari Guru…”
Waver : “Lalu…apa bedanya dengan kalian yang memberikan?”
Gas Pol Kan : “Kalo Guru yang memberikannya langsung kepada mereka kan mereka jadi tahu kebaikan yang Guru lakukan…”
Tum Pah Kan : “Iya Guru, kenapa Guru?”
Waver : “Hm…baiklah, begini…jika kita memang berniat melakukan kebaikan itu, maka harus benar-benar tulus dan bukan mengharapkan apapun. Entah itu pujian, penghargaan, atau apapun itu yang bisa menyebabkan hati kita meninggi. Sebisa mungkin jauhkan hati kalian dari meninggi karena kebaikan yang kalian lakukan. Ketika ada orang yang menganggap kita baik, memuji kita, maka secepatnya kita sadari bahwa kita sebenarnya sedang diberi sedikit percikan cahaya keMaha Baikan-Nya, lalu kembalikan pujian itu pada Zat Yang Maha Terpuji. Kita hidup ini bukan untuk mencari pujian, gelar, penghargaan, atau jabatan apapun. Tapi bagaimana agar kita bisa memberi manfaat kepada orang lain dengan keterbatasan yang kita miliki, itu akan lebih bermakna.”
Kasian : “Hm…aku mengerti Guru…”
Gas Pol Kan : “O…jadi begitu…aku juga mengerti Guru…”
Tum Pah Kan, Diantemi, dan Siskamling : [mengangguk-anggukkan kepala] “
”
Waver : “Bagus jika kalian telah paham…sekarang saatnya cari tempat untuk makan, kalian pasti lapar kan?”
Murid : “Assiiik…
”
Cici : “Yupz…saatnya makan…”
Diantemi : “Wah, beneran neeh makan di restoran ini Guru?”
Waver : “Iya…ayo masuk…ini rumah makan yang baru dibuka.”
Mereka kemudian masuk, memesan makanan dan minuman. Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Mereka menyantap dengan lahapnya. Setelah makanan dan minuman yang mereka pesan habis, mereka tidak langsung meninggalkan rumah makan itu, tapi berbincang-bincang sejenak.
Tum Pah Kan : “Guru, makanan di sini enak, tempatnya juga bagus, tapi kenapa kok sepi ya?”
Diantemi : “Iya Guru, makanannya benar-benar enak…”
Cici : “Memangnya makanan yang enak dan tempat yang nyaman bisa menjamin suatu usaha makanan akan ramai pengunjung?”
Murid : “???”
Waver : “Tidak ada yang bisa memastikan, makanan yang enak, dan tempat yang nyaman itu akan menjamin kesuksesan dalam mengelola usaha makanan. Apalagi jika rumah makan itu masih baru seperti di sini. Mungkin mereka masih membutuhkan waktu untuk promosi lebih luas lagi agar rumah makan mereka dikenal. Sama halnya dengan forex trading kan? Enaknya rasa makanan dan nyamannya tempat itu jika diaplikasikan dalam forex trading, maka sama dengan bagusnya suatu trading system dan broker yang digunakan. Tapi hal itu tidak menjamin seseorang bisa sukses begitu saja. Butuh proses seperti tingginya jam terbang, pemahaman akan timing yang tepat, dll.”
Kasian : “Oh…jadi begitu Guru, berarti semua usaha itu sebenarnya sama ya Guru?”
Waver : “Ya, bisa juga dikatakan begitu. Karena pada dasarnya, jika suatu usaha tidak melelahkan secara fisik, maka cenderung melelahkan otak kita. Trader itu salah satu pekerjaan yang melelahkan secara pikiran, tapi secara fisik tidak terlalu lelah karena hanya tinggal duduk di depan komputer.”
Gas Pol Kan : “Benar Guru, tapi lelah juga kalo harus membaca begitu banyaknya materi…”
Waver, Cici dan muridnya : “Hahahaha…”
Tum Pah Kan : “Kakak ada-ada aja…”
Setelah beranjak dari rumah makan tadi, Waver menyuruh murid-muridnya untuk mencari hiburan dan bebas kemanapun mereka mau di kota ini. Syaratnya, pada waktu yang telah ditentukan, mereka semua harus berkumpul di alun-alun kota untuk kembali pulang. Mereka kemudian berpencar. Siskamling dan Diantemi memilih untuk pergi ke department store sedangkan Kasian, Gas Pol Kan, dan Tum Pah Kan memilih untuk jalan-jalan keliling kota. Sedangkan waver dan cici pergi ke tempat karaoke keluarga.
Waver : “
”
Cici : “
”
Waktu telah menunjukkan bahwa mereka harus segera berkumpul di tempat yang telah ditentukan. Mreke semua kembali ke alun-alun kota dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan.
Setelah semua berkumpul, mereka semua menempuh perjalanan pulang dengan hati gembira. Ditengah perjalanan, mereka bertemu dengan tujuh orang preman yang sepertinya sangat tidak bersahabat.
Preman 1 : [menggoda Siskamling dan Diantemi] “Hey cantik, mau kemana malem-malem…
”
Diantemi dan Siskamling : [ketakutan]
Cici : “Hikz…kenapa hanya mereka yang dibilang cantik, apakah aku sudah tidak secantik dulu…hikz…
”
Waver : “Huff…apa yang kamu katakan Istriku?
”
Preman 2 : “Hey Kakek tua, serahkan barang-barang kalian sekarang juga...”
Waver : “
hikz…apakah aku sudah setua itu…”
Murid : “
”
Gas Pol Kan : “Guru, biar aku yang hadapi mereka semua…”
Waver : “Stop, untuk keadaan seperti inilah kemampuanku sebagai pertapa dibutuhkan. Kalian semua carilah tempat yang aman, pertarungan ini akan cukup keras…
”
Preman 3 : “Hehehehe…kita lihat seberapa hebat Kakek tua renta ini…
”
Tum Pah Kan : [mencari tempat sembunyi dengan segera] : “Guru, kami serahkan padamu…
”
{backsound : Mission Impossible}
Waver : [berjalan dengan penuh percaya diri, menunduk, lalu menatap wajah para preman dengan tajam] “
”
Preman 1: [pasang kuda-kuda gaya orang mabok]”
”
Waver : [pasang kuda-kuda khas pertapa]“
Bersiaplah untuk menerima Pukulan Tanpa Bayangan !!! hiyaaat, dezzig…!!!”
Preman 1 : “
uhk…@#$”
Preman 2 : “Kurang ajar !!!
rasakan ini, cambuk petir !!!
”
Waver : [mampu menghindari cambukan Preman 2 dengan mudah] : “Too bad, haiyaaaaaa…
”
Preman 1 dan Preman 2 sudah tumbang. Masih tersisa 5 preman lagi di hadapan Waver, satu diantaranya terlihat paling berbeda diantara yang lain, tapi dia sama sekali tidak gentar.
Waver : “Siapa lagi…ayo maju…!!!”
Preman 3 : “Sekarang giliranku...”
Preman 4 : “Ayo kita serang bersama-sama, sepertinya dia cukup hebat…
”
Preman 5 : “Benar, kita serang dia…!!!”
Preman 6 : “Kita habisi dia dengan formasi empat penjuru yang telah berhasil menumbangkan banyak korban…hahahaha…”
Preman 3, 4, 5, dan 6 : [menyerang dari empat penjuru sekaligus]
Merasa terkepung, Waver panik, tapi dia kemudian ingat dia memiliki satu jurus yang tepat untuk situasi seperti ini.
Waver : “Tendangan pusaran angin…!!!
”
Preman 3, 4, 5, dan 6 : [terpental olah tendangan pusaran angin dari Waver] 
Waver : [kelelahan]“Hhh…hhh…tinggal satu lagi…ayo maju…!!!”
Preman 7 : “… … …”
Keenam preman berhasil Waver taklukkan, tapi Preman yang terakhir nampaknya berbeda dengan yang lainnya. Dia cenderung tenang, dan mengamati jurus-jurus yang Waver keluarkan sejak pertarungan dimulai.
Preman 7 : “Sepertinya kau sudah kelelahan Kakek tua…lebih baik serahkan saja barang-barang berharga kalian dan aku biarkan kalian pergi tanpa terlukai…”
Waver : [berkata dalam hati] : “Sial, tenagaku memang sudah terkuras cukup banyak dari pertarungan dengan enam preman tadi.”
Preman 7 : “Kenapa Kau diam? lebih baik kau terima tawaranku, daripada kau berakhir dengan mengenaskan…”
Waver terlihat begitu kelelahan, dia merasa berada dalam situasi yang kurang menguntungkan kali ini. Terlebih lagi, musuhnya kali ini terlihat begitu kuat dan berbeda dengan sebelumnya. Sementara itu, kedua murid perempuan Waver memberi semangat kepada gurunya.
Diantemi dan Siskamling : “Go Guru go Guru gooo…Go Guru go Guru gooo…yeeha…!!!
”
Waver : [melihat kedua murid perempuannya] : “Wah, terimakasih murid-muridku…
”
Preman : [mendekati Waver dengan kecepatan super tinggi lalu berbisik di telinga Waver] : “Tidak ada waktu untuk mengalihkan perhatian, Kakek tua…”
Waver : [terkejut] : “Hah…gerakannya cee..cepat sekali…
uhk…”
Gerakan Preman 7 yang sangat cepat dan sulit diprediksi membuat Waver tidak menyadari keberadaannya. Waver berusaha menangkis, tapi naas Waver terkena pukulan dari Preman 7 dengan cukup telak.
Waver : [terpental cukup jauh dan terkapar]“
”
Cici : [berlari mendekati suaminya] : “Suaamikuuu…
Kau tidak apa-apa?”
Waver : [berdiri dengan perlahan] : “Tidak apa-apa Istriku…
menepilah, akan aku selesaikan pertarungan ini dengan cepat…uhk…”
Cici : “Tapi kau terluka cukup parah…”
Waver : “Ini tidak seberapa…cepat menepi, aku tidak ingin Kau terkena pukulannya juga…”
Cici : “Baiklah Suamiku…berhati-hatilah…”
Preman 7 : “Heuheuheu…tampaknya Kakek tua ini mulai serius, baiklah, aku juga tidak akan main-main lagi…akan ku tunjukkan kekuatanku yang sebenarnya…”
Preman 7 terlihat membuat gerakan-gerakan aneh seperti akan melakukan sesuatu. Waver khawatir, apa yang akan dilakukan musuhnya kali ini.
Preman 7 : “Hiyat, hiyat…ajian merubah bentuk…
”
Waver : “Hah ? itu kan gerakan yang sama seperti muridku tadi ??? huwahahahhaha…jurus yang aneh…huwahahahha…”
Preman 7 : “Sial, ini adalah jurus andalanku, jangan Kau anggap remeh Kakek tua, atau Kau akan menyesal !!! hiyaaaaaaaaaaat, berubaaaaah…
rooaar, roarrr…!!!”
Waver : “Wah, sepertinya dia tidak main-main, baiklah, aku juga akan keluarkan jurus pamungkasku…”
Waver terlihat menengadahkan tangannya ke atas, entah apa yang akan dia lakukan.
Waver : “Wahai, Zat Yang Maha Memiliki Kekuatan, dengan segala kerendahan hati aku memohon kepada-Mu, ijinkanlah kekuatan-Mu mengalir ke dalam tubuhku, merasuk ke dalam tulang-tulangku, mengalir di dalam darahku, dan sebagai jalanku untuk mengalahkan kedzoliman…”
Seketika itu, terlihat aura kekuatan memancar dari sekujur tubuh Waver. Dia seperti mendapat kekuatan baru yang begitu dahsyatnya.
{Backsound : Jeng Jeng Jeng Jeeeet ... !!!}
Waver : “Haiiiyaaaa…
”
{Backsound : Mortal Kombat}
Preman 7 : “Bersiaplah…” [bergerak dengan sangat cepat lalu mengeluarkan kilatan petir dari mulutnya]
Ddhuaaaaaaaarrrr !!! Kilatan petir itu meyambar tepat di tubuh Waver.
Waver : “
”
Preman 7 : [berkata dalam hati] “Sial, tidak mempan…”
Waver : “Huwaaa…
dasar preman kurang ajar, belum siap tahu… !!! Orang lagi pose malah langsung diserang…”
Preman 7 : “Huwahahahaha…rasakan itu, siapa suruh kebanyakan gaya…huwahahaha…”
Waver : “Sial, sekarang giliranku…”
Waver bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi bagaikan angin yang berhembus, dan dalam sekejap dia sudah berada tepat di depan musuhnya.
Waver : [berbisik di telinga Preman 7 sambil melancarkan serangan mendadak] “Tidak ada waktu untuk tertawa…”
Preman 7 : [menghindari serangan Waver] “Too slow, hehehehe…”
Waver : “I’m not finished yet…Serangan Ganda Campuran…hiyaaaaaaaaaat
hiyat, hiyat, hiya…
”
Preman 7 : “Damn…
”
Preman 7 terkena serangan yang cukup telak. Dia terkapar sejenak, tapi bisa segera bangkit. Pertarungan terus berlanjut dalam tempo yang tinggi. Mereka berdua bertarung mati-matian, jurus-jurus ampuh saling bertumbukan. Tangkis serang, tinju tending.
Di Medan Pertempuran : “Dezzig, uhk…buk..ssst duak…swing…whussshhh, tep..tep...tep…hwiiig, duag…buk buk buk…crott…dezzig…siuuuut, plaaak !!! @#$%&*”
Setelah selang beberapa menit tempo pertarungan terlihat menurun, mereka sama-sama kelelahan. Keringat bercucuran dari wajah dan tubuh mereka berdua, nafas mereka terengah-engah. Darah mengalir dari bibir Waver, dan mengalir dari pelipis Preman 7.
Preman 7 : “Kau hebat juga Kakek tua...baru kali ini aku bertemu musuh yang sebanding denganku.”
Waver : “Ya, bersyukurlah anak muda, karena Kau bisa berhadapan langsung dengan pertapa forex yang legendaris ini, heuheuheu…
”
Mereka terdiam sejenak, saling pandang, dan saling memikirkan strategi. Cukup lama mereka saling diam dan berpandangan, mencari celah masing-masing. Sampai akhirnya Preman 7 berlari dengan sangat kencang, melancarkan serangan terkahirnya kepada Waver.
Preman 7 : [berlari dengan kecepatan tinggi] “Jangan banyak bicara Kakek tua, Kau akan segera berakhir dengan serangan terakhirku ini…”
Waver terlihat kaget ketika tiba-tiba Preman 7 berlari mendekatinya dan melancarkan serangan terakhir. Preman 7 menyerang dengan pukulan yang mengarah tepat ke jantung Waver.
The Last Attack :
Di Medan Pertempuran : [hening dan terdengar suara angin berhembus] "Whhhuuuuss...ssss...ss.."
Preman 7 : “Hehehe…tamat sudah riwayatmu…”
Waver : “Seribu tahun terlalu cepat jika Kau ingin menjatuhkanku anak muda…”
Waver memang terlihat terkena pukulan dari Preman 7, tapi sepertinya pukulan itu melenceng dan sama sekali tidak mengenai organ vital dari Waver. Sementara itu, Preman 7 terkena pukulan telak tepat di dadanya yang membuat dia sesak nafas, dan muntah darah. Preman 7 jatuh tersungkur tepat di kaki Waver.
Preman 7 : “Si..si..sial, aku kalah…
”
Waver menunduk mendekati Preman 7, lalu berkata tepat di telinga Preman 7.
Waver : “Tidak ada kalah atau menang dalam hidup ini anak muda. Semua yang Kau anggap kalah dan menang itu hanyalah ujian. Jika Kau merasa menang akan sesuatu, maka hatimu sedang diuji untuk tidak meninggi dan berbangga diri. Jika Kau gagal dan hatimu meninggi, maka yang akan Kau dapatkan adalah kehampaan. Tapi jika Kau merasa kalah, maka hatimu juga sedang diuji untuk bisa ikhlas atas apa yang terjadi dan memperbaiki diri. Jika Kau gagal dan tidak mampu menerima takdirmu, maka yang akan Kau dapatkan adalah keputus asaan serta dendam sepanjang hidupmu. Kau harus mengalami nasib seperti ini agar Kau belajar menjadi manusia yang lebih baik, yang mampu bermanfaat bagi orang lain. Bukan menjadi orang yang menebar keresahan dan kedzoliman. Ingat pesan ini baik-baik, dan rubahlah hidupmu…”
Pertarungan telah berakhir, Preman itu mendapatkan balasan atas perbuatan buruknya, tapi sekaligus mendapat pelajaran dari Waver sang pertapa. Waver berjalan kea rah Istri dan muridnya dengan langkah yang tertatih.
Cici : [lari menghampiri Waver] “Suamiku…kau terluka…”
Waver : “Tidak apa-apa istriku, ini semua demi keselamatanmu, dan murid-muridku…”
Cici : [mendekat] “Suamiku…terimakasih…” 
Murid : [berteriak dengan penuh kegembiraan] “Ehm, Guru…sepertinya pertarungan sudah berakhir, ayo kita pulang…”
Gas Pol Kan : "Prikitiuuww..."
Waver : “Hehehe…benar…sudah larut
, ayo kita segera pulang…”
Setelah mengalami pengalaman yang menyenangkan karena bisa jalan-jalan dan refreshing, sekaligus mengerikan karena bertemu dengan preman, mereka akhirnya bisa pulang dengan selamat. Di tengah perjalanan mereka bebincang santai.
Siskamling : “Guru…kami benar-benar berterimakasih kepada Guru…”
Diantemi : “Iya Guru, kalo tidak ada Guru, mungkin kami sudah…”
Waver : “Ah, sudahlah…tidak perlu berterimakasih atas suatu kewajiban. Sudah kewajibanku untuk melindungi istri dan murid-muridku…”
Kasian : “Tapi tetap saja kami harus berterimakasih kepada Guru…”
Tum Pah Kan : “Iya Guru, Guru hebat…aku tadi sempat takut waktu Preman itu mengeluarkan serangan terakhirnya, aku kira Guru terkena pukulannya…”
Gas Pol Kan : “Benar Guru, Gerakan terkahir Guru tadi benar-benar cool, kapan-kapan aku ajari bela diri juga ya Guru…biar bisa seperti Guru tadi, hehehe…”
Waver, Istrinya, dan Murid yang lain : “Hahahaha…”
Perkembangan diantara mereka berlima sangat beragam. Siskamling yang memang sudah terlihat cerdas dari awal, kini telah menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Dia adalah murid yang paling mampu menangkap dan memahami pelajaran dengan baik. Sedangkan murid yang lain cenderung berada di bawahnya. Hal ini menyebabkan terjadi kesenjangan diantara mereka berlima.
Suatu hari diruang kelas, terjadilah percakapan diantara murid-murid Waver.
Kasian : “Siska, ajari aku donk…aku masih belum paham neeh tentang Bolinger Bands…
”
Tum Pah Kan : “Iya, aku juga belum paham-paham…ajari ya…
”
Siskamling : “Ah, itu kan pelajaran yang paling awal dan paling dasar. Masa sampe sekarang belum paham juga…makanya belajar donk, backtest, review lagi catatan-catatan tentang BB itu yang pernah Guru kasih.”
Kasian : “Udah Sis, aku udah backtest…udah baca ulang-ulang. Tapi masih aja belum paham. Mungkin kalo ada yang membantu menjelaskan lagi pelan-pelan aku bisa lebih paham…”
Siskamling : “Hm…gampang dech, tapi lain kali aja ya…aku lagi sibuk backtest untuk indicator yang baru saja Guru kasih.”
Kasian : “Wah, terimakasih Siska…”
Tum Pah Kan : “Horeee…aku ikutan ya…”
Diantemi : “Aku juga…”
Gas Pol Kan : “… … …”
Setelah hari itu berlalu, Siskamling tidak pernah lagi mengingat janjinya untuk membantu teman-temannya dalam belajar. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Sementara itu Gas Pol Kan ternyata termasuk ke dalam salah satu murid yang memang lambat dalam memahami sesuatu. Mungkin karena selama ini dia lebih cenderung menggunakan ototnya. Namun, berbeda dengan teman-teman yang lain. Jika teman-teman yang lain tidak tahu, maka mereka cenderung bertanya. Sedangkan Gas Pol Kan memilih untuk diam dan mencari jawabannya sendiri.
Perbedaan diantara Siskamling dan murid lainnya semakin hari semakin jauh. Dia semakin memahami begitu banyak indicator, sedangkan murid yang lain cenderung berkutat dengan satu indicator awal yang diajarkan oleh Waver. Nampaknya, kesenjangan diantara murid-murid ini diketahui oleh Waver. Suatu hari di ruang kelas, terjadi percakapan antara mereka berlima.
Siskamling : [berbiacara sendiri sambil mengutak-atik meta trader] : “Hm…sepertinya kalo ini seperti, bakalan begini. Ada kelemahan di sini, terus…hm…kalo ditambah indicator yang ini bisa klop…
”
Kasian : “Siska…kapan neeh nagajarin kita yang masih belum paham sama BB ?”
Siskamling : “Eh, kayaknya jangan sekarang yah…lagi ada riset tentang penggabungan indicator neeh…pusing…
”
Kasian : “Yah, dari dulu juga bilangnya gitu…jangan sekarang…jangan sekarang…”
Tum Pah Kan : “Tapi ujung-ujungnya ga pernah ditepati…”
Diantemi : “Udah lah, biarin aja…kita belajar sendiri…Gas, ikutan ga?”
Gas Pol Kan : “Hm… … …bo...”
Siskamling : “Nah, gitu donk…belajar sendiri. Biar ga ganggu orang lain terus…”
Gas Pol Kan : “Oh, jadi kamu ngerasa keganggu dengan permintaan Kasian dan Adikku ?”
Siskamling : “… … …”
Kasian : “Pantesan ga pernah mau ngajarin…”
Siskamling : “Eh, kok jadi gitu seeh ? emang seharusnya kalian belajar sendiri kan ? meteri udah dikasih, komputer udah ada…masa harus diajarin lagi…”
Tum Pah Kan : “Tapi kan, kita kesulitan belajar sendiri…siapa tahu kalo diantara kita ada yang lebih paham, bisa memberi … “
Belum selesai Tum Pah Kan berbicara, Waver, yang memang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dari luar pintu kelas, kemudian masuk.
Waver : “
ehm…ada apa kok ribut-ribut ?”
Gas Pol Kan : “Ini Guru, Siskamling tidak mau menepati janjinya…”
Siskamling : “Eh…itu kan urusan kalian masing-masing…”
Waver : “Sudah.. sudah…jangan berteman…”
Murid : “
”
Waver : “Eh, maksudku jangan bertengkar…
”
Murid : “
”
Waver : “Sebenarnya aku sudah tahu masalah kalian. Aku juga mendengar percapakan kalian barusan. Hm…begini, memang benar aku sudah memberikan materi yang perlu kalian pelajari.”
Siskamling : [menyela pembicaraan Waver] : “Tuh kan…”
Waver : "Siska, dengarkan dulu…
memang benar hampir semua materi sudah aku berikan kepada kalian. Kalian sudah mencatat di buku catatan masing-masing. Seharusnya disetiap waktu senggang kalian bisa memepelajari kembali catatan kalian sambil mempraktekkannya. Di kamar kalian sudah ada komputer untuk tiap orang. Kalian bisa memanfaatkan komputer itu masing-masing untuk menambah pemahaman kalian. Namun, tidak setiap orang memiliki kemampuan yang sama dalam mencerna dan memahami sesuatu. Ada yang cenderung cepat. Cukup diberi satu materi sudah mampu memahami dan menguasainya, seperti Siska. Tapi ada juga yang sedikit lambat dalam memahaminya. Ada kalanya mereka yang kurang cepat dalam memahami sesuatu itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai tahap paham. Dan terkadang, mereka tidak hanya cukup dengan membaca ulang catatan mereka sendiri, mereka biasanya lebih bisa memahami jika ada orang yang senantiasa membimbingnya secara perlahan. Membimbing secara langsung bukan sekedar mengulang membaca catatan-catatan mereka sendiri. Nah, itulah sebenarnya tugas salah satu diantara kalian jika ada yang lebih paham, maka ajari teman yang lain yang belum paham. Mengerti ?”
Siskamling : “Tapi Guru, kan aku juga butuh belajar untuk memahami indicator-indikator yang lain. Sedangkan mereka masih belum paham dengan indicator awal seperti BB yang sudah dari awal Guru ajarkan.”
Waver : “Ckckck…baiklah, hari ini tidak ada materi…ikut aku kelua. Ada hal yang ingin aku tunjukkan pada kalian semua...”
Murid : [mengikuti Waver dari belakang]
Waver : “Coba kalian perhatikan pelangi itu…”
Diantemi : “Wah, bagus sekali Guru…”
Kasian : “Iya, padahal aku sering lewat sini tapi kok tidak tahu ada pelangi di sini ya…”
Waver : “Sekarang, dari warna-warna pelangi itu…mana yang paling kalian sukai ? Siska, kau memilih lebih dulu…”
Siskamling : “Ehm…aku suka hijau warna biru Guru…”
Diantemi : “Aku merah muda…”
Tum Pah Kan : “Hijau…”
Kasian : “Kuning Guru…”
Waver : “Gas…???”
Gas Pol Kan : “Merah Guru…”
Waver : “Baik…sekarang, jika pelangi itu hanya memiliki satu saja warna, seperti yang kalian pilih tadi. Apakah pelangi itu akan terlihat indah ?”
Murid : “Tidak Guru…”
Tum Pah Kan : “Seperti apa ya jadinya kalau pelangi itu cuma ada satu warnanya…”
Kasian : “Aneh Guru…satu warna saja, mungkin terlihat membosankan…”
Diantemi : “Iya…masa’ hanya ada warna merah muda saja yang melengkung…kurang menarik.”
Waver : “Nah, kalian berlima ibarat warna pelangi. Masing-masing diantara kalian mempunyai karakter yang berbeda-beda. Mempunya ikemampuan yang tidak sama, gaya bicara, dan lain-lain. Dan semua hal yang ada di dalam kalian itu membuat kalian unik. Sama halnya dengan pelangi, ada yang merah, kuning, hijau, dan warna lainnya. Kesemua warna itu akan indah jika semuanya bersatu dan berdampingan. Tapi jika berdiri sendiri-sendiri, maka pelangi yang indah tidak akan terwujud. Maka, seperti itulah kita dalam menjalani kehidupan ini. Kita akan bertemu dengan begitu banyak orang dengan berbagai macam karakter yang unik. Yang berbeda satu sama lain. Dalam menjalani kehidupan ini, kita bisa belajar dari pelangi. Meskipun kita merah, kita kuning, kita biru, atau apapun. Kita harus tetap berdampingan dan tidak perlu merasa paling baik, paling tampan, paling cantik, atau perasaan-perasaan lain yang akan menimbulkan perpecahan. Mereka bersatu bukan karena kemerahan mereka, bukan karena kehijauan mereka. Warna-warna pelangi itu bersatu, karena kesadaran mereka bahwa mereka sebenarnya hanyalah warna yang timbul akibat bias dari satu warna, yaitu putih. Karena kesamaan itulah mereka bersatu padu, dan akhirnya terbentuklah pelangi yang indah. Beigut pula dengan kita, kesadaran kita sebagai manusia, dan kesamaan kita sebagai manusia yang seharusnya mampu membuat kita bersatu dengan manusia yang lain. Berjalan bersama, saling membantu dengan penuh keikhlasan, saling memberi tanpa pamrih, dan saling melengkapi. Kalian memang harus menemukan kemerahan, kehijauan, atau kebiruan kalian masing-masing. Artinya, kalian harus benar-benar mempelajari, dan melihat kekurangan serta kelebihan di dalam diri kalian masing-masing. Tapi itu semua bukan untuk membuat kalian sadar bahwa kalian paling merah, paling hijau, atau paling biru. Ketika kalian sadar bahwa kalian merah, hijau, kuning, ataupun biru. Seharusnya kalian semakin sadar akan keberadaan warna yang lain. Bahwa kalian juga hidup berdampingan dengan warna yang lain. Dan semakin kalian sadar akan kemerahan kalian sendiri, seharusnya itu tidak membuat kalian tinggi hati dan tidak menerima warna yang lain. Tapi semakin kalian sadar akan kemerahan kalian, maka kalian akan sadar bahwa sebenarnya kalian hanyalah bias dari satu warna, yaitu putih. Kalian akan semakin senang untuk berbaur dengan warna yang lain, karena peleburan semua warna itu di dalam kesatuan, akan kembali menjadi putih. Semerah apapun kalian, sekuning apapun kalian, pada dasarnya kalian berasal dari warna putih. Dan warna bias itu akan hilang, ketika penyebab adanya bias itu juga hilang. Apakah kalian akan terus menyombongkan diri bahwa kalian warna merah, padahal merah itu sendiri hanya warna bias ?”
Murid : [menyimak]
Waver : “Tidak perlu merasa paling baik, paling pintar, atau paling benar. Jika kalian memang dikaruniai kelebihan dalam hal kecerdasan, maka berbagilah dengan orang-orang yang kurang cerdas. Jika kalian dikaruniai kelebihan dalam hal ilmu, maka ajarkanlah ilmu itu walaupun hanya sedikit. Dengan mengajarkan, kita tidak akan menjadi bodoh. Justru kita akan semakin paham, dan ilmu kita akan semakin bertambah. Kita akan semakin mendapatkan pemahaman-pemahaman baru yang sebelumnya belum kita ketahui. Apa kalian mengerti ?”
Siskamling : [tertunduk] : “
”
Kasian : “Mengerti Guru…”
Diantemi : “Mengerti…”
Gas Pol Kan : “Iya Guru, mengerti…”
Tum Pah Kan : “Guru, saya tidak tahu apa-apa…apa yang harus saya bagikan ?”
Waver : “Sebenarnya setiap manusia itu dilahirkan dengan kelebihan masing-masing. Tapi kebanyakan tidak sadar atau tidak tahu dimana letak kelebihannya. Terkadang juga terlalu malas untuk menggunakan dan melatih kelebihannya itu…Tum, aku yakin ada ilmu yang bisa kamu berikan kepada orang lain. Tidak hanya dalam hal trading, apapun itu…temukan apa yang menjadi kelebihanmu, dan berbagilah.”
Tum Pah Kan : “Baik Guru…saya mengerti…”
Waver : “Siska…tidak perlu berkecil hati…apa yang ingin aku sampaikan bukan untuk menyudutkanmu. Tapi aku ingin kamu bisa lebih berbagi kelebihanmu dengan teman-teman yang lain. Ingatlah perjalanan yang kau lakukan bersama keempat temanmu untuk menuju kesini. Kalian semua datang dengan penuh harapan, dengan kesamaan tujuan untuk belajar forex trading. Untuk mengusahakan jalan yang lebih baik dalam kehidupan kalian. Susah dan senang telah kalian alami bersama beberapa bulan terakhir ini. Apakah Kau mau hanya menjadi satu-satunya yang memahami forex trading, dan apakah Kau senang teman yang lainnya terpuruk dalam ketidak tahuan ?”
Siskamling : “Tidak Guru…maafkan saya teman-teman…
”
Kasian : “Ya sudahlah…kami tidak marah kok…kami juga harus lebih giat lagi dalam belajar masing-masing agar bisa lebih paham lagi.”
Diantemi : [mendekati Siskamling] : “Sudah…kami tidak apa-apa kok…”
Waver : “Tum, Gas, Ian, Dian…kalian juga harus lebih giat lagi dalam belajar. Berdiskusilah dengan Siska agar kalian berlima bisa sama-sama menjadi pelangi yang indah.”
Murid : “Baik Guru…
”
Setelah memberikan pelajaran tentang pelangi kehidupan, Waver dan muridnya kembali ke kelas.
Waver : "Sepertinya hari ini cukup sekian...silakan kalian berdiskusi..."
Tum Pah Kan : "Guru, ada yang mau saya tanyakan..."
Waver : "Ya...silakan..."
Tum Pah Kan : "Hm...Guru kan pintar, bisa berkelahi, pasti banyak wanita yang terpukau...terus...gimana sih waktu Guru bertemu dengan Guru Cici ?"
Murid yang lain terlihat sangat terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Tum Pah Kan.
Gas Pol Kan : "Dik, kenapa tanya hal aneh seperti itu ?"
Tum Pah Kan : "Soalnya saya pengin tahu Kak...gimana sih cara Guru ketika memikat Guru Cici..."
Waver : "Huwahahahaa...boleh juga. Selagi tidak ada materi...tapi yang pasti Guru Cici kalian itu yang mengejar-ngejarku. Aku kan cakep, imut, pemberani, pintar, pokoknya Guru Cici itu klepek-klepek dech waktu pertama bertemu denganku...huwahahaha...
"
Tanpa disadari, Pecicilan telah berdiri dibelakang Waver.
Cici : "Ehm...
"
Waver : "Eh...ada Istriku, sejak kapan Kau disitu ?
"
Cici : "Kenapa menceritakan hal yang tidak-tidak seperti itu...kapan aku mengejar-ngejarmu ?!
"
Waver : "Uhuk...ampun Istriku...aku hanya bercanda..."
Gas Pol Kan : "
keren apanya, sama istri aja takut gitu..."
Cici : "Tidak bisa kumaafkan...hari ini, tugas murid laki-laki harus kau kerjakan sebagai hukuman..."
Waver : "Huwaaaa...hikz..hikz...
"
Murid : "Huwahahahaha...
"
Gas Pol Kan : "Suuuusis...wowowo suuuusis..."
Murid : [menyanyi bersama-sama]"Suuuaaami siyeun istri...huwahahaha..."
Mereka semua larut dalam canda tawa. Hari yang bermula dengan kesenjangan, kini kembali berakhir dengan kehangatan kasih sayang. Warna-warna kembali menyelimuti dan menyatukan mereka dalam indahnya pelangi kehidupan.
Setelah mereka memahami kapan saat yang baik untuk membuka dan menutup posisi, Waver meminta mereka berlima untuk berlatih membuka dan menutup posisi pada demo akun. Mereka diminta untuk tidak memperdulikan hasil atau profitnya terlebih dahulu, tetapi lebih kepada pemahanan mengenai timing dan intuisi dalam membuka serta menutup posisi.
Genap dua minggu telah mereka lalui dengan berlatih membuka serta menutup posisi pada demo akun. Sebagian ada yang mulai memahami timing yang tepat, sebagian yang lain masih kesulitan. Namun, terjadi perubahan dalam sisi psikologis pada murid-murid Waver. Berbagai maca keinginan dan perasaan muncul ketika mereka berlima melakukan praktek Open Position. Rasa cemas, takut salah, menyesal ketika minus, dan rasa persaingan antar sesama teman mewarnai benak mereka masing-masing. Melihat hal ini, Waver mengeluarkan salah satu rahasia kesuksesan dalam karir tradingnya selama ini.
Suatu hari diruang kelas, murid - murid terlihat sedih karena masih belum bisa menemukan pemahaman yang baik dalam membuka serta menutup posisi.
Waver : [berjalan memasuki rugan kelas dengan santainya] “
”
Siskamling : “
”
Kasian : “
”
Diantemi : “
”
Tum Pah Kan : “
”
Gas Pol Kan : “
”
Waver : “Wah…sepertinya kondisi kalian sedang tidak bersemangat hari ini…apa ada masalah?”
Tum Pah Kan : “Aku selalu kesulitan untuk membuka posisi yang tepat Guru, selalu saja minus…”
Waver : “Sudah kamu review dimana letak kesalhanmu?”
Tum Pah Kan : “Sudah Guru…memang kalo saya lihat secara perlahan, saya salah dalam menganalisa…terlalu terburu-buru…”
Waver : “Nah…sudah kamu temukan jawaban dari kesalahanmu kan?”
Tum Pah Kan : “Iya Guru…tapi…”
Siskamling : “Aku juga sama Guru…sepertinya aku sudah benar dalam menganalisa, tapi kok belum bisa profit ya?”
Waver : “Coba kamu review lagi dengan tenang, apakah ada terlewat atau luput dari analisa yang kamu lakukan.”
Siskamling : “Baik Guru…”
Waver : “Yang lain ?”
Kasian : “Aku masih susah dalam menganalisa Guru…”
Diantemi : “Sama Guru…susah buat mengumpulkan beberapa informasi dari indicator sekaligus lalu membuat strategi open positionnya…”
Waver : “Jam terbang yang tinggi akan membuat kalian memahami bagaimana mengumpulkan informasi dari berbagai indicator sekaligus untuk kemudian diolah menjadi sebuah strategi. Teruslah berlatih dan berdiskusi dengan teman yang lain yang lebih paham…Gas, bagaimana denganmu?”
Gas Pol Kan : “Hm…begini Guru…apakah setiap posisi yang kita buka berdasarkan analisa yang benar, setelah kita mengumpulkan informasi dari seluruh indicator yang kita gunakan, hasilnya akan selalu profit?”
Waver : “Pertanyaan yang sangat bagus…jawabannya, tidak ada yang tahu kemana harga bergerak setelah ini dan sampai dimana, iya kan?”
Gas Pol Kan : “Iya Guru…kalo itu aku paham…berarti percuma donk kita melakukan review karena pada akhirnya tidak semua posisi yang kita buka memang menghasilkan profit?”
Waver : “Tentu saja tidak ada yang sia-sia jika kita mau mereview posisi-posisi kita yang minus. Kita akan menjadi lebih paham kapan, dan bagaimana kita akan membuka posisi. Sangat mungkin ada informasi yang terlewat dari analisa yang kita lakukan. Oleh karena itu, review akan membuat kita lebih teliti. Tapi, kita juga tidak bisa terus menerus menyalahkan diri kita sendiri karena posisi minus yang kita peroleh. Kita harus sadari sepenuhnya bahwa kita tidak tahu kepastian akan pergerakan harga. Menyalahkan diri sepenuhnya sangat tidak bijaksana karena hal ini akan membuat mental kalian down. Ketika posisi kita salah, pertama-tama terimalah kenyataan bahwa kita tidak tahu pasti kemana harga bergerak. Hal ini penting untuk tetap membuat mental kita terjaga. Lalu yang kedua lakukan review, karena kita mencari kemungkinan terbesar dengan memperhatikan perilaku pergerakan harga serta informasi yang kita dapat dari indicator yang kita gunakan. Semakin kita pelajari kesalahan-kesalahan kita, kita akan semakin baik lagi dalam menganlisa, semakin teliti dan kita memperoleh pelajaran berharga dari pengalaman kita tersebut yang kita alami sendiri. Pengalaman atau perasaan seperti ini yang tidak bisa aku ajarkan. Kalian harus mengalaminya sendiri untuk menambah keyakinan kalian, dan mempertajam intuisi.”
Kasian : “Hm…begitu…baik Guru…akan aku lakukan. Tapi…aku selalu tidak yakin dalam menganalisa, strategi sudah aku peroleh, tapi ketika harga bergerak sesuai harapan, aku tidak berani membuka posisi Guru…apa yang harus saya lakukan? Apalagi setelah beberapa kali melakukan kesalahan, rasanya minus itu selalu menghantui…
”
Waver : “Apakah yang lain mengalami hal yang sama?”
Murid lainnya : “Iya Guru…”
Waver : “Itu wajar…aku juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang kalian alami saat ini. Saat awal-awal mencoba membuka posisi, aku selalu ragu, tidak yakin, takut…bahkan tidak hanya sampai disitu. Ketika aku bisa membuka posisi yang profit, aku jadi serakah dan mengharapkan harga terus bergerak sesuai posisi yang aku buka.”
Diantemi : “Benar Guru…aku juga merasakan hal seperti itu…”
Waver : “Baiklah…kali ini kita tidak akan mempelajari tentang indicator, atau hal lain yang berhubungan dengan analisa…”
Gas Pol Kan : “Lalu, belajar apa hari ini Guru?”
Waver : “Hari ini…kita akan belajar untuk mensugesti diri sendiri dengan perasaan-perasaan positif, yang akan membantu kita dalam mencapai tujuan kita. Tidak hanya dalam forex trading, tapi dalam semua hal, kita akan menjadi lebih tenang, dan hidup penuh gairah. Apa kalian tertarik?”
Murid : [diam tidak menjawab] “
”
Waver : “OK, sekarang kita akan pergi ke danau…”
Murid : “Horeeee…
”
Mereka berenam beranjak dari ruang kelas dan menuju danau di dekat rumah Waver.
Waver : “
Ffiuuuhhhh…segarnya…kita telah sampai…silakan kalian duduk dengan berbaris.”
Murid : “Baik Guru…”
Dibawah rindangnya pepohonan, mereka berlima duduk dengan tenang mendengarkan Waver yang memberikan pelajaran baru. Suara Waver yang tenang serasa diiringi kicauan burung-burung yang bermain riang di dahan dan ranting.
Waver : “Sebelumnya…aku ingin bertanya, apa yang kalian rasakan ketika kalian berhadapan dengan grafik atau ketika kalian akan memulai menganalisa ?”
Tum Pah Kan : [menjawab dengan segera] “Takut Guru…”
Siskamling : “Ragu-ragu Guru…”
Kasian : “Iya sama Guru…”
Waver : “Yang lain ?”
Gas Pol Kan dan Diantemi : “Sama Guru…”
Waver : “Hm…padahal seharusnya kalian merasa bahagia ketika menghadapi chart, senang saat menganalisa, dan kalian menikmati setiap detik terbentuknya candle. Tapi itu wajar karena kalian masih terbilang baru dalam forex trading ini…”
Dientemi : “Ada gak Guru, cara biar kita bisa seperti yang Guru sampaikan barusan?”
Waver : “Nah, itu yang akan kita pelajari kali ini…”
Murid : [menyimak] “
”
Waver : “Para pemula dan bahkan orang yang telah lama bergelut di forex trading ini banyak yang salah dalam mengelola perasaan mereka saat bertrading. Mereka kebanyakan cenderung cemas, takut, khawatir, atau bahkan serakah ketika sudah memperoleh profit. Padahal seharusnya kita bahagia dalam menjalankan bisni ini. Kenapa ? karena kebahagiaan itulah yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan. Bukan sebaliknya, kita sukses dulu baru kita bahagia, itu salah…”
Murid : [masih menyimak]
Waver : “Jadi sebenarnya, kebahagiaan adalah alat untuk meraih kesuksesan. Tidak hanya di forex trading, tapi dalam segala bidang. Sebenarnya untuk apa sih kita susah-susah belajar forex trading?”
Diantemi : [spontan] “Biar cepet kaya Guru…”
Waver : “
”
Gas Pol Kan : [mendekati Waver] : “Ini penghapusnya Guru…
”
Diantemi : [bergetar] “
… … … “
Waver : “Wew...kenapa dibawa kesini penghapusnya...sudahlah
, kalian memang masih anak-anak…coba tanyakan pada hati kalian yang paling dalam, apa yang kalian inginkan dari forex trading ini ?”
Murid : [sunyi] “
”
Tum Pah Kan : “Mmmm…biar seneng Guru…kan kalo punya uang jadi seneng Guru, hehehe…salah ya…
”
Waver : “
Bagus…memang sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini kan kebahagiaan atau perasaan senang seperti yang Tum bilang. Yang kita cari perasaan-perasaan seperti bahagia, perasaan kaya, perasaan senang, dan semua itu sebenarnya sudah tersedia gratis untuk kita.”
Gas Pol Kan : “Maksudnya Guru…???”
Waver : “Maksudnya, semua perasaan itu sesungguhnya sudah ada dalam hati kita. Kita bisa merasa bahagia, merasa puas, merasa kaya, tanpa harus memiliki uang atau harta yang melimpah. Sebenarnya kita semua sudah sukses, dan jika kita kita menjalankan forex trading ini dengan perasaan bahagia dan perasaan bahwa kita sudah sukses seperti itu, maka kita akan semakin menarik hal-hal yang akan membuat kita bahagia dan kita benar-benar sukses menjalankan bisnis ini.”
Siskamling : “Kok bisa gitu Guru???”
Waver : “Yap, karena ketika kita merasa bahagia, maka secara tidak kita sadari, hukum tarik menarik yang ada di alam semesta ini akan bekerja. Kita akan semakin menarik kebahagiaan-kebahagiaan lain untuk datang kepada kita. “
Kasian : “Jadi, kalo kita merasa ragu-ragu, takut, dan lain-lain itu juga akan menarik ketakutan dan keraguan lainnya ya Guru…”
Waver : “Tepat sekali…ketika kalian merasa takut, ragu, khawatir, maka perasaan-perasaan itu yang menjadi focus kalian. Dan perasaan yang kalian fokuskan itu yang akan menarik hal-hal yang sama dengan apa yang kalian fokuskan.”
Diantemi : “Oh…pantes, semakin kita takut, berarti kita semakin mendatangkan ketakutan-ketakutan lainnya ya teman-teman ?”
Gas Pol Kan : “Iya…baru tahu neeh…”
Siskamling : “Lalu, gimana caranya kita bisa merasa sukses atau bahagia padahal kita belum sukses di forex trading ini Guru?”
Waver : “Sebelumnya, mari kita coba ubah pandangan kalian tentang arti sukses terlebih dulu. Sukses itu bukanlah sebuah pencapaian, melainkan hasil dari perasaan hati yang bahagia. Nikmatilah proses yang sedang kalian jalani dalam menekuni bisnis forex trading ini. Jangan dulu melihat hasil akhirnya. Karena jika perasaan kalian bahagia dalam menjalani forex trading, maka hasilnya pasti kesuksesan. Itulah kenapa waktu pertama kali kalian datang kesini, aku tidak menerima kalian jika kalian terus menerus berpikiran untuk kaya dengan cara yang instan. Kalian jadi tidak bisa menikmati prosesnya, tidak bisa berbahagia dalam menjalan prosesnya. Dan jika tetap seperti itu, maka usaha kalian akan sia-sia. Karena seandainya kalian mampu menghasilkan ratusan dollar dalam sehari dari forex trading ini, tapi hati kalian tidak berbahagia dan tidak menikmati prosesnya. Maka yang kalian dapatkan tidak pernah membuat kalian bahagia. Kalian akan terus dihantui perasaan untuk mencari yang lebih, karena hati kalian selama ini memang tidak puas, tidak menikmati, dan tidak bahagia menjalankannya.”
Gas Pol Kan : “Tapi…Guru…apakah Guru yakin jika kita menikmati, atau berbahagia dalam menjalankan proses belajar kami di sini, kami akan memperoleh apa yang kami cari ??? padahal diluaran sana biasanya cenderung menuntut sikap ambisius untuk memperoleh kesuksesan.”
Waver : “Apa yang dipahami sebagian besar orang selama ini memang kurang tepat. Mereka beranggapan bahwa kita harus penuh ambisi atau ngotot untuk meraih kesuksesan. Itu karena mereka tidak sadar bahwa kesuksesan itu sudah ada di dalam hati mereka masing-masing. Perasaan puas, perasaan kaya itu sudah tersedia dua puluh empat jam non stop di dalam hati kita. Mereka yang mencarinya diluar, tidak akan bertemu kecuali kesenangan yang sifatnya semu, yang semakin membuat mereka tidak puas dan larut dalam gelombang ambisi yang tak berujung. Kalian tidak perlu percaya pada hukum tarik menarik yang telah aku jelaskan tadi. Tapi hukum ini berlaku universal di alam semesta. Seperti contohnya, kalian tidak perlu percaya bahwa bumi ini mempunyai gaya gravitasi. Tapi ketika kalian melepaskan gelas dari genggaman kalian, gelas itu akan jatuh dengan sendirinya tanpa meminta kepercayaan atau persetujuan dari kalian, gelas itu akan pecah. Dan inilah yang berlaku juga pada hukum tarik menarik. Kalian boleh tidak percaya, tetapi ketika kalian memfokuskan perasaan kalian pada sesuatu yang negatif, maka secara otomatis hal-hal negatif itu akan semakin datang menghampiri kalian...”
Gas Pol Kan : “Aku percaya sekarang Guru…”
Siskamling : “Jadi begitu…aku juga percaya Guru…”
Kasian : “Percaya Guru…”
Diantemi : “Aku dari awal udah percaya kok Guru…”
Tum Pah Kan : “Iya Guru…percaya…”
Waver : “Bagus…tapi…percaya bahwa hukum itu benar saja tidak cukup. Sama seperti halnya kalian percaya bahwa aku mampu hidup dari hasil forex trading. Kalian benar-benar percaya ketika kalian berinteraksi secara langsung hari demi hari bersamaku. Ketika kalian percaya akan kebenaran bahwa aku bisa hidup dari hasil forex trading, apakah cukup hanya dengan percaya? Tidak, karena kalian ingin menggeluti bisnis ini, maka kalian juga harus yakin bahwa kalian juga bisa hidup dari bisnis forex trading ini. Sama halnya dengan hukum yang berlaku di alam semesta ini. Kalian tidak hanya harus percaya bahwa hukum itu benar-benar berlaku, tapi kalian juga harus yakin bahwa hukum itu nyata.”
Tum Pah Kan : “Maksudnya Guru…bingung…”
Waver : “Maksudnya…kalian harus membuktikannya sendiri secara langsung agar kalian ngeh, dan mengalami secara nyata bagaimana hukum tarik menarik itu berlaku…”
Tum Pah Kan : “Bagaimana caranya Guru…”
Waver : “Sepertinya kalian benar-benar tertarik…baiklah…sekarang kita lanjutkan ke tahap selanjutnya…”
Murid : “Siap Guru…”
Waver : “Sebelum kita beranjak ke tahap selanjutnya. Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui. Untuk kita bisa memanfaatkan dengan baik hukum tarik menarik, kita harus berada dalam keadaan yang tenang.
“
Siskamling: “Maksudnya Guru ?”
Waver : “Maksudnya, kalian harus masuk kedalam keadaan yang setenang mungkin. Atau, nama kerennya meditasi, heuheuheu…
”
Murid: “Oh…meditasi…”
Waver: “Ya…hukum tarik menarik itu bekerja dalam suatu frekuensi yang sangat halus. Jadi agar kita bisa memanfaatkannya, kita juga harus memposisikan diri kita ke dalam frekuensi yang halus itu. Caranya dengan meditasi.”
Kasian : “Meditasi itu gimana caranya Guru? Apa yang harus kita lakukan?”
Waver : “Meditasi itu secara sederhana kita memposisikan diri kita setenang mungkin, sepasrah mungkin kepada Zat Yang Maha Menguasai Urusan. Jadi pertama-tama kita akan mencari posisi yang paling nyaman, kali ini contohnya kita akan duduk seperti ini. Lalu kita mengatur nafas kita agar teratur, kita tenangkan pikiran kita dan lepaskan setiap beban yang ada. Setiap perasaan negatif yang akan menghambat kesuksesan kita, kita lepaskan.”
Waver mencontohkan cara meditasi dengan duduk bersila. Dan semua murid-muridnya mengikuti posisi duduk tersebut secara bersamaan.
Tum Pah Kan: “Begini Guru?
”
Waver : “Yupz…benar seperti itu...sekarang coba kalian tarik nafas secara perlahan melalui hidung, lalu keluarkan secara perlahan melalui mulut seperti kalian sedang meniup sedotan. Seperti ini…
” (Karena keterbatasan smiley, maka ini dianggap sedang menghembuskan nafas, red.
)
Murid : [menarik nafas lalu menghembuskannya seperti yang dilakukan Waver]
Waver : “Iya benar seperti itu, tapi itu akan kita lakukan nanti. Hal yang harus kalian ketahui selanjutnya adalah afirmasi. Afirmasi itu adalah kata-kata yang kita gunakan untuk mensugesti diri kita sendiri. Afirmasi itu berisi kata-kata positif yang nantinya akan direspon oleh alam bawah sadar kita. Sehingga kata-kata itu akan bekerja dalam frekuensi yang halus dengan memanfaatkan hukum tarik menarik.”
Diantemi : “Contohnya seperti apa Guru kata-kata positif itu?”
Waver : “Sebenarnya bisa macam-macam, yang penting sesuai dengan tujuan yang akan kita capai dan mudah kita mengerti. Karena kali ini kita adalah seorang trader, maka kali ini kita akan menggunakan afirmasi yang berhubungan dengan aktifitas trading yang kita lakukan. Contohnya :
Terimakasih Tuhan, aku senang karena atas ijin-Mu
aku mampu mempelajari, memahami, dan menjalankan bisnis forex trading ini dengan mudah dan menyenangkan sehingga hasilnya adalah kesuksesan yang nyata di dunia dan akhirat
aku senang, aku mampu menemukan system trading yang cocok dengan pergerakan harga, sehingga apapun pairnya, kapanpun, dan bagaimanapun kondisi pasar, aku mampu menghasilkan profit yang konsisten
Itu salah satu contoh yang bisa kalian gunakan. Afirmasi itu bisa diucapkan dalam hati atau dengan disuarakan melalui mulut dan diusahakan ucapkan dengan seyuman. Lalu kapan akan kita ucapkan afirmasi itu? Afirmasi akan kita ucapkan ketika kita telah memasuki kondisi yang sangat tenang dan sangat nyaman.”
Gas Pol Kan: “Oh...begitu Guru…”
Diantemi : “Berarti setelah kita mengatur nafas seperti tadi itu ya Guru?”
Waver : “Iya benar, lalu setelah itu adalah visualisasi. Apa itu visualisasi? Visualisasi artinya kita menggambarkan afirmasi itu ke dalam imajinasi kita. Sehingga kita benar-benar merasakan keinginan atau cita-cita yang kita ucapkan dalam afirmasi tersebut menjadi kenyataan. Kita benar-benar menghidupkannya secara nyata di dalam imajinasi kita. Kalo kalian mengucapkan afirmasi mengenai trading, berarti kalian akan memvisualisasikan aktivitas trading itu. Kalian gambarkan secara nyata apa yang kalian lakukan ketika pertama kali menghidupkan komputer lalu membuka grafik. Beri warna yang jelas setiap indicator yang kalian gunakan, rasakan tangan kalian benar-benar memegang mouse lalu menganalisa. Lalu imajinasikan kalian telah membuka posisi, dan posisi yang kalian buka searah dengan pergerakan harga sehingga profit kalian peroleh. Begitu seterusnya, pokoknya kalian harus benar-benar bisa merasakan bahwa afirmasi kalian telah terwujud atau telah dikabulkan. Itulah yang dimaksud dengan visualisasi…
”
Gas Pol Kan : “Guru…setelah visualisasi dan afirmasi tadi, apa ada langkah lainnya?”
Waver : “Tentu…dan ini yang paling penting, tapi sebelumnya apa ada yang ingin ditanyakan dari penjelasan afirmasi dan visualisasi tadi?”
Murid : “
”
Waver : “Hm…aku anggap kalian sudah paham…sekarang adalah hal terakhir dari rangkaian meditasi yang akan kita lakukan. Yaitu syukur dan ikhlas.”
Siskamling : “Apa itu Guru?”
Gas Pol Kan : “
Mungkin jenis makanan terbaru, kan kita lapar neeh, udah hampir siang lagi…
”
Waver : “
Ini bukan makanan…syukur dan ikhlas itu suatu perasaan yang muncul dari dalam hati. Secara seerhana syukur artinya kita menerima dengan senang hati dan puas, serta ikhlas artinya kita menyerahkan sepenuhnya kepada Zat Yang Maha Kuasa. Dua perasaan ini yang menjadi kunci utama dalam meditasi kita agar apa yang kita inginkan bisa tercapai. Semakin kuat kita bersyukur dan semakin ikhlas kita menyerahkan semuanya kepada Zat Yang Maha Esa, maka akan semakin cepat doa atau keinginan kita terkabul. Jadi…setelah kalian memvisualisasikan afirmasi atau doa kalian tadi, selanjutnya luapkan rasa syukur dari dalam hati kalian. Luapkan setinggi-tingginya rasa syukur itu karena doa kalian telah terkabul.”
Gas Pol Kan: “Tapi Guru…bukannya doa kita belum terkabul?”
Gas Pol Kan : “Iya Guru…tadi kan cuma diminta visualisasi, jadi doanya kan cuma terwujud dalam imajinasi…apanya yang harus kita syukuri?”
Waver : “Pertanyaan yang luar biasa…
tidak sia-sia kalian menjadi muridku…
jadi begini…sebenarnya doa atau afirmasi yang kalian ucapkan itu sudah terkabul. Tapi masih dalam realitas quantum, masih dalam bentuk getaran-getaran halus dan belum menjadi materi seutuhnya. Nah, proses perubahan dari getaran ini menjadi wujud yang nyata itu sangat tergantung dengan kualitas syukur dan ikhlas kalian. Jika kalian yakin doa kalian telah terkabul, lalu mensyukurinya, maka hukum tarik menarik akan bekerja dengan baik. Kalian akan semakin menarik doa kalian itu menjadi kenyataan.”
GasPol Kan dan Siskamling : “Oh…begitu…”
Kasian : “Lalu, perasaan ikhlas itu untuk apa Guru?”
Waver: “Perasaan ikhlas itu, kita menyerahkan sepenuhnya hasil dari doa kita, atau perwujudan dari doa kita kepada Zat Yang Maha Menguasai Urusan. Setelah kita mensyukuri doa kita terkabul, maka kita ikhlaskan. Kita lambungkan perasaan syukur itu lalu kita serahkan doa kita pada Zat Yang Maha Mengabulkan Doa. Jadi kita jangan terlalu terpaku atau fokus akan hasilnya, kita nikmati saja prosesnya dan lakukan dengan sepenuh hati. Kita tidak perlu menunggu-nunggu kapan ya doa kita dikabulkan ? kalo kita memiliki perasaan seperti itu, berarti kita belum ikhlas. Doa itu kita panjatkan bukan untuk kita nanti kapan terkabulnya. Tapi doa itu kita panjatkan agar kita bisa mengikhlaskannya dan membiarkan Zat Yang Maha Bekerja yang mewujudkannya. Yang perlu kita lakukan, kita berusaha dalam jalan yang sudah Dia tunjukkan kepada kita dengan sepenuh hati, dan kita nikmati prosesnya…begitu…apa kalian mengerti?”
Diantemi: “Mengerti Guru…Guru memang hebat…ayahku pernah mengatakan hal yang hampir sama seperti itu. Ayahku bilang, itulah kunci kesuksesannya dalam membangun bisnis.”
Waver: “Hm…ayahmu benar, memang hampir semua orang yang sukses itu tahu bagaimana mengatur perasaannya agar sejalan dengan tujuannya. Dan sebenarnya, ini adalah rahasia kesuksesan tradingku selama ini. Dulunya aku juga mengalami hal yang sama dengan kalian. Bingung, takut, ragu, dll. Tapi setelah aku tahu bagaimana harus mengatur perasaanku, dan aku biarkan hatiku ini bekerja. Aku syukuri apa yang telah aku peroleh dan aku ikhlaskan hasil dari setiap usaha dan doaku, maka aku diijinkan untuk menjadi seperti sekarang ini. Apa yang kita pelajari hari ini, sebenarnya bagaimana kita mengatur perasaan kita agar selalu positif, nyaman, dan bahagia, lalu menyerahkan urusan kita kepada Zat Yang Maha Kuasa. Kita syukuri setiap hasil yang kita peroleh, dan kita ikhlaskan segala yang belum tercapai kepada Dia Yang Maha Luar Biasa. Ketika kita benar-benar ikhlas, saat itulah doa atau niat kita berjabat tangan melakukan kolaborasi dengan energy vibrasi quanta. Sehingga melalui mekanisme quantum yang tak terlihat, kekuatan Tuhan lah yang sebenarnya bekerja. Jika sudah demikian, siapakah yang mampu menghalangi-Nya?”
Kasian : “Luaaar biasa Guru…aku jadi punya pandangan baru tentang bagaimana mencapai tujuanku…Guru memang hebat…”
Gas Pol Kan : “Iya…tidak salah jika Guru dijuluki pertapa forex. Benar kan teman-teman? Kita tidak salah berguru pada Guru Waver ini…”
Tum Pah Kan: “Kakak…sepertinya Kakak dech yang selama ini paling meragukan Guru…”
Waver dan Murid : [tertawa lepas] :”Hahahaha…”
Waver : “Ehm…baiklah, sekarang kita akan mempraktekkan bagaimana meditasi yang akan kita lakukan…pertama-tama duduk bersila seperti ini. Usahakan duduk senyaman dan sesantai mungkin dengan tulang belakang yang tegak tapi tidak dipaksa. Lalu, tarik nafas perlahan melalui hidung dan hembuskan melalui mulut seperti tadi…lakukan selama tiga kali. Ketika menarik nafas, rasakan betapa nikmatnya udara yang masuk melalui hidung kita. Ketika menghembuskannya, rasakan semua ketegangan keluar dari tubuh kita mulai dari ujung kaki sampai ke kepala dan tubuh kita menjadi benar-benar santai. Lakukan selama 3 kali, selanjutnya tidak perlu dipikirkan lagi tentang nafas. ”
Murid : [mengikuti instruksi Waver]
Waver : “Sekarang, nikmati dan resapi suara alam yang terdengar. Rasakan hembusan angin yang menyapa lembut kulit kita…bila ada pikiran yang muncul, biarkan saja. Amati saja setiap pikiran yang muncul. Tidak perlu dilawan, cukup diamati saja seperti kita sedang melihat awan yang berjalan di langit yang biru, fokuskan pada langit yang berwarna biru bukan pada awan yang berjalan…lama-lama pikiran itu akan diam. Setelah pikiran diam, rasakan ketenangan di dalam hati kita…”
Waver dan Murid-muridnya semakin larut dalam meditasi yang mereka lakukan. Suara riak air di tepi danau, beriringan dengan kicau burung dan hembusan angin, semakin memasukkan mereka kedalam ketenangan yang dalam.
Waver: “Setelah benar-benar tenang dan nyaman. Mulai ucapkan afirmasi sesuai dengan bahasa yang kalian pahami. Ucapkan di dalam hati secara perlahan, sejelas mungkin, dan rasakan setiap kata-kata bergetar di dalam hati. Setelah itu…visualisasikan afirmasi itu. Gambarkan secara nyata, warnanya, rasanya, bentuknya, sedetail mungkin. Rasakan bahwa doa yang kalian ucapkan melalui afirmasi itu benar-benar terkabul, tepat di depan mata kalian sendiri. Benar-benar nyata…lalu syukurilah…luapkan rasa syukur yang paling dalam, luapkan setinggi-tingginya sehingga hati ini benar-benar menikmati dan merasakan bahwa doa kita telah terkabul. Lalu secara perlahan, ikhlaskan setiap doa itu…lepaskan dan pasrahkan semuanya kepada Zat Yang Maha Menguasai Urusan. Lepaskan sehingga benar-benar lepas dan tidak terpikirkan lagi…doa itu telah terkabul.”
Mereka berenam semakin larut dalam meditasi dan imajinasi masing-masing. Sampai akhirnya Waver marasa meditasi untuk hari ini cukup dan dia menginstruksikan murid-muridnya untuk kembali ke rumah. Di dalam rumah, mereka menunggu makan siang sambil berbincang tentang meditasi yang baru saja mereka lakukan.
Kasian: “Meditasi yang kita lakukan tadi benar-benar membawa hasil. Padahal kita baru satu kali melakukannya, tapi hatiku merasa benar-benar tenang dan yakin.”
Tum Pah Kan : “Iya, aku jadi lebih percaya diri sekarang…”
Diantemi : “Hm…ternyata kalian juga…aku kira cuma aku yang merasakan hal seperti itu…”
Siskamling : “Iya…Guru memang hebat…tidak salah dijuluki pertapa forex.”
Gas Pol Kan : “Iya, tapi tadi waktu awal-awal mulai meditasi, yang keluar di pikiranku malah bagaimana kalau ada burung yang membuang kotorannya tepat di kepalaku…
”
Waver dan Murid : [tertawa] “Hahahaha…”
Kasian: “Tapi Guru, saya belum mencatat pelajaran tentang meditasi tadi Guru…apa Guru punya catatan atau panduannya?”
Waver: “Hm…tentu saja ada, aku sudah menuliskannya ke dalam buku rahasia yang memang akan aku berikan kepada kalian. Dan kalian harus rutin menjalankan meditasi seperti tadi agar kalian lebih tenang dan tidak salah dalam mengatur perasaan kalian masing-masing.”
Kasian : “Wah…asik…”
Waver : “Tapi…ada syaratnya…”
Murid: “Apa Guru?”
Waver : “Kalian harus menyelesaikan tugas kalian dulu seperti biasa. Jika kalian bisa menyelesaikannya dengan cepat, akan aku berikan buku itu…hehehehe…”
Murid : “Baik Guru…”
Pecicilan : [memanggil dari arah dapur] “Eh…sudah..sudah…makanan sudah siap, nanti lagi membahas tradingnya…sekarang kita makan dulu…”
Waver : “Saatnya makan…”
Murid : “Yuhuuuu…”
Waver, Istri, dan murid-muridnya kembali berinteraksi dalam kehangatan. Interaksi yang tidak sekedar antara guru dan murid, tapi interaksi antara keluarga yang bahagia meski tidak ada ikatan darah diantara mereka.
silakan baca secara lengkap di Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu
kalo ditulis di sini semua kebanyakan entar, yang ada malah jadi nyaingin Om Nunu...

OK, selamat membaca, dan semoga bisa membuat senyuman ikhlas yang akan membawa berkah dalam trading kita semua...amin...
Waver : “Ehm…
beberapa minggu ini aku telah meminta kalian untuk menentukan bagaimana strategi trading yang kalian anggap paling aman dan paling nyaman untuk dilaksanakan. Sepertinya hal itu sudah kalian pahami…apa ada yang masih kesulitan?”
Siskamling : “Tidak Guru…”
Diantemi : “Yupz…”
Kasian : “Tidak Guru…”
Tum Pah Kan : “Emmm…tidak Guru…”
Waver : “Gas…?”
Gas Pol Kan : “Eh, tentu saja tidak Guru…”
Waver : “Bagus, jika masih ada kesulitan, jangan malu untuk berdiskusi dengan teman lainnya atau bertanya padaku. Sekarang, kalian akan belajar untuk konsisten menjalankan strategi yang telah kalian miliki. Caranya, kalian buat demo akun dengan nama Demo 1. Pada demo akun, gunakan leverage 1:500 dan modal 1000 dollar. Lalu, kalian harus mengelola demo akun itu dengan cara yang bijaksana dan jalankan sesuai strategi yang kalian miliki. Tentukan target yang harus kalian capai, entah itu target harian ataupun target bulanan. Lakukan selama tiga bulan ke depan.”
Siskamling : “Untuk lot nya Guru ?”
Waver : “Itu terserah, silakan kalian atur sendiri. Kalian sudah diajarkan tentang bagaimana mengatur margin dan menggunakan lot kan?”
Murid : “Baik Guru…”
Waver : “Baiklah, kelola demo akun itu sebisa mungkin agar konsisten menghasilkan profit. Jangan main-main selama mengelolanya, dan anggap itu uang kalian sendiri. Jika kalian main-main, maka kalian sendiri yang akan rugi. Kalian tidak akan pernah aku ijinkan untuk maju ke tahap selanjutnya. Apa kalian mengerti?”
Murid : “Mengerti Guru…”
Waver : “jangan lupa untuk mencatat setiap analis, open position, dan reviewnya dalam sebuah jurnal. Jika nanti ditengah jalan modal kalian habis, maka pelajari apa yang menyebabkan modal bisa habis. Apakah factor teknikal, fundamental, money management, atau factor psikologi. Pahami letak kelalahan yang kalian lakukan lalu perbaiki strategi yang telah kalian buat jika memang perlu untuk diperbaiki. Lalu buat lagi demo akun dengan nama Demo 2. Modal yang sama dengan sebelumnya dan juga aturan yang sama dengan sebelumnya. Jika masih habis, buat lagi demo dengan nama Demo 3, begitu seterusnya hingga kalian mampu menghasilkan profit yang konsisten selama minimal 3 bulan penuh. Apa kalian sanggup melakukannya?”
Siskamling : “Sanngup Guru…”
Diantemi : “Guru, maksudnya konsisten profit itu apa harus setiap posisi yang kita buka menghasilkan profit?”
Waver : “Tidak Dian…maksud dari konsisten profit itu, pada setiap akhir bulan modal kalian mampu bertambah dari sebelumnya. Mesikipun mendapatkan posisi minus, tapi secara keseluruhan kalian masih profit dan target kalian bisa terpenuhi. Sekali lagi jika menemui kesulitan, jangan ragu untuk bertanya pada teman yang lain atau bertanya padaku. Kalian mengerti?”
Murid : “Mengerti Guru…
”
Waver : “OK, sekarang awal bulan, kalian bisa memulai dari sekarang. Nikmatilah setiap analisa, terus kenali dan kendalikan diri, lalu temukan konsistensi dalam menghasilkan profit. Selamat berjuang…
”
Perintah dari Waver ditanggapi dengan penuh antusias oleh keempat muridnya, tapi tidak dengan Gas Pol Kan. Gas Pol Kan yang selama ini terlihat mengerti, ternyata dia mengalami kebingungan dan ketidak pahaman akan apa yang dia pelajari selama ini. Dia telah berusaha berdiskusi dengan teman lainnya, tapi hasilnya tetap sama. Dalam hatinya, dia merasa forex trading ini terlalu sulit untuknya. Dia merasa tidak mampu menjalankan forex trading seperti adiknya, atau ketiga temannya yang lain.
Perasaan-perasaan itu semakin hari semakin menarik hal-hal negative ke dalam perjalanan Gas Pol Kan dalam mempelajari forex trading. Setiap hari dia merasa beban yang dia pikirkan semakin besar. Sampai pada akhirnya hal itu memuncak, dan tak sanggup lagi dia bendung.
Genap satu minggu sudah sejak Waver meminta murid-muridnya belajar konsisten melalui demo akun. Di awal minggu kedua ini, semua tampak seperti biasa. Pagi yang cerah diiringi kicauan burung yang bertengger di dahan-dahan. Tum Pah Kan bangun dari tidurnya lalu terkejut seketika.
Tum Pah Kan : “Hah…ti…tiii…tidak…Guru…!!!
”
Mendengar teriakan dari Tum Pah Kan, spontan semua teman-teman wanitanya terbangun dan bergegas berlari ke arah kamar asrama laki-laki. Tak terkecuali Waver dan Pecicilan, istrinya, yang juga berlari menuju kamar Tum Pah Kan. Ketika Waver dan Istrinya tiba di depan kamar, Dia mendapati keadaan yang sangat tidak dia duga sebelumnya.
Waver : “Ada apa ? kenapa kamu berteriak Tum?”
Tum Pah Kan : “Hikz…hikz…”
Tum Pah Kan tidak sanggup berkata-kata. Bibirnya seakan kelu dan tak kuasa untuk mengeluarkan suara kecuali isak tangis.
Waver : “Hey, ada apa ini?”
Cici : “Iya…Dian, Siska, ada apa?”
Diantemi : “
”
Siskamling : “
”
Kasian : [berjalan mendekati Waver dan Istrinya dengan membawa sebuah kertas] : “I..ii…ini Guru…Guru baca saja sendiri…”
Kertas yang dibawa oleh Kasian, ternyata berisi tulisan tangan dari Gas Pol Kan. Isi tulisan itu ditujukan untuk adiknya dan ketiga temannya yang dia sayangi, serta Guru yang dia hormati.
Untuk Adikku, Teman-temanku, dan Guruku…
Selama aku bersama kalian, aku benar-benar merasakan hangatnya sebuah keluarga yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Canda dan tawa, suka dan duka telah kita lalui selama hampir satu tahun ini. Kita semua datang dalam ketidak tahuan, menempuh jalanan yang keras serta terjal. Untuk bisa bersama-sama belajar dari seorang pertapa forex yang sangat aku hargai dan aku kagumi. Dalam ketidak tahuan dan keputus asaan itu kita diterima dengan penuh kasih sayang, oleh Guru Waver dan Guru Cici.
Namun, ketika semua berjalan. Ternyata aku tidak sanggup mengimbangi kalian semua. Aku merasa terlalu berat untuk memahami forex trading ini, dan tak sanggup lagi untuk melanjutkan. Dengan berat hati akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Aku tidak ingin menjadi penghalang dan penghambat perkembangan kalian semua.
Adikku, kau telah banyak belajar dan berubah menjadi jauh lebih baik selama kita berada di perguruan ini. Aku tidak mungkin mengajakmu yang telah menemukan cahaya terang di perguruan ini. Teruskanlah perjuanganmu, aku tahu kamu tidak sebodoh yang orang katakana. Kau telah membuktikan bahwa kau bisa memahami dan menjalankan forex trading, jauh lebih baik dariku. Aku sama sekali tidak menaruh benci padamu karena perkembangan yang kau capai. Justru aku merasa sangat bangga, adikku yang selama ini menjadi cemoohan orang-orang. Kini telah menemukan jalannya. Teruslah berjuang Dik, buktikan pada mereka yang selama ini menghinamu, dan buatlah Ayah dan Ibu kita bangga padamu di alam sana…katakan pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa…maaf, aku hanya bisa memberimu semangat, tapi aku tidak sanggup menyemangati hatiku sendiri. Biarlah aku mencari jalan lain yang lebih sesuai untukku. Suatu saat nanti, aku akan kembali…
Untuk Ian, Dian, dan Siska…teruskan perjuangan kalian dan capai kesuksesan dunia dan akhirat. Dan Untuk Guru Waver serta Guru Cici…maaf, aku tidak bisa menjadi murid yang baik, aku belum bisa membalas jasa pada kalian.
Maafkan aku Dik, Ian, Dian, Siska, Guru Cici, dan Guru Waver…aku harus pergi dengan cara seperti ini…kalian tidak perlu mencariku, jika saatnya telah tiba, aku akan datang dan kembali bersama kalian semua. Meskipun saat itu aku bukan seorang trader…
Gas Pol Kan
Waver : “
huff…aku tidak pernah menyangka akan seperti ini. Dia selama ini selalu ceria dan aku rasa dia tidak mengalami kesulitan dalam belajar. Mungkin aku yang kurang memperhatikannya…”
Kasian : “Guru, bagaimana kalau kita cari Gas ?”
Waver : “Itu tidak perlu…dia telah memutuskan untuk memilih jalannya sendiri. Kita harus menghargai dan meyakini bahwa dia mampu menempuh pilihan yang telah dia tetapkan. Kita mencarinya pun akan percuma…”
Cici : “Benar…kita doakan saja agar Gas Pol Kan sanggup menempuh jalan hidup yang dia pilih…”
Diantemi : “Tapi Guru…hikz…”
Siskamling : “Sudah Dian, kita percaya saja apa yang Guru katakan, aku tahu kesedihanmu, akupun juga sedih…hikz…”
Waver : [mendekati Tum Pah Kan lalu merangkul pundaknya] : “Tum…aku tahu ini berat untukmu…kapanpun kau membutuhkan teman cerita, aku selalu siap mendengarkanmu…jangan malu, meskipu aku gurumu, tapi aku telah menganggap kamu, dan kalian semua sebagai anakku sendiri. Mungkin saat ini kau masih butuh waktu untuk sendiri…”
Setelah meminta Kasian untuk menemani dan sebisa mungkin membesarkan hati Tum Pah Kan, Waver dan Istrinya beranjak dari kamar asrama laki-laki.
Hari yang cerah ini dilalui penghuni perguruan KG Forex World dengan kesedihan. Ketika waktu makan tiba, mereka kembali teringat celotehan-celotehan yang biasa dilontarkan Gas Pol Kan kepada Guru atau teman-temannya.
Malam semakin larut, ketika hati seorang adik merasa begitu sedih dan tercabik. Sosok kakak yang juga berperan sebagai ayah baginya, kini telah pergi. Semua teman-temannya telah tertidur, tapi matanya tidak sedikitpun menandakan bahwa dia ingin berbaring. Kelopak mata itu terlihat layu bukan karena lelah atau rasa kantuk, tapi karena kesedihan yang mengalir bersama air mata.
Begitu juga dengan Waver. Sosok Guru yang selama ini begitu tegar, harus merasakan kesedihan yang begitu dalam sehingga membuatnya sulit untuk berbaring. Dia memutuskan untuk berjalan ke arah asrama murid laki-laki untuk melihat keadaan Tum Pah Kan. Ketika telah mendekati pintu asrama, dia sedikit terkejut ketika melihat Tum Pah Kan berada di depan pintu sambil menundukkan kepala.
Waver : [mendekati Tum Pah Kan] “Tum…kau belum tidur?”
Tum Pah Kan : [menggelengkan kepala]
Waver : “Kalau memang belum mengantuk…ayo ikut denganku…”
Tum Pah Kan : [menjawab dengan terisak-isak] : “Ke…kemana Guru…? ihkz…”
Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Waver memegang tangan muridnya sembari menariknya perlahan untuk berdiri. Kemudian dia berjalan dengan merangkul muridnya yang sedang dilanda kesedihan itu.
Rupanya Waver mengajak Tum Pah Kan ke danau. Bulan kala itu terlihat begitu indah. Tapi tak seindah keadaan hati Tum Pah Kan.
Waver : “Tum…jika kamu ingin mencurahkan isi hatimu…aku siap mendengarkan…”
Cukup lama Tum Pah Kan terdiam. Namun akhirnya, perlahan-lahan kata-kata keluar dari bibirnya.
Tum Pah Kan : “Guru…dia, sudah tidak hanya sekedar kakak bagiku. Tapi dia yang merawatku selama ini setelah Ayah dan Ibu pergi…huwaaa…
”
Air mata Tum Pah Kan yang sedari tadi tak bisa dibendung, kini semakin menjadi. Semakin dia bercerita, semakin deras air matanya mengalir. Waver terenyuh dalam keharuan cerita yang disampaikan muridnya itu. Meskipun begitu, dia tetap sadar, yang muridnya butuhkan saat ini bukan teman untuk bersama-sama menangis ataupun menyesali keadaan. Tapi muridnya, Tum Pah Kan, saat ini benar-benar membutuhkan seseorang yang benar-benar mengerti dia dan sanggup membesarkan hatinya.
Waver : “Tum…aku paham dan benar-benar mengerti apa yang kamu rasakan. Akupun pernah merasakan hal yang sama ketika adikku pergi. Bahkan dia pergi untuk selamanya…dan saat ini, aku juga merasakan kesedihan karena salah seorang murid yang sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, harus pergi begitu saja. Tapi…cobalah untuk tidak terus menerus larut dalam kesedihan. Terus menangis tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Justru jika kita terus hanyut dalam luapan emosi negative yang berlebihan, maka kita tidak akan bisa melihat hikmah atau pelajaran dari apa yang kita alami. Selama ini Gas Pol Kan sudah menjadi sosok kakak sekaligus ayah bagimu. Dia merawatmu dan melindungimu dengan sepenuh hati. Selama ini kamu cenderung berada di bawah perlindungan kakakmu, Saat ini kamu merasa lemah karena orang yang selama ini melindungimu tidak lagi berada di dekatmu, benar kan? “
Tum Pah Kan : “Iya Guru…hikz…”
Waver : “Sekarang, cobalah melihat sisi baik dari kejadian ini. Saat ini, sebenarnya Zat Yang Maha Mengajari sedang mengajarkanmu untuk menjadi pemimpin atas dirimu sendiri. Dia ingin kamu lebih tegar dan sanggup menghadapi ujian yang sedang dia berikan padamu. Ketika dalam kelemahanmu ini, kamu sedang diajarkan untuk lebih kuat dari sebelumnya. Untuk mampu melindungi dirimu sendiri, menjaga dirimu sendiri, dan tidak terus menerus bergantung pada kakakmu. Apa kamu mau selamanya bergantung pada kakakmu?”
Tum Pah Kan : “Tidak Guru…”
Waver : “Apakah selama ini pernah terlintas di benakmu untuk bisa benar-benar mandiri dan tidak merepotkan kakakmu?”
Tum Pah Kan : “Sering Guru…aku merasa telah banyak merepotkan kakak, dan aku ingin lebih mandiri…”
Waver : “Nah… keinginnanmu itu telah terkabul sekarang. Dia Yang Maha Mengabulkan Keinginan telah menjawab doamu yang benar-benar tulus keluar dari dalam hatimu.”
Tum Pah Kan : “Tapi Guru…kenapa harus dengan cara seperti ini?”
Waver : “Tum…ada begitu banyak cara yang bisa Dia lakukan untuk mengabulkan keinginan-keinginan kita. Terkadang justru cara itu tidak kita sukai. Bukan cara-Nya yang salah, tapi karena kita cenderung terbawa emosi negative sehingga tidak bisa melihat betapa dahsyatnya pelajaran yang sedang Dia ajarkan kepada kita. Coba kamu rasakan, selama ada kakakmu, apa kamu bisa tidak bergantung padanya?”
Tum Pah Kan : “Susah Guru…”
Waver : “Karena itulah Dia mengabulkan doamu dengan cara seperti ini.”
Tum Pah Kan : “ … … iya Guru…mungkin Guru benar…”
Waver : [mendekati Tum Pah Kan lalu merangkulnya] “Percayalah anakku, Zat Yang Maha Mengetahui itu tahu yang terbaik dan sedang memberikan yang terbaik bagimu dan kakakmu. Tenangkan dirimu dan jangan bairkan hatimu larut dalam perasaan negative yang berlebihan. Inilah saatnya kamu membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa mandiri, kamu bisa untuk menjaga dirimu sendiri. Ingatlah, sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan. Buka hatimu dan ikhlaskan semua agar kamu bisa melihat kemudahan dan hikmah dari apa yang kamu alami sekarang ini. OK ?”
Tum Pah Kan : [memeluk Gurunya] “Baik Guru…terimakasih Guru…aku sedikit lebi lega sekarang…
”
Mereka berdua kemudian kembali kerumah dan bersitirahat karena malam semakin larut. Suasana malam pegunungan yang cerah ternyata jauh berbeda dengan di sudut kota.
Hujan begitu lebat dan petir menyambar-nyambar ketika seorang kakek yang sedang berjalan dilorong kota, tiba-tiba terkejut melihat sesosok anak muda tergeletak di jalan yang sepi dan basah karena air hujan.
Kakek : [mendekati anak muda yang terkapar] : “Nak…hey…Nak, bangun…kenapa kau bisa ada ditengah jalan? Di sini hujan, kau bisa sakit…”
Anak Muda yang Terkapar : “… … …
”
Dalam proses belajar mereka, ternyata muncul karakteristik masing-masing yang selama ini belum mereka ketahui. Tum Pah Kan dan Siskamling ternyata berbakat dalam hal coding dan semakin giat belajar bahasa pemrograman untuk platform trading yang mereka gunakan. Tum Pah Kan yang selama bodoh ternyata telah menemukan keahliannya. Karena kesibukan mereka mempelajari bahasa pemrograman, mereka hanya membuka posisi satu atau dua kali sehari. Sedangkan Diantemi dan Kasian lebih jeli dalam mengamati beberapa pair sehingga mereka trading di banyak pair sekaligus dan mampu menghasilkan ratusan pips dalam waktu singkat. Mereka berempat menjadi kombinasi yang begitu indah ketika bergabung dan bekerja sama dalam melakukan analisa. Waver dan Pecicilan sangat senang melihat kemajuan yang dicapai murid-murid mereka.
Keadaan belajar menjadi lebih kondusif karena masing-masing telah memiliki pemahaman terhadap pergerakan harga dan tahu tugas masing-masing. Berbagai macam hal mereka lalui dan alami. Beberapa diantaranya, ketika lupa memasang Stop Loss (SL) sehingga posisi ter-floating minus sampe ratusan pips dalam waktu lama.
Murid yang lupa memasang SL: “
”
Waver : [berkata dalam hati] “Hancur sudah fasilitas yang aku sediakan…hikz…
”
Ketika mendapatkan profit besar…
Murid yang profit : “Terimakasih Guru…
1000 pips perhari will make me healthy and wealthy…”
Ketika berhasil membuat indicator sesuai kebutuhan…
Murid yang berhasil membuat indicator: “
dari awal aku tahu aku bisa membuatnya…heuheuheu…”
Dan, ketika mereka semua sadar mereka baru menjalankan demo akun…
Murid : “
fiuhh…
Waver : “Lihatlah mereka yang di bawah kalian dan jangan terlalu sibuk melihat mereka yang di atas kalian, agar kalian lebih menghargai karunia yang Tuhan berikan kepada kalian…
”
Murid : “
”
Diantemi: “Hey teman-teman, kita kan udah lama belajar buka tutup posisi di demo akun. Dan kata Guru kita juga udah bisa konsisten dengan profit, apa itu artinya kita sudah bisa memulai real account ya?”
Kasian: “Iya ya…mungkin ini saatnya kita memulai trading dengan real account agar kita bisa merasakan greget dari uang yang kita tradingkan. Tapi…”
Tum Pah Kan: “Tapi kenapa Ian?”
Kasian: “Kita kan tidak punya uang untuk deposit ke real account…hikz...”
Siskamling: “Iya, benar juga ya…darimana kita akan mendapatkan uang untuk trading pake real account?”
Sejenak mereka semua terdiam dan berpikir dalam benak masing-masing. Sementara itu Waver yang mendengar pembicaraan mereka dari luar kelas, menunggu jawaban apa yang akan muncul dari mereka berempat. Tiba-tiba mereka berteriak dengan kompak.
Murid : “Aha...minta uang sama Guruuuuu!!!
”
Waver: [dari luar kelas] “
”
Tum Pah Kan: “Tapi…kita kan sudah terlalu banyak berhutang budi pada Guru, rasanya kurang pantas kalo kita masih mau meminta uang untuk real account dech…”
Diantemi: “Kalo begitu jangan meminta…meminjam saja, nanti kalo kita sudah profit, kita kembalikan…bagaimana?”
Kasian: “Ah…jangan dech…gak enak sama Guru…”
Siskamling: “Terus, kita harus gimana ya…”
Waver: [masuk dengan tiba-tiba] “Ehm…”
Murid: [kaget, terdiam, lalu berpikir dalam benak masing-masing] “
”
Waver : “Ehm, apa yang kalian bicarakan? Sepertinya serius…”
Siskamling: “Emmmm…gini Guru, kita bingung bagaimana harus mencari uang untuk memulai trading dengan real account…”
Diantemi: “Iya Guru…mungkin Guru bisa…”
Belum selesai Diantemi berbicara, murid yang lain segera mendekatinya dan mencubit lengan Diantemi. Mereka takut Diantemi akan meminta atau meminjam uang pada Waver.
Tum Pah Kan, Kasian, Siskamling: [mendekati Diantemi lalu menyubit lengannya]
Diantemi: “Aauu…sakit…
, apa yang kalian lakukan seeh?”
Kasian: [berbisik] “Ssst…jangan bilang kamu mau minta uang pada Guru ya…??!!
”
Diantemi: “Ya enggak lah…aku tadi mau bilang, mungkin Guru bisa member solusi yang baik bagaimana cara mendapatkan uang…”
Kasian, Tum Pah Kan, Siskamling: “Oh…hehehe…
”
Waver: “Ckckck…kasian sekali kalian ini…”
Kasian: “
tidak Guru, yang namanya Kasian di sini cuma satu, aku Guru…”
Waver: “Eh, iya, maaf lupa…
hehehe…begini, aku datang kesini membawa info bagus untuk kalian. Salah satu broker terkenal yang sudah lama memiliki rekor baik dalam dunia forex trading akan mengadakan demo kontes selama tiga bulan kedepan. Hadiahnya cukup besar, nanti kalian akan saya berikan linknya untuk melihat sendiri berapa hadian yang akan diperoleh untuk tiga orang pemenang. Yang pasti, dalam kontes itu, kalian hanya harus menghasilkan profit sebanyak mungkin dalam waktu tiga bulan. Bisa menggunakan EA ataupun manual. Ini bisa kalian maksimalkan. Kalian ikuti saja demo kontes ini dan gunakan strategi yang selama ini telah kalian pelajari dan pahami.”
Siskamling: “Wah, asik…info yang sangat bagus Guru…”
Kasian: “Benar-benar menjawab kebingungan kami beberapa menit yang lalu…”
Tum Pah Kan: “Terimakasih Guru…”
Diantemi: “Tapi ngomong-ngomong, berapa hadiahnya Guru ?
”
waver: [mendekati Diantemi dan memberikan selembar kertas]“OK, ini linknya…silakan kalian buka sendiri dan lihat berapa hadiah yang akan diperoleh pemenangnya…aku pergi dulu dengan istriku sebentar, kalian jaga rumah ya…”
Murid : “Baik Guru…terimakasih…”
Info yang diberikan Waver sangat tepat dan sudah tentu disambut dengan baik oleh keempat muridnya. Mereka membuka link yang diberikan Waver dan begitu semangatnya setelah melihat hadiah untuk pemenang pertama sebesar $10000, pemenang kedua $7500, dan pemenang ketiga $5000. Karena waktu habis pendaftaran tinggal sebentar lagi, mereka langsung mendaftar dengan username masing-masing.
Lima hari sudah sejak mereka mendaftar untuk mengikuti demo kontes. Sekarang adalah hari pertama dimulainya kontes yang akan berlangsung selama tiga bulan. Mereka berempat bangun pagi dengan penuh semangat dan siap menghadapi atmosfer kontes yang menegangkan.
Waver : “Dalam demo kontes nanti, jangan kalian rubah gaya trading kalian selama ini. Lakukanlah sebagaimana biasanya. Selalu mulai dengan analisa. Kumpulkan informasi sedetail mungkin dari setiap indicator yang kalian gunakan, lalu buatlah strategi atau scenario jika harga bergerak begini dan begitu. Jangan paksakan diri kalian untuk masuk dan membuka posisi jika memang peluangnya kecil. Patuhi strategi yang telah kalian buat sendiri, tunggulah dengan sabar hingga harga bergerak sesuai dengan strategi kalian. Setelah peluang yang baik muncul, dan sesuai dengan strategi kalian, yakinlah untuk membuka posisi. Lakukan ekseksusi tanpa ragu, lalu pasrahkan hasilnya kepada Zat Yang Maha Menguasai Urusan. Tugas kita hanya menganalisa kemungkinan arah serta batasnya dan meminimalisir resiko. Ingat, jangan paksakan diri kita untuk menjadi Tuhan karena kita tidak akan pernah mampu…lakukan saja apa yang bisa dan mampu untuk kita lakukan, dan serahkan hasilnya kepada-Nya. Dan jangan lupa, syukuri apapun yang kalian dapatkan agar menjadi nikmat yang luar biasa...”
Mereka telah siap. Dengan penuh kerendahan hati dan kepercayaan diri mereka yakin mampu menjalani kontes ini dengan baik. Persiapan mental dan teknikal telah mereka lakukan. Dan mereka tahu kepada siapa mereka menyerahkan setiap urusan yang mereka hadapi.
Jam di dinding telah menunjukkan bahwa sekarang saatnya demo kontes dimulai. Keempat murid Waver telah siap duduk di depan komputernya di kelas yang biasa mereka gunakan untuk belajar. Waver dan Pecicilan pun berdiri di depan pintu kelas memberi senyuman hangat kepada murid-muridnya. Senyuman itu langsung menjadi pengobar semangat yang luar biasa. Senyuman dari seorang Guru yang dihormati, sekaligus sosok orang tua yang penuh kasih sayang.
Keadaan di dalam kelas.
Kasian : “
I’m ready…”
Tum Pah Kan : “
ayo kita mulai…”
Diantemi : “
jangan lupa nasihat Guru…!!!”
Siskamling : “OK, mari kita lakukan yang terbaik…
”
Keadaan di luar kelas.
Waver: “
... … …”
Cici : “Kenapa Suamiku?”
Waver : “Aku sedih…”
Cici : “Sedih kenapa? Murid-muridmu akan bertanding, bukannya seharusnya Kau bersemangat?”
Waver : “Iya sih, tapi gara-gara kontes ini mereka jadi bebas tugas. Aku harus melakukan tugas harian seperti dulu lagi…
”
Cici : “Tenang saja Suamiku, aku akan membantu seperti yang dulu kita lakukan…”
Waver : “Terimakasih Istriku…Kau memang istri yang luar biasa
”
Waver dan Cici : [saling mendekat] “
”
Sementara itu di tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.
Kakek : [berjalan dengan perlahan sambil memperhatikan lantai] “Gas, tolong ambilkan sapu, di sini terlihat berdebu... “
Gas Pol Kan : [mendekati Kakek] “Ini Kek…matahari sudah hampir bersinar Kek, aku buka ya pintunya sekalian mempersiapkan yang lainnya…”
Kakek : “Baiklah, tapi jangan paksakan dirimu, Kamu belum sepenuhnya fit…”
Gas Pol Kan : “Jangan khawatir Kek, aku sudah baikan kok…”
Kakek: “Ya..ya..ya…”
Matahari sudah meninggi. Dua jam sudah sejak warung makan milik Kakek itu dibuka. Dari sebrang jalan terlihat warung itu begitu ramai dengan pengunjung, sampai-sampai Gas Pol Kan dan Kakek yang melayani pengunjung tidak kelihatan karena begitu ramainya orang yang datang.
Gas Pol Kan : “Kek, yang untuk meja nomor 11 sudah jadi?”
Kakek : “Iya…tolong dibawa ya…”
Gas Pol Kan: “Siap Kek…”
Kakek dan Gas Pol Kan melayani pembeli dengan penuh kegembiraan dan senyuman sejak pembeli pertama hingga warung tutup. Malam sudah semakin larut, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Ini berarti saatnya tutup warung. Gas Pol Kan yang menutup warung bersama Kakek mengobrol dengan penuh kehangatan.
Gas Pol Kan : [mengangkat meja dan kursi] “Hari ini habis lagi ya Kek…”
Kakek : “Iya…semua berkat kasih sayang Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kita harus banyak-banyak bersyukur…”
Gas Pol Kan : “Betul Kek…Kakek istirahat saja duluan. Biar saya yang membereskan sisanya…”
Kakek : “Sudahlah, Kakek juga belum ngantuk…”
Gas Pol Kan : “Okelah kalo begitu…hehehe…”
Selesai menutup warung dan membersihkan semua peralatan, mereka tidur dengan lelap dan penuh rasa syukur.
Keesokan harinya, warung telah dibuka. Sembari menunggu pengunjung, Gas Pol Kan berbincang santai dengan Kakek.
Gas Pol Kan : “Kek, hari ini bakalan rame seperti hari-hari sebelumnya ngga ya?”
Kakek : “Yah…mana Kakek tahu. Yang penting kita sudah melakukan sesuatu yang kita bisa. Kita serahkan saja sepenuhnya kepada Zat Yang Maha Menguasai Urusan. Apa yang bisa kita lakukan, kita usahakan dan bisa kita perbaiki, ya kita lakukan dan perbaiki sebaik mungkin. Masalah hasil itu jangan terlalu kita pusingkan. Yang penting kita nikmati saja apa yang kita lakukan…”
Gas Pol Kan : “Benar Kek…”
Mendengar perkataan Kakek, Gas Pol Kan jadi teringat pada Waver. Kata-kata Kakek memang sarat akan nasihat tentang arti hidup sebagaimana Waver yang selalu mengajar dengan penuh makna. Sejenak pikirannya kembali ke masa dimana dia berada di perguruan KG Forex World. Dia teringat Adiknya, teman-temannya dan juga gurunya. Ditengah lamunan, tiba-tiba Gas Pol Kan terkejut ketika Kakek menepuk pundaknya perlahan.
Kakek : [menepuk pundak Gas Pol Kan] “Gas, pembeli pertama kita telah datang…mari kita sambut dia dengan senyuman dan kehangatan…”
Gas Pol Kan : [terkejut] “
Eh, iya Kek…dan kita sambut perutnya dengan kelezatan masakan dari Nenek…hehehe…”
Kakek : “Hahahaha…kamu ini ada-ada saja…tapi benar juga, hehehe…”
Nenek : [bersin di dalam rumah]“Haaatsyiii…sepertinya ada yang memanggil namaku…
”
Kehidupan Gas Pol Kan telah dimulai disebuah keluarga baru. Bersama Kakek dan istrinya, dia mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang pengenalan diri dan arti hidup. Dia yang tadinya cenderung pemberontak dan cepat marah, kini menjadi lebih tenang dan penuh pengertian.
Disuatu malam ketika warung makan tutup lebih cepat karena dagangan yang habis, Gas Pol Kan bercanda ria bersama Kakek dan Nenek di meja makan.
Gas Pol Kan : “Hari ini banyak pembeli ya Kek, jadi dagangan bisa habis lebih cepat dari biasanya.”
Kakek : “Iya, pekerja dari proyek pembangunan mall sepertinya banyak yang kelaparan setelah bekerja. Jadi mereka memilih warung kita yang cukup dekat ini.”
Nenek : “Hey, itu kan karena masakanku yang begitu menggoda, heuheuheu…
”
Gas Pol Kan : “Haha, betul juga Nek…masakan Nenek memang nomer satu dech…”
Nenek : “Hihihi…”
Kakek : “Itulah kenapa aku memilih dia dulu, hehehe…”
Gas Pol Kan : “Hehe…Kakek dan Nenek masih tetap romantic walopun udah ga muda lagi…hebat…
ngomong-ngomong, aku belum berterimakasih pada Kakek dan Nenek yang sudah mengijinkan aku tinggal di sini…terimakasih banyak ya Kek, Nek, kalo tidak ada Kakek dan Nenek, mungkin aku…”
Kakek : “Ah, tidak perlu berterimakasih untuk suatu kewajiban…”
Nenek : “Iya, jangan sungkan begitu…Nenek juga senang kamu tinggal di sini. Mengingatkan Nenek pada anak Nenek sendiri…”
Gas Pol Kan : “Maaf Nek, kalo boleh tahu, memang sekarang ada dimana?”
Kakek : “Dia sudah meninggal tiga tahun yang lalu…Anak Kakek meninggal dalam kecelakan pesawat saat berlibur bersama keluarganya. Dia anak Kakek dan Nenek satu-satunya, sudah berkeluarga juga…”
Gas Pol Kan : “Ma..maaf Kek, aku tidak tahu, malah membuat Kakek dan Nenek sedih…”
Nenek : “Tidak apa-apa…Nenek tidak sedih. Memang dia anak Nenek satu-satunya, dia juga anak yang berbakti, istrinya juga anak yang baik, tapi bagaimanapun juga semua itu hanya titipan Tuhan. Jadi ketika Tuhan sudah berkenan mengambilnya, Nenek harus ikhlas…”
Kakek : [menggeser kursi mendekati kursi Gas Pol Kan] “Hm…benar istriku,
Gas, kamu masih muda dan belum berkeluarga…”
Gas Pol Kan : “Iya Kek…”
Kakek : “Pahamilah bahwa semua yang kamu miliki dan akan kamu miliki nanti itu hanya titipan. Istri dan anakmu kelak, itu hanya titipan…”
Gas Pol Kan : “Maksudnya Kek…???”
Kakek : “Coba perhatikan tanganmu, kakimu, dan semua anggota badanmu…pernahkan kamu mendesainnya sendiri agar ketika kamu lahir kedunia ini kamu bisa memiliki anggota badan yang begitu sempurna itu?”
Gas Pol Kan : “Mmm…
”
Kakek : “Tidak kan ? karena memang semua yang melekat di tubuh kita ini bukan milik kita…bahkan jiwa kita sendiri adalah percikan dari ruh Tuhan Yang Maha Luar Biasa. Dan semua yang Dia titipkan pada kita ini akan diminta pertanggung jawabannya kelak. Semuanya hanya ujian…ketika anak Kakek satu-satunya diambil oleh Tuhan, sebagai ayah Kakek memang sedih. Tapi Kakek sadar, kesedihan itu tidak perlu sampai berlebihan. Kakek sadar pada saat itu Kakek sedang ditanya oleh Zat Yang Maha Memiliki, [I]anak ini milikmu atau milik-Ku?[I] Dari situlah Kakek berani menjawab dalam hat, duhai Yang Maha Memiliki, kami semua milik-Mu, dan hanya akan kembali pada-Mu. Kami sepenuhnya hak-Mu…”
Mendengar kata-kata Kakek, Gas Pol Kan tertegun. Bibirnya begitu kelu dan tidak sanggup berkata apa-apa. Dan Kakek pun melanjutkan ceritanya.
Kakek : “Nenekmu juga sedih saat itu, jiwa keibuannya tersentuh. Kakek sadar bahwa hal itu wajar, dan tugas Kakek sebagai suami adalah menjaga hati Nenek agar tidak berlebihan larut dalam kesedihan. Dan atas izin Zat Yang Maha Mengizinkan, kami semua bisa ikhlas melepas anak yang Dia titipkan pada kami, dan juga keluarganya. Ada banyak orang yang tidak sadar bahwa semua yang ada pada dirinya adalah titipan dan ujian. Ketika sebuah keluarga memiliki momongan, mereka jadi begitu senangnya dan seakan-akan anak mereka adalah segalanya. Mereka memanjakan anak mereka secara berlebihan, dan lupa mengenalkan anak-anak mereka akan siapa dirinya, siapa penciptanya, dan untuk apa dia diciptakan. Tuhan itu Maha Pencemburu, ketika dalam hati seseorang ada hal yang lebih dipentingkan dan lebih diutamakan dari pada Tuhan itu sendiri, maka Dia akan menyakan pada orang itu. Siapa Tuhan mu? Begitu pula ketika ketika anak Kakek diambil, Dia Yang Maha Bertanya juga menyakan, jika aku ambil anak ini, apa kamu dan istrimu akan bersedih? apa kesedihanmu akan membutakan hatimu sehingga tidak ada hal lain dalam hatimu selain anak ini? Siapa Tuhanmu? Siapa pemilik anak ini? Dan untuk apa dia dan kamu diciptakan? jika Aku ambil dia, apakah kamu dan istrimu akan mendustakan nikmat-Ku yang selama ini Ku berikan pada-Mu? Dan begitu banyak pertanyaan yang jika kita bisa menjawabnya dengan suara hati kita yang jernih, maka kita tidak akan salah menanggapi semua ujian ini. Tapi…itu bukan berarti kita harus menelantarkan anak kita. Justru anak itulah amanat yang Dia berikan pada kita. Agar kita bisa mengenalkan akan siapa Tuhannya dan untuk apa dia diciptakan.
Gas Pol Kan hanya bisa terdiam dan merenungkan kata demi kata yang keluar dari seorang Kakek yang begitu bijaknya dan begitu tenangnya menghadapi hidup ini. Dia merasa sedang mendapatkan pelajaran yang begitu berharga, yang selama ini belum pernah dia dapat sebelumnya.
Kakek : “Gas, mungkin kamu belum begitu bisa merasakan seperti apa memiliki anak itu karena memang kamu belum berkeluarga. Tapi ujian itu tidak hanya berupa anak, semuanya adalah ujian. Uang contohnya, begitu banyak orang yang secara tidak sadar dalam hatinya menuhankan uang. Begitu banyak orang yang merasa tidak bisa hidup tanpa uang, padahal kehidupan dan kematian itu ada dalam genggaman Zat Yang Maha Menguasai Hidup. Kamu perhatikan ayam, burung, serangga, apa mereka punya uang? Apa mereka tidak bisa hidup karena tidak punya uang? Jadi maksud Kakek begini…mumpung masih muda, banyak-banyak lah memahami dan menyadari akan makna hidup ini. Pahamilah hatimu, kenali dirimu, dan kenali Tuhanmu. Agar tidak terjebak dalam kesemuan yang semuanya hanya ujian. Berhati-hatilah agar jangan sampai menduakan Dia dalam hatimu…jadilah manusia yang sebenar-benarnya manusia. Yang bisa berbagi manfaat dan berbagi kasih sayang dengan semua mahluk-Nya.”
Gas Pol Kan : “Iya Kek,aku akan berusaha menjalankan nasehat dari Kakek…aku sangat berterimakasih dan bersyukur bertemu dengan Kakek. Begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan…
”
Tiba-tiba Gas Pol Kan teringat pada adiknya. Dia merasa bersalah ketika meninggalkan adiknya yang saat itu belum terlalu mandiri. Menyadari perubahan ekspresi pada wajah Gas Pol Kan, Kakek segera bertanya.
Kakek : “Ada apa Gas?”
Gas Pol Kan : “Tidak Kek…aku hanya teringat adikku yang pernah aku ceritakan pada Kakek. Aku masih khawatir dia belum sanggup aku tinggal, dia belum bisa mandiri…”
Kakek : “Jangan berpikiran seperti itu. Yakinkan dirimu bahwa adikmu bisa menjalani hidupnya sendiri. Zat Yang Maha Menjaga akan selalu bersamanya, dan membimbing adikmu dengan baik, percayalah pada-Nya.”
Gas Pol Kan : “Iya Kek, terimakasih Kek…”
Sementara itu di perguruan KG Forex World…
Tum Pah Kan : “Yuhuuuuu….
profit, profit, profit….got green huh…
ha..ha…haatsyim…
sepertinya ada yang memanggilku…
”
Diantemi : “Fiuh…
cape juga ikut kontes ini ya…?!”
Kasian : “Iya…ternyata cape juga ya…”
Siskamling : “Aku ga terlalu cape tuh…heuheuheu…”
Kasian : “Ya iya lah, kamu kan cuma bulan pertama aja yang manual tradingnya. Bulan berikutnya diserahin sama robot.”
Tum Pah Kan : “Hehehe…tapi sepertinya robot Siska belum terlalu maksimal kerjanya. Buktinya point Kasian dan Diantemi lebih tinggi dari robot Siska, maaf lho, bukannya mengejek…”
Siskamling : “Iya memang, sepertinya masih perlu penyesuaian lagi…tapi masuk sepuluh besar lumayan juga lah, buat pengalaman. Sebenernya pengin juga sih dapet juara, hehehe…”
Diantemi : “Tenang saja, temenku yang satu ini memang jago masalah program, kalo sekarang belum bisa, tinggal coba lagi dikesempatan berikutnya…mmmuaach…
”
Kasian : “Tum, sepertinya performamu di kontes ini kurang begitu maksimal. Walaupun sampe saat ini kamu masih di peringkat sepuluh. Apa ada yang salah? Mungkin bisa kami bantu…”
Tum Pah Kan : “Iya…sepertinya kondisi yang penuh persaingan seperti ini kurang cocok dengan gaya tradingku. Aku mungkin lebih cocok trading dengan santai, he…tapi sepertinya meskipun kita berempat masuk peringkat 4 besar. Tetap ada satu orang yang mendapatkan hadiah dech…kan hadiahnya cuma untuk tiga besarnya.”
Kasian : “Iya juga ya…”
Diantemi : “Iya, harusnya hadiahnya sampe juara sepuluh tuh. Kan kontesnya juga lama, he…”
Murid : [tertawa] “Hahahaha…”
Dua hari sebelum kontes berakhir, posisi Kasian berada di peringkat 3 dan Diantemi di peringkat 4 dnegan jarak yang hanya terpaut ratusan pips dari peringkat satu dan dua yang berasal dari luar negeri. Sementara itu Siskamling dengan robotnya berada di peringkat 6 dan Tum Pah Kan berada di peringkat 10.
Kondisi ini tidak terlalu berubah sampai pada hari kamis. Dua murid Waver yang berada di peringkat 3 dan 4 masih tidak tergoyahkan. Jarak antara mereka dan peringkat di atasnya juga tidak terlalu jauh, tapi juga tidak bisa dibilang dekat. Sedangkan Tum Pah Kan, dan Siskamling sepertinya sudah tidak terlalu berharap mendapatkan juara lagi karena waktu yang tersisa tinggal satu hari, dan jarak peringkat yang ada di atas mereka cukup jauh.
Tum Pah Kan : “Siska…sepertinya kita belum saatnya mendapat juara pada kontes kali ini.”
Siskamling : “Iya, tidak apa-apa lah…masih ada kesempatan berikutnya…”
Tum Pah Kan : “Tapi, kamu kok kelihatan sedih…???”
Siskamling : “Eh…engga kok…
”
Tum Pah Kan : [mendekati Siskamling] “Sudah jangan terlalu sedih. Peringkat yang kamu raih bagus kok, jauh lebih baik dari aku yang sepertinya semakin tersingkir dari posisi sepuluh besar.”
Siskamling : “Iya…tapi kamu juga bagus kok, kan kamu sendiri yang bilang kondisi kontes seperti ini kurang cocok dengan gaya tradingmu…”
Mereka berdua saling membesarkan hati masing-masing. Tanpa mereka sadari, timbul rasa yang lebih dari sekedar teman di dalam hati mereka. Mereka saling memandang selama beberapa detik. Lalu kemudian Kasian memecah keheningan dengan masuk kelas dan menggoda mereka berdua, disusul Diantemi yang juga masuk kelas dibelakang Kasian.
Kasian : “Ehm…ada yang lagi ngobrol serius neeh…lagi ngomongin indicator, EA, atau yang lain ya???”
Diantemi : “Ciye..ciye…prikitiuw…yang dulu suka berantem, suka ejek-ejekan, sekararang jadi saling perhatian neeh…”
Siskamling : “Ah…engga kok, kalian ngomong apaan seeh ???
”
Tum Pah Kan : “Hehe…kalian ini ada-ada saja. Kami baru saja membahas tentang kontes yang kita ikuti kali ini. Sepertinya kami memutuskan untuk lebih mendukung kalian berdua secara moril agar kalian bisa masuk peringkat tiga besar.”
Siskamling : “Iya, sepertinya aku dan Tum sudah susah untuk juara…jadi, kalian harus bersemangat agar bisa dapet juara di kontes ini. Aku yakin kalian bisa kok…”
Kasian : “Iya seeh, tapi bagaimana dengan kalian?”
Tum Pah Kan : “Ah, sudahlah…masih ada kontes berikutnya kok…”
Kasian : “Iya juga ya…kalian juga harus bersemangat…!!!”
Diantemi : “Iya, aku yakin kalian juga bisa dapet juara di kontes selanjutnya.
”
Tum Pah Kan : “Siip…kami juga akan berusaha…ya ngga Sis?”
Siskamling : [melihat Tum Pah Kan dengan malu] “Iya donk, hehe…”
Kasian dan Diantemi : “Ciye-ciye…!!!
”
Tum Pah Kan dan Siskamling : “
”
Malam jumat mereka berempat kurang bisa tidur nyenyak. Terutama Kasian dan Diantemi yang sedang berjuang untuk mendapatkan posisi tiga besar. Sesaat sebelum mereka tidur, point Kasian terpaut 300 point dari peringkat dua, dan terpaut 550 point dari peringkat satu. Sedangkan Diantemi yang berada di peringkat 4 terpaut 100 point dari Kasian. Malam sudah larut, dan mereka sudah lelah, sehingga mereka memutuskan untuk mengejar ketertinggalan mereka keesokan harinya. Mereka juga teringat pesan Waver agar tidka merubah gaya trading mereka.
Jumat, pagi-pagi sekali murid-murid Waver sudah bangun. Setelah melakukan meditasi, Kasian dan Diantemi segera menghampiri komputer mereka untuk memulai trading dan mengejar ketertinggalan point. Sementara Tum Pah Kan dan Siskamling masih berada di ruang meditasi sambil melanjutkan dukungan untuk kedua orang temannya melalui doa.
Jumat, lewat tengah hari. Perbedaan point antara kedua orang murid Waver dan peringkat di atasnya sedikit menyempit. Kasian terpaut 230 point dari peringkat kedua, terpaut 457 point dari peringkat kesatu. Sedangkan Diantemi terpaut 70 point dari Kasian.
Jumat, malam hari. Menjelang sesi New York, Kasian dan Diantemi mendapatkan peluang yang bagus di beberapa pair dan mereka mampu membuka posisi yang searah dengan pergerakan harga. Beberapa jam setelah sesi London berakhir, posisi Kasian semakin membaik dengan jarak yang semakin menipis dengan posisi kedua. Kini jarak mereka hanya sekitar 100 point, dan jarak antara peringkat kesatu dan ketiga terpaut hanya 250 point. Diantemi semakin mendekati Kasian dan kini hanya berbeda 11 point.
Setelah sesi London berakhir, Kasian dan Diantemi membuat analisa dan memprediksi bahwa bebrapa pair akan kembali melanjutkan trendnya. Tapi mereka ragu. Kasian ragu apakah akan tetap menahan posisinya terbuka, apakah menutup sekarang juga sebelum akhirnya profit berkurang. Dalam benaknya, saat ini dia masih bisa mendapatkan posisi ketiga. Jika profit berkurang kemungkinan dia akan jatuh ke peringkat keempat atau bahkan kelima. Tapi seandainya dia bertahan dengan posisi saat ini, itu berarti Diantemi tidak mendapat posisi di tiga besar. Keraguan melanda hatinya dan mengganggu pikirannya.
Sama halnya dengan Diantemi, dia merasa ingin mengejar ketertinggalan dengan mempertahank posisi yang dia buka saat ini dan menambah lagi beberapa posisi sesuai jumlah maksimal order yang diperbolehkan dalam kontes. Tapi dia khawatir kalo posisi yang dia buka justru membuat posisi Kasian tersingkir dari peringkat ketiga. Tapi jika dia tidak membuka posisi, ada kemungkinan peluangnya untuk masuk ke peringkat ketiga akan semakin sulit. Dia berpikir, siapa tahu peringkat kedua tidak mengambil kesempatan ini dan pointnya bisa diungguli Kasian. Dan dia ingin berada di peringkat ketiga ketika Kasian mampu mengambil alih peringkat kedua atau bahkan kesatu.
Ketika kegundahan mengusik hati kedua murid Waver. Mereka tiba-tiba teringat akan pelajaran meditasi yang diberikan Guru mereka. Mereka segera melakukan meditasi sejenak untuk menentukan pilihan. Mereka tenangkan hati mereka, dan seketika itu pula jawaban mereka dapatkan. Mereka berdua memutuskan untuk tetap membiarkan posisi yang ada saat ini dan membuka posisi baru sesuai dengan jumlah maksimal order yang diperbolehkan.
Jumat, satu jam sebelum kontes berakhir. Pilihan yang diambil kedua murid Waver ternyata tepat. Mereka mampu memaksimalkan profit ketika harga kembali melanjutkan trendnya. Kasian dan Diantemi merasa sangat bahagia karena mereka mampu mendapatkan profit yang jika mereka bandingkan dengan keadaan sebelumnya, maka Kasian telah berhasil melewati point dari peringkat kedua dan kesatu. Diantemi juga berhasil melampuai peringkat ketiga dan kedua. Hanya saja, mereka belum begitu yakin apakah kedua konsestan lainnya tetap bertahan dengan point yang ada atau mereka juga mampu menghasilkan profit dari kondisi saat ini.
Untuk meyakinkan diri, mereka membuka website resmi dari kontes yang mereka ikuti. Dalam benak mereka, mereka akan segera meng-klik menu yang menampilkan hasil akhir point dari kontes yang mereka ikuti. Tanpa basa basi mereka segera mengetikkan alamat web pada address bar browser masing-masing, lalu klik Enter.
Sayang, karena banyaknya orang yang mengakses website tersebut, maka untuk sementara website belum bisa dibuka. Website yang mereka sangat ingin untuk melihatnya baru bisa diakses lagi pada hari senin sekaligus menampilkan pengumuman dari kontes tahap pertama.
Kasian: “
hah, ga bisa diakses???”
Diantemi : “
yah, belum bisa dibuka ya…hikz…”
Diantemi : “
ayo…jangan lola donk…”
Kasian : “
kok aku jadi berdebar-debar gini…”
Setelah ditunggu selama kurang dari satu menit, website yang mereka buka akhirnya termuat seluruhnya. Di halaman depan website dengan desain menarik itu langsung menampilkan hasil dari demo kontes tahap pertama. Hasilnya adalah sebagai berikut.
1st : Kasian
2nd : Kalasahnikov
3rd : Diantemi
Kasian : “Terimakasih Tuhan, terimakasih guru…
”
Diantemi : “Yuhu… lima ribu dollaaaaar…
”
Tidak lama kemudian Siskamling, Tum Pah Kan, dan Waver masuk ke dalam kelas.
Waver : “Selamat, selamat…untuk kalian berdua
”
Kasian : “Ah, guru bisa saja…ini kan berkat ilmu yang guru ajarkan pada kami…
”
Tum Pah Kan : “Keren…
mantep dech…kalian memang hebat, selamat ya…”
Siskamling : [memeluk Diantemi] “Selamat temanku, aku tahu kamu bisa…
”
Diantemi : “Ini juga karena doamu dan Tum kan…hehe…”
Waver : “Jangan lupa…banyak-banyaklah bersyukur. Siska dan Tum bersyukur karena ada pelajaran berharga yang kalian dapatkan dari kontes tahap pertama ini. Sedangkan Dian dan Ian bersyukur karena kemenangan yang kalian dapatkan. Apa yang Dian dan Ian capai hari ini, bukan semata-mata karena ilmu yang aku sampaikan, bukan semata-mata karena kerja keras kalian saja. Tapi harus diingat, ini semua karena kasih sayang dari Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kembalikanlah rasa bahagia dan syukur kalian, kembalikanlah segala pujian hanya pada Zat Yang Maha Terpuji. Kenapa aku berkata begini?”
Murid : “
”
Waver : “Aku berkata begini bukan ingin merusak kebahagiaan yang telah kalian raih. Justru aku ingin kalian semua lebih sadar siapa sebenarnya dibalik kebahagiaan yang kalian rasakan saat ini. Jadi apapun pujian yang akan kalian dapatkan nantinya, kalian sadar bahwa pujian itu hanya milik Zat Yang Maha Terpuji. Dengan begitu, hati kalian akan lebih terbebas dari rasa tinggi hati, dari rasa sombong…kalian juga tidak akan marah atau kecewa jika kerja keras kalian tidak mendapat pujian karena memang kalian tidak mencari pujian itu, biarlah Dia Yang Maha Terpuji tempat bermuara segala pujian…begitu maksudnya, jadi apapun yang kalian lakukan, apapun yang kalian alami, pujian, celaan, senang, bahagia, kalian akan tetap tenang dan kalian selalu melibatkan Dia dalam perjalanan hidup ini. Kalian paham kan maksud saya?”
Murid : “Kami mengerti Guru…
”
Waver : “Siiipp…hari ini, kalian masih bebas tugas, sekarang kita rayakan semua yang telah kita lalui. Saatnya makan-makan…”
Murid : “Horeeee…asyyyiiiikk…”
Siskamling : “Ehm…
”
Tum Pah Kan : “Ya…”
Siskamling : “Mmmm…Dian dan Ian sedang membicarakan kemenangan mereka, kita juga harus mempersiapkan untuk kontes berikutnya.”
Tum Pah Kan : “Benar…kamu sudah ada persiapan apa? Robot baru?”
Siskamling : “Belum ada…masih bingung neeh…kamu sendiri?”
Tum Pah Kan : “Sama donk, aku juga belum tahu harus bagaimana. Seperti yang pernah aku katakan, atmosfir kontes sepertinya kurang cocok dengan gaya tradingku.”
Siskamling : “Hm…iya ya…”
Pecicilan : [masuk kelas] “Tenang, aku akan bantu kalian…
”
Tum Pah Kan dan Siskamling : “Wah…Guru Cici…”
Di ruang keluarga…
Kasian : “Hehehe…waktu awal kontes ini aku memang sedikit ragu. Untungnya aku teringat terus nasihat-nasihat dari Guru, jadi bisa lebih tenang dech…”
Diantemi : “Iya, aku juga tidak begitu yakin bisa sampai di posisi ketiga, hm…senangnya…apa yang Guru sampaikan memang hebat.”
Kasian : “Iya donk, siapa dulu, pertapa forex…heuheuheu…”
Diantemi : “Eh…Tum sama Siska kemana?”
Waver : “Mereka sedang di ruang kelas. Sepertinya mereka mempersiapkan diri untuk kontes selanjutnya ditemani istriku…”
Kasian : “Oh…begitu…”
Diantemi : “Tapi…sepertinya kalo mereka harus mengikuti kontes itu lagi, akan memakan waktu lama sebelum mereka bisa live trading. Iya kan Guru?”
Waver: “Iya, tiga bulan, sama seperti sebelumnya…”
Kasian : “Iya yah…lama juga, sedangkan kita sudah bisa live trading dari hasil itu…”
Diantemi : “Mmmm…bagaimana kalo kita bagi saja hasilnya?”
Kasian : “Ah…iya ya? Lagi pula hadiah yang kita dapat banyak juga…”
Waver : “Dian, kamu yakin ingin berbagi?”
Kasian : “Iya Dian, kamu yakin? Bukannya dulu kamu yang paling bersemangat buat jadi kaya, hehe…”
Diantemi : “Iya…juara tiga kan dapatnya besar juga. Kalo dibagi dua atau tiga juga masih banyak kok. Aku masih bisa kaya walaupun hasilnya aku bagi, hehe…”
Kasian : “Wah, hebat…Dian sudah berubah neeh, he…bagaimana kalo hadiah yang kita dapat kita jadikan satu saja, lalu kita bagi empat secara merata ? “
Diantemi : “Boleh-boleh…bagus juga idenya, hehe…”
waver : [tepuk tangan sambil mendekati kedua muridnya]“Bagus, sebetulnya itu yang aku inginkan dari semula. Aku tahu bahwa kontes ini hanya menyediakan tiga posisi untuk mendapatkan hadiah. Jadi sekalipun kalian berempat berada pada posisi empat besar, salah satu harus tersisih dan tidak punya kesempatan mendapatkan hadiahnya. Nah, dari situlah aku ingin melihat seberapa besar kepedulian kalian terhadap teman dekat kalian sendiri, apakah rasa persaingan itu akan meluluhkan rasa persahabatan yang telah kalian jalin selama ini. Dan ternyata, kalian berhasil mempertahankan perasaan dan kelembutan hati tanpa harus aku beri masukan, hebat…
”
Kasian : “Ini juga berkat Guru yang selalu mengajarkan kami akan kelembutan hati, hehehe…”
Diantemi : “Betul Guru…he…kemenangan kami, adalah kemenangan kita semua, kemenangan Siska, Tum, dan Guru juga…tapi…”
Waver : “Tapi…?”
Diantemi : “Tapi…Guru sepertinya tidak perlu dikasih bagian hadiahnya dech, kan Guru sudah bisa trading sendiri, hahahaha…
”
Kasian : “Huwahahahaha…ada-ada aja...betul, Guru tidak usah, hahaha…
”
Waver : “Tidak usah, kalian bagi berempat saja, pertapa forex gitu loh…
heuheuheu…
”
Kasian dan Diantemi : “Hahaha…”
Tiga hari kemudian hadiah dari kontes sampai di perguruan KG Forex World. Diantemi dan Kasian telah memutuskan untuk berbagi hadiah dari hasil kemenangan mereka. Siskamling dan Tum Pah Kan merasa sangat terharu sekaligus bahagia. Mulai minggu depan, mereka akan bersama-sama ber-trading dengan menggunakan live account.





